Kemarau Jatim Belum Usai, Ini Dampaknya bagi Kesehatan dan Sanitasi

Kemarau Jatim Belum Usai, Ini Dampaknya bagi Kesehatan dan Sanitasi

Fathir Rofi - detikJatim
Sabtu, 03 Okt 2026 12:00 WIB
Ilustrasi Musim Kemarau
Ilustrasi kekeringan akibat kemarau. Foto: Getty Images/iStockphoto/happy8790
Surabaya -

Fenomena iklim ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Jawa Timur, memberikan efek domino ke mana-mana. Kekeringan panjang tidak hanya mengurangi ketersediaan air bersih, tetapi juga dapat mengganggu operasional fasilitas publik, aktivitas ekonomi, dan kesehatan masyarakat.

Puncak kemarau diprakirakan berlangsung hingga akhir November, dengan peningkatan curah hujan yang mulai terjadi secara bertahap pada Desember. Namun, peralihan musim ini tidak berlangsung bersamaan di seluruh wilayah.

Pemicu Utama Kemarau Panjang

Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani menjelaskan kemarau yang berlangsung lebih lama tahun ini dipengaruhi fenomena El Nino yang cukup kuat dan terjadi bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) fase positif.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kedua fenomena tersebut turut mempengaruhi pola pembentukan awan dan curah hujan di Indonesia. Kondisi ini menyebabkan musim kemarau berlangsung lebih panjang dan musim hujan datang lebih lambat dibandingkan kondisi normal.

"Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia, sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat," tegas Faisal dikutip dari laman BMKG pada Selasa (22/9/2026).

ADVERTISEMENT

Hujan Sesaat Bukan Penanda Kemarau Usai

Hujan deras yang turun sesaat atau munculnya awan tebal pada sore hari tidak selalu menandakan musim kemarau telah berakhir. Kondisi tersebut bisa saja terjadi meski suatu wilayah masih berada dalam periode kemarau.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan suatu wilayah baru dapat dikatakan memasuki musim hujan apabila curah hujan mencapai minimal 50 milimeter dalam satu dasarian atau 10 hari, kemudian kondisi basah tersebut berlanjut pada dua dasarian berikutnya.

Meski diprediksi berlangsung lebih singkat, musim hujan 2026/2027 secara umum diperkirakan berada dalam kondisi normal di 510 ZOM atau sekitar 69,76 persen luas daratan Indonesia.

Sementara itu, 147 ZOM atau 18,55 persen luas daratan Indonesia diperkirakan mengalami curah hujan lebih tinggi. Adapun 42 ZOM lainnya atau sekitar 11,69 persen diprediksi mengalami curah hujan lebih rendah atau lebih kering.

Sementara itu, menurut prakiraan BMKG, hujan yang sesekali turun di tengah kemarau umumnya dipengaruhi kondisi cuaca lokal, seperti topografi pegunungan dan kelembapan udara, bukan berarti pola musim telah berubah.

Efek Domino Krisis Air pada Kesehatan

Keterbatasan air bersih dapat mengganggu aktivitas seperti mencuci tangan, membersihkan bahan makanan, dan menjaga kebersihan rumah. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada anak-anak dan lansia. Beberapa masalah kesehatan yang dapat muncul antara lain sebagai berikut.

  • Penggunaan air yang tercemar untuk minum atau memasak dapat menyebabkan infeksi seperti diare dan kolera.
  • Kurangnya air untuk mandi dan membersihkan diri dapat meningkatkan risiko infeksi jamur, gatal, dan ruam pada kulit serta iritasi dan infeksi mata.
  • Kurangnya asupan cairan dapat menyebabkan rasa haus, mulut kering, urine gelap, tubuh lemas, penurunan tekanan darah, hingga gangguan fungsi kognitif.
  • Kekurangan cairan juga dapat mengganggu proses penyaringan darah dan meningkatkan risiko batu ginjal, infeksi saluran kemih, serta penurunan fungsi ginjal.
  • Sanitasi yang buruk dapat meningkatkan risiko infeksi berulang. Kondisi tersebut mengganggu penyerapan nutrisi dan meningkatkan risiko stunting pada anak.
  • Tipes karena bakteri Salmonella typhi yang dapat menyebar melalui air atau makanan yang terkontaminasi.
  • Bakteri atau parasit penyebab disentri dapat menyebar di lingkungan dengan akses air bersih dan sanitasi yang terbatas.
  • Virus polio dapat menyebar melalui air yang terkontaminasi tinja penderita. Air yang tidak higienis menjadi salah satu jalur penularannya.
  • Virus Hepatitis A dapat menular melalui konsumsi air dan makanan yang tercemar akibat sanitasi yang buruk.
  • Keterbatasan air untuk menjaga kebersihan lingkungan dapat meningkatkan risiko paparan telur cacing.

Langkah Pencegahan dan Mitigasi

Untuk mengurangi risiko kesehatan karena pasokan air terbatas selama musim kemarau panjang, masyarakat dapat melakukan beberapa langkah pencegahan dan mitigasi sebagai berikut.

  • Pastikan air untuk minum dan memasak direbus hingga mendidih atau diproses menggunakan filter yang sesuai.
  • Gunakan air secukupnya dan prioritaskan untuk minum serta kebutuhan sanitasi dasar selama pasokan terbatas.
  • Jaga kebersihan di sekitar sumur atau mata air dan hindari membuang sampah maupun limbah rumah tangga ke sungai atau danau.
  • Gunakan fasilitas toilet yang layak dan kelola limbah dengan benar agar tidak mencemari sumber air.
  • Penanaman pohon dan pemeliharaan ruang terbuka hijau dapat membantu meningkatkan penyerapan air ke dalam tanah.
  • Bersama-sama menjaga kebersihan saluran air dan meningkatkan penerapan perilaku hidup bersih meski dalam kondisi keterbatasan air.

Kapan Musim Hujan 2026/2027 Mulai?

Prediksi terbaru BMKG menunjukkan awal musim hujan 2026/2027 datang lebih lambat dibandingkan rata-rata klimatologis di banyak wilayah Indonesia. Sebanyak 529 ZOM atau 61,08 persen luas daratan Indonesia diprediksi mengalami awal musim hujan yang mundur.

Sementara itu, 185 ZOM atau 24,66 persen luas daratan diprediksi mulai memasuki musim hujan pada November 2026, kemudian 266 ZOM atau 17,31 persen pada Desember 2026. Namun, angka tersebut merupakan gambaran nasional. Jawa Timur tidak otomatis mengalami pergantian musim pada waktu yang sama.

Menurut prediksi BMKG, sebagian besar Jawa mengalami awal musim hujan secara bertahap. Analisis curah hujan BMKG juga menunjukkan sebagian wilayah Jawa Timur masih berpeluang mengalami curah hujan kurang dari 50 milimeter per bulan pada November 2026.

Kenapa Kemarau 2026 Berlangsung Panjang?

Salah satu faktor yang diperhatikan BMKG adalah El Nino. Pada 22 September 2026, BMKG menyatakan El Nino berada pada intensitas sangat kuat. Pemantauan suhu muka laut di wilayah Nino3.4 pada akhir Agustus mencapai +2,83.

Sedangkan, indeks ENSO periode Juli-Agustus-September mencapai +2,63. Pada saat yang sama, indeks IOD Agustus berada di +0,376 dan berpeluang berkembang menuju fase positif hingga akhir 2026. Kondisi tersebut mempengaruhi pola curah hujan di Indonesia.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan dapat memperpanjang periode kekeringan sehingga musim hujan datang lebih lambat. BMKG juga memprediksi kondisi El Niño masih bertahan hingga awal 2027.

"Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat," kata Faisal.



(ihc/irb)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads