Bisa Tetas 80 Telur, Peternak Lamongan Ciptakan Mesin Tetas USB

Bisa Tetas 80 Telur, Peternak Lamongan Ciptakan Mesin Tetas USB

Eko Sudjarwo - detikJatim
Jumat, 02 Okt 2026 14:45 WIB
Peternak asal Lamongan, Bagus Khafiludin
Peternak asal Lamongan, Bagus Khafiludin (Foto: Eko Sudjarwo/detikJatim)
Lamongan -

Bagi peternak ayam kampung pemula, memiliki mesin penetas telur bisa menjadi tantangan tersendiri. Harga mesin yang relatif mahal membuat sebagian peternak memilih membeli bibit ayam dibanding menetaskan telur dari indukan sendiri.

Kondisi itulah yang kemudian mendorong Bagus Khafiludin, peternak ayam kampung petelur asal Lamongan, berinovasi. Dia menciptakan mesin penetas telur berbasis USB yang diklaim lebih hemat energi dan terjangkau bagi peternak pemula.

Ide tersebut berawal dari keluhan para mitra yang sebelumnya membeli Day Old Chick (DOC) atau bibit ayam dari Bagus. Setelah ayam tumbuh menjadi indukan dan mulai menghasilkan telur, para peternak ingin mengembangkan sendiri populasi ayamnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, keinginan tersebut terbentur harga mesin penetas yang dinilai masih cukup mahal. "Awalnya ini dari keluhan mitra. Mereka ingin mengembangkan sendiri dari indukan untuk menetaskan telur, tetapi kalau menggunakan mesin tetas harganya mahal," kata Bagus.

Dari persoalan itu, Bagus kemudian mencoba membuat mesin tetas dengan sistem kelistrikan yang lebih sederhana. Mesin tersebut diberi nama mesin tetas USB karena sumber dayanya bisa berasal dari power bank maupun adaptor telepon seluler.

ADVERTISEMENT

Secara prinsip, mesin buatan Bagus bekerja seperti mesin penetas telur pada umumnya. Bedanya, sistem kelistrikannya dimodifikasi dari arus alternating current (AC) menjadi direct current (DC). Dengan konsumsi daya sekitar 13-15 watt, mesin tersebut mampu menampung sekitar 70-80 butir telur. Harganya pun dibuat relatif terjangkau, yakni sekitar Rp 300 ribu per unit.

Bagus mengatakan, penggunaan daya rendah menjadi salah satu keunggulan mesin tersebut. Selain lebih hemat listrik, sistem tersebut juga memungkinkan mesin tetap digunakan ketika listrik rumah padam. "Kalau listriknya mati, bisa pakai power bank. Prinsip kerjanya sama, hanya jalur termostatnya kami modifikasi agar lebih hemat dan mudah digunakan," ujarnya.

Untuk telur ayam, proses penetasan umumnya membutuhkan waktu sekitar 21 hari. Namun, Bagus mengingatkan keberhasilan penetasan tidak semata-mata ditentukan oleh mesin. Kualitas telur, kondisi indukan, pakan, pejantan hingga cuaca ikut memengaruhi hasil penetasan.

Berdasarkan pengalaman pelanggan yang menggunakan mesin tersebut, tingkat keberhasilan penetasan disebut dapat mencapai sekitar 90 persen. Dari 50 telur yang ditetaskan, sekitar 45-47 telur dapat menetas.

Sebelum membuat mesin berukuran kecil berbasis USB, Bagus juga telah mengembangkan mesin penetas model kulkas dengan kapasitas hingga sekitar 300 butir telur. Namun, harga mesin berkapasitas besar tersebut mencapai Rp 2 juta-Rp 3 juta. Bagi peternak yang baru memulai usaha, biaya itu dinilai masih cukup berat.

Karena itu, Bagus memilih menghadirkan mesin berukuran lebih kecil dengan harga yang lebih ramah bagi pemula. "Kalau untuk peternak pemula, kami ingin membuat yang sederhana dulu. Dengan modal sekitar Rp 300 ribu sudah bisa punya mesin tetas sendiri," jelasnya.

Bagi Bagus, mesin tersebut bukan sekadar alat untuk menetaskan telur. Inovasi itu menjadi bagian dari upayanya membangun ekosistem peternakan ayam kampung di Lamongan. Bagus bersama timnya membagi pengembangan usaha di empat wilayah, yakni Sugio, Sukodadi, Karanggeneng dan Kalitengah.

Masing-masing wilayah memiliki fokus berbeda, mulai dari produksi telur konsumsi, pembibitan, pembesaran ayam hingga pemasaran. Mesin tetas USB buatannya pun mulai digunakan oleh pelanggan di luar Lamongan. Beberapa di antaranya berada di Pasuruan, Malang hingga Jawa Tengah.

Meski pasar mulai meluas, Bagus mengaku tetap memprioritaskan peternak di Lamongan. Alasannya sederhana. Dia ingin memastikan para pengguna tidak hanya membeli alat, tetapi juga mendapatkan pendampingan ketika mengalami kendala. "Kalau di luar kota, kalau ada kerusakan paling kami bantu melalui video call. Kalau di Lamongan, kami bisa lebih mudah mendampingi," katanya.

Menurut Bagus, pola pendampingan tersebut penting terutama bagi peternak pemula yang baru belajar menetaskan telur secara mandiri. Ke depan, Bagus berharap inovasi tersebut bisa membuka lebih banyak peluang bagi masyarakat yang ingin memulai usaha peternakan ayam kampung dengan modal terbatas.

Dia juga berharap ekosistem peternak lokal yang sedang dibangun dapat berkembang menjadi bagian dari rantai pasok pangan daerah, termasuk mendukung kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Untuk saat ini, kolaborasi dengan program MBG memang belum terjalin. Namun, tim telur konsumsi yang dikembangkan Bagus mulai membangun kerja sama tahap awal dengan Toserba Paciran untuk memperluas pemasaran telur produksi peternak lokal.

Bagi Bagus, semakin banyak peternak yang mampu menghasilkan bibit dan telur sendiri, semakin kuat pula ekosistem peternakan rakyat yang dibangun dari tingkat desa.

Mesin tetas USB itu menjadi salah satu upaya kecilnya: membuat teknologi penetasan telur lebih mudah dijangkau, sehingga peternak pemula tidak harus mengeluarkan modal besar untuk mulai berkembang.



(auh/abq)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads