Bulan Oktober merupakan bulan yang istimewa bagi para santri di Indonesia. Pasalnya, pada bulan ini, eksistensi dan sumbangsih santri dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia diakui melalui penetapan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri.
Dalam memperingatinya, berbagai kegiatan digelar untuk memeriahkannya. Selain memperingati dengan berbagai kegiatan, penting untuk memaknai sosok santri dalam perannya melakukan jihad pada masa kini.
Penetapan ini bukan tanpa alasan, pada tanggal tersebut di tahun 1945, KH Hasyim Asy'ari mencetuskan Resolusi Jihad yang menggerakkan santri dan ulama untuk mempertahankan kemerdekaan dari ancaman penjajahan kembali oleh Belanda yang membonceng tentara Sekutu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seruan ini memuncak pada pertempuran besar di Surabaya tanggal 10 November 1945, yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan. Mengacu pada sejarah itu, pemerintah menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015.
Contoh Khutbah Jumat tentang Santri
Momen ini sering dijadikan tema khutbah Jumat, baik mendekati tanggal peringatan maupun sebagai pengingat sepanjang tahun akan peran santri dalam sejarah dan kehidupan berbangsa.
Berikut lima contoh naskah khutbah Jumat bertema santri yang bisa menjadi referensi para khatib, mengangkat sudut pandang yang berbeda-beda: dari makna kata santri, sejarah jihad, profil santri masa kini, kekuatan yang harus dimiliki santri, hingga semangat cinta tanah air.
Khutbah 1: Memaknai Makna Santri dalam Ilmu dan Akhlak
Sumber: Majelis Tabligh PWM Jateng
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَاهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Sidang Jumat Rahimakumullah
Pada kesempatan yang berbahagia ini, marilah kita senantiasa memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT. atas segala rahmat dan nikmat-Nya, khususnya nikmat Iman dan Islam sehingga kita dapat melaksanakan shalat Jum`at dengan berjama`ah. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Agung Muhammad SAW., keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Sebagai khatib, saya berwasiat kepada diri saya sendiri dan jama`ah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, dengan senantiasa menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Sidang Jum`at Rahimakumullah
Tanggal 22 Oktober dikenal dengan hari santri. Kurang lebih seminggu yang lalu kita baru saja memperingatinya. Baik dengan upacara, perlombaan ataupun bentuk lainnya sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.
Dalam tradisi Islam di Indonesia, sebutan "Santri" merujuk pada seseorang yang menuntut ilmu agama, khususnya di lembaga pesantren. Santri adalah pewaris tradisi keilmuan Islam, penerus perjuangan ulama, dan pilar penjaga moral bangsa.
Di era kini, definisi santri semakin meluas. Santri bukan hanya mereka yang bersarung dan tinggal di pondok pesantren, namun setiap muslim yang memiliki semangat mendalam dalam menuntut ilmu, berakhlak mulia, dan berkontribusi positif bagi masyarakat, agama, dan negara.
Lantas, bagaimana profil ideal santri masa kini? Ada beberapa indikator yang patut menjadi perhatian. Pertama: Kuat dalam Ilmu Agama (religius) dan Ilmu Umum (intelektual). Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an, Surat Al-Mujadalah ayat 11:
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
Artinya: "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Mujadalah: 11).
Santri masa kini harus menjadi pribadi yang haus akan ilmu, baik ilmu agama sebagai bekal utama di akhirat, maupun ilmu umum sebagai modal untuk berinteraksi, memimpin, dan membangun peradaban dunia.
Kita tidak boleh menjadi umat yang gaptek (gagap teknologi), justru ilmu-ilmu umum harus kita kuasai dengan landasan iman yang kokoh.
Sidang Jum`at Rahimakumullah
Kedua: Mengedepankan Akhlakul Karimah (beradab). Ilmu tanpa adab ibarat api tanpa kayu bakar, tidak bermanfaat secara maksimal. Santri sejati selalu mengedepankan adab dan budi pekerti di atas ilmu. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW.:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
Artinya: "Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak." (HR. Al-Bukhari).
Seorang santri harus memiliki akhlak yang mulia serta tawadhu' (rendah hati) kepada guru dan orang tua, menghormati sesama, menjaga lisan, dan menjauhi perilaku tercela, khususnya di ruang publik maupun media sosial.
Ketiga: Memiliki Semangat Nasionalisme dan Toleransi. Santri masa kini adalah pewaris semangat resolusi jihad para ulama. Perjuangan mereka tidak lagi dominan mengangkat senjata, tetapi berjuang di berbagai lini kehidupan: ekonomi, politik, pendidikan, teknologi, dan sosial budaya.
Santri harus menjadi agen persatuan, perekat kebangsaan, dan penyejuk di tengah perbedaan. Mereka harus aktif menjaga nilai-nilai Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. Semangat ini diwujudkan dengan menyebarkan Islam yang Rahmatan Lil 'Alamin, Islam yang damai dan toleran.
Sidang Jum`at Rahimakumullah
Untuk itu, mari kita jadikan momentum ini untuk bertekad menjadi santri sejati. Santri yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mengamalkan ajaran, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya umat. Inilah jihad santri masa kini yang hidup di era modern.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ تَعْظِيْمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
Sidang Jum`at Rahimakumullah
Pada momen yang indah ini, marilah kita sekali lagi memperkokoh iman dan takwa kita. Sesungguhnya bekal terbaik di sisi Allah SWT adalah takwa. Kemudian, berkaitan dengan hari santri, perlu kami ingatkan pada semua santri masa kini agar senantiasa mengedepankan ikhlas dalam Niat, istiqamah dalam amal, dan luas dalam kontribusi untuk sesama.
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا حَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ. رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا وَأَوْلَادَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا مِنَ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِيْنَ وَالْأَخْيَارِ الْمُتَّقِيْنَ وَالْمُخْلِصِيْنَ الْمُنْفِعِيْنَ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.
Khutbah 2: Memaknai Kata 'Santri' dalam Setiap Hurufnya
Sumber: NU Online, Sekretaris PCNU Kabupaten Pringsewu LampungH Muhammad Faizin
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا، أَشْهَدُ أَنْ لَاإِلٰهَ إِلَّااللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ وأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَاۤفَّةًۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَاۤىِٕفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْٓا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَࣖ
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati oleh Allah Mengawali khutbah Jumat ini, tiada lain dan tiada bukan, khatib berwasiat pada diri khatib pribadi dan juga jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan dan menguatkan ketakwaan kita kepada Allah swt.
Barometer ketakwaan yang bisa kita lihat dan rasakan adalah meningkatnya kemampuan untuk menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Mari kita tanyakan kepada hati dan sanubari kita, sudahkah kita menjalankan perintah-perintah Allah?
Sudahkan kita meninggalkan semua larangan-Nya? Semakin kuat dalam ketakwaan, kita akan menjadi pribadi yang taat dan senantiasa berada bersama orang-orang yang benar. Allah swt berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tetaplah bersama orang-orang yang benar!" (QS At-Taubah: 199).
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati oleh Allah Pada kesempatan kali ini, khatib mengajak kepada kita semua untuk meningkatkan rasa syukur atas anugerah kedamaian yang bisa kita rasakan di bumi Indonesia.
Syukur ini bisa kita lakukan dengan berterima kasih kepada para pendahulu kita yang telah berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Di antara elemen bangsa yang ikut menjadi bagian penting terwujudnya kemerdekaan adalah para santri.
Mereka memiliki peran penting dalam perkembangan Islam dan kebangsaan di Indonesia sehingga pemerintah menetapkan bulan ini sebagai Hari Santri tepatnya pada tanggal 22 Oktober.
Hari Santri di Indonesia ditetapkan sebagai bukti dan penghargaan pada kontribusi besar para santri dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Ini bermula, pada tanggal 22 Oktober 1945, KH Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama, mengeluarkan Resolusi Jihad yang menyerukan kepada santri dan umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman penjajahan Belanda yang ingin kembali berkuasa setelah kekalahan Jepang.
Resolusi Jihad ini memicu perjuangan berupa pertempuran besar di Surabaya, yang puncaknya terjadi pada 10 November 1945, dan kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Pertempuran tersebut dipimpin oleh para ulama dan santri yang bergerak bersama masyarakat untuk melawan pasukan kolonial. Peran santri dan ulama dalam perjuangan ini begitu besar sehingga menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah kemerdekaan Indonesia.
Mengaca pada sejarah tersebut, pada tanggal 22 Oktober 2015, pemerintah secara resmi menetapkan Hari Santri melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015. Hari Santri diharapkan menjadi momen untuk mengingat kembali pentingnya peran santri dalam pembangunan bangsa, baik di masa lalu, sekarang, maupun di masa yang akan datang.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati oleh Allah Jika para santri dulu berjuang mengangkat senjata, lalu bagaimana dengan perjuangan santri di era saat ini? Kemudian, siapakah yang disebut dengan santri itu sendiri?.
Mengutip penjelasan dari KH Mustofa Bisri (Gus Mus), santri memiliki definisi yang luas. Menurutnya, santri adalah murid kiai yang dididik dengan kasih sayang untuk menjadi mukmin yang kuat.
Santri juga adalah orang-orang yang mencintai negaranya, sekaligus menghormati guru dan orang tuanya kendati keduanya telah tiada. Santri adalah mereka yang dan menghargai tradisi-budayanya.
Santri adalah mereka yang memiliki kasih sayang pada sesama manusia dan pandai bersyukur, mencintai ilmu dan tidak pernah berhenti belajar. Santri adalah mereka yang berprinsip bahwa agama adalah anugerah dan wasilah mendapat ridha Allah swt.
Dari penjelasan ini, mudah-mudahan kita termasuk sebagai santri yang memiliki perjuangan luas agar bisa menjadi orang yang memberi manfaat kepada orang lain. Hal ini selaras dengan hadits Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan dari Jabir berikut:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Artinya: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (lainnya)."
Untuk mewujudkan hal ini, para santri harus memaknai eksistensinya dalam berkiprah di tengah-tengah masyarakat. Setidaknya, huruf-huruf yang ada dalam kata Santri itu sendiri bisa menjadi inspirasi. Huruf S,A,N,T,R, dan I bisa kita maknai dan menjadi motivasi bagi santri.
Huruf pertama adalah S yang bisa kita maknai sebagai Sukses. Santri harus menjadi sosok yang sukses dalam berbagai aspek kehidupan. Sukses di sini tidak hanya diukur dari materi, tetapi juga dari kemampuan santri dalam berkontribusi positif di masyarakat.
Pesantren telah melatih santri untuk menjadi pribadi ulet, tangguh, serta memiliki kecerdasan intelektual, emosional, serta spiritual. Dengan kecerdasan yang utuh ini, santri mampu membangun lingkungan sosial yang baik dan memberikan manfaat di berbagai sektor kehidupan seperti pendidikan, ekonomi, agama, dan kemasyarakatan serta sektor-sektor lainnya.
Selanjutnya huruf kedua adalah A yang bisa dimaknai Aktif. Santri harus aktif memberi manfaat di berbagai sektor kehidupan. Santri berperan sebagai agen perubahan, baik dalam pendidikan, sosial, ekonomi, hingga politik.
Santri diharapkan tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga berperan aktif dalam menciptakan kemaslahatan di masyarakat. Santri harus aktif dengan menjadi bagian penting dalam berbagai bidang kehidupan dan mampu mewarnainya dengan menjadi penentu kebijakan.
Huruf ketiga adalah N yang bisa kita maknai sebagai Nasionalis. Santri harus memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi. Santri mencintai dan membela tanah air dengan segenap jiwa raga. Santri adalah penjaga PBNU (Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945). Santri harus terus mempertahankan nilai-nilai kebangsaan dan kerukunan dalam keberagaman.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati oleh Allah Selanjutnya adalah huruf T yang bisa dimaknai sebagai Toleran. Santri selalu mengedepankan sikap toleran dalam kehidupan sehari-hari. Toleransi adalah menghargai perbedaan, baik perbedaan agama, keyakinan, budaya, maupun pendapat.
Santri menghormati kebebasan beragama dan memberikan ruang bagi semua orang untuk menjalankan keyakinannya dengan damai. Dengan sikap ini, santri mampu menciptakan lingkungan yang harmonis di tengah kemajemukan bangsa Indonesia.
Hal ini selaras dengan firman Allah dalam surat Al-Hujurat ayat 13:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Artinya: "Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti."
Selanjutnya huruf yang kelima adalah R yang bermakna Religius. Santri adalah sosok yang religius dan melandaskan setiap tindakan pada ajaran agama Islam. Santri menjadikan agama sebagai pedoman hidup, dengan ibadah sebagai prioritas utama.
Nilai-nilai yang dipelajari di pesantren, seperti kesederhanaan, kejujuran, dan keteguhan dalam beribadah, dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Santri juga memegang prinsip moderasi, tidak ekstrem dalam beragama, dan menghindari tindakan kekerasan yang mengatasnamakan agama.
Dan yang terakhir adalah huruf I yang bermakna Inspiratif. Santri harus menjadi sosok inspiratif bagi masyarakat sekitarnya yang mampu menebarkan kebaikan, memberi teladan, dan menjadi contoh yang baik dalam berbagai aspek kehidupan.
Dengan akhlak dan ilmu yang dimiliki, santri bisa menginspirasi orang lain untuk turut serta dalam melakukan kebaikan. Santri yang inspiratif juga mampu menebarkan aura positif yang mendukung terselenggaranya kebaikan.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati oleh Allah Dengan memaknai setiap huruf dalam kata Santri dan mengingat kembali sejarah penetapan Hari Santri ini, maka mari kita semua berupaya untuk menjadi pribadi sukses, aktif, nasionalis, toleran, religius, dan inspiratif dalam membangun masyarakat yang lebih baik. Semoga kita bisa mewujudkannya. Selamat Hari Santri.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَ ذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ، اَشْهَدُ اَنْ لَآاِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَبِهِ وَ كَفَرَ، وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَاِئِقِ وَالْبَشَرِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَ اَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْراً أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ... اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَاتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ. إِنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَأَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ مِنْ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ، فَقَالَ قَوْلًا كَرِيمًا: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْنَا وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَأَصْلِحْ مَنْ فِي صَلَاحِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِينَ، وَأَهْلِكْ مَنْ فِي هَلَاكِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِينَ. اَللّٰهُمَّ وَحِّدْ صُفُوفَ الْمُسْلِمِينَ، وَارْزُقْنَا وَإِيَّاهُمْ زِيَادَةَ التَّقْوَى وَالْإِيْمَانِ اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ اَللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Khutbah 3: Memaksimalkan Potensi Santri
Sumber: NU Online, Agus Nur Qowim
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لله، اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَانَ فِيْ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ. وَهَدٰىنَا لِدِيْنِ الْقَوِيْمِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ،رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعٰلَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِهِ وَأَصْحٰبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ. فَيٰاَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ الْكِرَامْ رَحِمَكُمُ الله، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَ الله وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَدْ قَالَ الله تَعَالٰى فِى الْقُرْاٰنِ الْكَرِيْم: يٰاَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوا اتَّقُواللهَ حَقَّ تُقٰتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Jamaah Jumat rahimakumullah Tiada kata yang pantas kita ucapkan selain pujian kepada Allah swt. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah saw. Tidak lupa khatib berwasiat marilah senantiasa berupaya sekuat tenaga untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt dengan takwa yang sesungguh-sungguhnya.
Indonesia adalah negara besar dengan kekayaan khazanah budaya yang melimpah. Salah satunya adalah kekayaan bahasa. Istilah santri yang dikaitkan dengan keagamaan dan religiusitas islam hanya dikenal di Indonesia.
Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) santri dimaknai sebagai orang yang mendalami agama Islam; orang yang beribadah secara sungguh-sungguh, dan orang yang saleh.
Istilah santri tidak bisa dipisahkan dari kehidupan beragama di Indonesia, bahkan pemerintah menetapkan tanggal khusus yang diperingati sebagai Hari Santri Nasional, yakni 22 Oktober.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Keberadaan santri di Indonesia memiliki peranan yang menarik dan unik. Seiring dengan perkembangan zaman, semestinya peranan santri juga harus bisa mendunia sehingga santri bisa ikut berperan dalam menciptakan Indonesia yang berkemajuan.
Santri tidak boleh ketinggalan zaman. Oleh karena itu santri perlu memaksimalkan berbagai potensi yang dimilikinya sehingga tetap bisa berkiprah menyesuaikan di era milenial.
Santri identik dengan generasi muda. Karena kebanyakan yang nyantri adalah mereka yang sekira usia remaja hingga menginjak dewasa, walaupun ada juga pesantren khusus anak-anak.
Ada sebuah hadits yang di dalamnya menyebutkan term yang berkaitan dengan generasi muda yakni usia ideal yang sedang dialami oleh para santri. Rasulullah bersabda:
وَعَنْ عَمْرُوبْنُ مَيْمُوْن الْأَوْدِيْ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الله -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- لِرَجُلٍ وَهُوَ يَعِظُهُ: إِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ (رواه الترميدي)
Artinya: ''Dari Amr bin Maymun al-Awdi, dia berkata: Rasulullah saw bersabda kepada seseorang dalam rangka memberikan nasihat kepadanya: "Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara, mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, senggangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.'' (HR Tirmidzi, Nomor: 5174).
Jamaah Jumat yang berbahagia
Santri sebagai kalangan produktif harus terus berinovasi dalam rangka terus menjalankan perannya di era milenial. Sebagaimana hadits di atas, ada lima prioritas potensi yang bisa dimaksimalkan oleh santri dalam rangka menjalankan perannya di era milenial. Jika bisa memaksimalkan kelima potensi tersebut, maka eksistensi santri akan tetap ada, dan tidak akan tergilas oleh waktu.
Potensi pertama adalah memanfaatkan usia produktif yakni masa muda, sebelum datangnya masa tua.
شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ,
Manfaatkan masa muda sebelum sampai pada usia tua.
Santri yang terus berinovasi dengan memanfaatkan masa mudanya dia akan mendunia dengan karya-karyanya. Tentu kita semua mendambakan keemasan Islam generasi ke-2, Gold Era Islam Reborn.
Lahirnya kembali era keemasan Islam, salah satunya bisa dicapai dengan memaksimalkan masa muda. Islam mendorong ummatnya untuk selalu maju. Allah berfirman dalam Surat Ar-Rahman ayat 33 sebagai berikut:
يَٰمَعۡشَرَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ إِنِ ٱسۡتَطَعۡتُمۡ أَن تَنفُذُواْ مِنۡ أَقۡطَارِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ فَٱنفُذُواْۚ لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلۡطَٰنٖ
Artinya: "Hai jamaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan (dari Allah).''
Santri muda era milenial tentu saja lebih cocok berkiprah dengan menembus batas-batas yang ada. Batas kebodohan, batas ketakutan, dan batas kemalasan. Jika sudah tua, berjalan sedikit saja sudah capek, berpikir sedikit saja sudah pusing, maka santri muda milenial harus meneguhkan kiprahnya dengan menembus berbagai penghalang yang ada.
Jamaah Jumat yang berbahagia
Potensi kedua yang harus dimaksimalkan oleh santri di era milenial adalah kesehatan.
وَصِحَّتِكَ قَبْلَ سَقَمِك,
Sehatmu sebelum sakitmu.
Kesehatan tersebut bisa dimaknai sebagai kesehatan jasmani ataupun kesehatan ruhani. Kesehatan jasmani dicapai dengan hidup sehat sesuai tuntunan Rasulullah. Mengkonsumsi makanan yang halal dan bergizi. Jasmani yang sehat merupakan modal santri untuk berkarya dan berinovasi.
Allah berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُواْ مِمَّا فِي ٱلۡأَرۡضِ حَلَٰلٗا طَيِّبٗا وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٌ
Artinya: "Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu." (QS Al-Baqrah: 168).
Selain kesehatan fisik, kesehatan hati juga perlu dimaksimalkan sehingga hatinya selalu merasakan ketenangan. Ketenangan hati bisa dicapai dengan berdzikir. Dzikir inilah yang merupakan identitas spiritual santri.
Bukan santri namanya kalau tidak lekat dekat dzikir. Buah dzikir adalah ketenangan sehingga santri selain sehat fisiknya, sehat pula rohaninya, ditandai dengan qanaah, kehidupan yang bersahaja.
Allah berfirman:
ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ
Artinya: "(yaitu) Orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS Ar-Ra'd: 28).
Jamaah Jumat rahimakumullah Potensi yang ketiga yang harus dimaksimalkan santri adalah potensi kekayaan. Sebagaimana sabda Rasulullah:
وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ,
Kayamu sebelum miskinmu.
Kekayaan bisa dicapai dengan usaha yang giat sesuai dengan bidangnya. Jadi santri jangan malas, jangan gengsi.
Ingat, siapa yang ingin bahagia dunia harus berilmu, siapa yang ingin bahagia akhirat harus berilmu, apalagi ingin bahagia dunia akhirat, maka diapastikan wajib berilmu. Perdalam ilmu apa pun yang sesuai dengan passion masing-masing sehingga bisa menjadi modal untuk hidup, dan memperoleh kekayaan dengan ridho Allah.
Tentu kekayaan yang hakiki adalah bukan kaya harta, akan tetapi adalah kaya hati. Akhlak santri adalah bertawakkal setelah berusaha maksimal.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah
Potensi keempat yang bisa dimaksimalkan santri adalah waktu yang luang,
وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ.
Manfaatkanlah waktu luangmu sebelum sibukmu. Santri harus menjadi agent of change, menjadi agen perubahan. Santri harus menjadi uswah, teladan bagi umat dan masyarakat. Lejitkan potensimu, maksimalkan waktu yang diberikan oleh Allah dengan berkarya, menuju Indonesia jaya.
Ada dua kenikmatan yang sering dilupakan oleh manusia yakni nikmat sehat dan waktu luang sebagaimana sabda Rasulullah saw:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ
Artinya: ''Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra dia berkata: Nabi saw bersabda: "Ada dua kenikmatan yang kebanyakan manusia lalai padanya, yaitu kesehatan dan waktu luang." (HR Bukhari, Nomor: 6412)
Jamaah Jumat yang berbahagia Potensi kelima yang harus dimaksimalkan oleh para santri adalah kehidupan. Kehidupan sebelum datangnya kematian:
وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ.
Kehidupan itu adalah anugerah yang harus disyukuri. Potensi kehidupan ini erat kaitannya dengan potensi sosial, yakni hubungan atau relasi dengan sesama manusia. Santri harus pandai menjalin relasi sehingga bisa meng-aktualisasikan diri.
Jalinlah persahabatan sebanyak mungkin, dengan catatan temanilah orang yang baik, supaya kebaikan itu memberikan efek positif pada diri kita. Jangan lupa menumbuhkan kepedulian sosial dengan latihan bersedekah kepada yang membutuhkan. Orang yang sudah mati ingin diberikan kesempatan hidup hanya untuk memperbaiki amal sosialnya.
Allah berfirman:
وَأَنفِقُواْ مِن مَّا رَزَقۡنَٰكُم مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوۡلَآ أَخَّرۡتَنِيٓ إِلَىٰٓ أَجَلٖ قَرِيبٖ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ
Artinya: "Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?." (QS Al-Munafiqun: 10)
Maksimalkanlah nikmat kehidupan ini dalam rangka berlomba-lomba dalam menggapai kebaikan, fastabiqul khairat dengan menggapai ketakwaan, karena sebaik-baik bekal menuju akhirat adalah bekal ketakwaan.
وَاللهُ سُبْحٰنَهُ وَتَعَالٰى يَقُوْلُ. وَبِقَوْلِهِ يَهْتَدِى الْمُهْتَدُوْنَ. وَاِذَا قُرِءَ الْقُرْاَنُ فَاسْتَمِعُوْا لَهُ وَاَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْن. اَعُوْذُ بِااللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. وَالْعَصْرِ. اِنَّ الْإِنْسَانَ لَفْيْ خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَا صَوْبِ الْحَقِّ وَتَوَا صَوْبِ الصَّبْرِ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لله، اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ هَدٰىنَا لِهٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا اَنْ هَدٰىنَا الله. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ،وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّا بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِهِ وَأَصْحٰبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِاِحْسَانٍ إِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِ. أَمَّا بَعْدُ. فَيٰاَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ الْكِرَامْ رَحِمَكُمُ الله، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَ الله وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ التَّقٰى وَقَدْ خَابَ مَنْ طَغٰى. فَقَدْ قَالَ الله تَعَالٰى فِى الْقُرْاٰنِ الْكَرِيْم: يٰاَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُو اتَّقُواللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْ بَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. وَقَالَ تَعَالٰى وَلَمْ يَزَلْ قَائِلًا عَلِيْمًا: إِنَّ اللهَ وَمَلٰئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَٰايُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ اغْغِفرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ. رَبَّنَا أٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارْ. وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
Khutbah 4: Oktober Bulan Santri, Kiai, dan Pesantren
Sumber: NU Online, Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu Lampung H Muhammad Faizin
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ. أَمَّا بَعْدُ
أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. اِتَّقُوْ اللهَ، وَاعْمَلُوا الصَّالِحَاتِ وَاجْتَنِبُوا الْمُنْكَرَاتِ وَاذْكُرُوا اللهَ فِي أَيَّامٍ مَعْلُوْمَتٍ وَاشْكُرُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ، فَلْيَتَّقُوا اللهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Ma'asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah, Menjadi keniscayaan bagi kita untuk senantiasa menguatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT dalam wujud terus berupaya sekuat jiwa raga kita untuk menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Di antara perintah Allah yang harus kita lakukan adalah senantiasa menghormati dan memuliakan orang tua, guru, dan orang-orang yang telah mendidik kita. Hal itu merupakan pendidikan moral yang harus terus kita pertahankan untuk mewujudkan peradaban dunia yang mulia.
Di antara lembaga pendidikan tertua yang memiliki peran besar dalam menjaga moral dan karakter umat adalah pesantren. Dalam sejarah panjang perjalanan bangsa Indonesia, pesantren telah terbukti memiliki kontribusi besar dalam menanamkan keluhuran akhlak dan juga menjadi bagian besar dalam mewujudkan kemerdekaan melalui perjuangan kiai dan santri-santrinya.
Peran vital ini diwujudkan dengan pengakuan pemerintah yang menjadikan bulan Oktober, tepatnya tanggal 22, sebagai momentum Hari Santri melalui Keputusan Presiden Nomor 22 tahun 2015.
Namun tanggal 22 Oktober ini bukan sekadar perayaan simbolik. Waktu tersebut adalah hari refleksi kebangsaan dan spiritualitas, saat bangsa Indonesia mengenang peran besar pesantren, kiai, dan santri dalam perjalanan kemerdekaan, pendidikan, dan pembentukan karakter umat.
Ma'asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah, Peran pesantren dalam sejarah Indonesia tidak dapat dipisahkan dari perjuangan kemerdekaan. Sejak masa penjajahan, pesantren telah menjadi pusat pendidikan, perlawanan, dan pergerakan sosial.
Resolusi Jihad yang dikumandangkan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945 menjadi tonggak sejarah yang menginspirasi lahirnya Hari Santri. Seruan itu menegaskan bahwa membela tanah air adalah bagian dari iman.
Jika kemerdekaan Indonesia diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 di Jakarta, maka ujian pertama yang dihadapi bangsa Indonesia terjadi pada 10 November 1945 di Surabaya.
Pertanyaannya: Siapa yang mengerjakan ujian pertama bangsa Indonesia tersebut? Jawabannya adalah para kiai dan santri yang dipompa semangatnya dengan Resolusi Jihad 22 Oktober 1945.
Dari sejarah ini kita bisa memahami bahwa kiai, santri, dan pesantren merupakan aset yang berharga yang harus terus kita rawat. Pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan agama, tetapi benteng kebudayaan dan moral bangsa.
Di tengah arus modernisasi dan sekularisasi global, pesantren tetap konsisten menanamkan nilai-nilai ketawaduan, keikhlasan, dan kesetiaan kepada ilmu serta guru. Pesantren mencetak para generasi yang kuat sebagaimana jawaban dari firman Allah dalam Al-Qur'an Surat An-Nisa ayat 9:
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ، فَلْيَتَّقُوا اللهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Artinya, "Hendaklah takut orang-orang yang andaikan meninggalkan keturunan yang lemah di belakang (kematian) mereka maka mereka mengkhawatirkannya; maka hendaklah mereka juga takut kepada Allah (dalam urusan anak yatim orang lain), dan hendaklah mereka berkata dengan perkataan yang benar (kepada orang lain yang sedang akan meninggal)."
Sementara para kiai menjadi penjaga warisan spiritual dan moral masyarakat. Bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai panutan dan pengayom yang menuntun umat di jalan tengah, dan sebagai sosok pewaris keilmuan Nabi.
Rasulullah saw bersabda:
إن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ
Artinya: "Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi." (HR Imam Tirmidzi).
Ma'asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Di tengah modernitas yang sering menilai segalanya dengan ukuran materi, penghormatan terhadap kiai adalah bentuk menjaga adab dan etika luhur bangsa. Memuliakan kiai bukan berarti menuhankan manusia, melainkan menghargai ilmu, perjuangan, dan pengorbanan mereka dalam menuntun umat kepada kebaikan.
Kiai hidup dalam kesederhanaan. Banyak di antara mereka yang tidak mengejar popularitas, tetapi mengabdikan hidup untuk mengajar. Mereka menjadi contoh nyata tentang bagaimana ilmu dan ketulusan mampu menggerakkan perubahan.
Sayangnya, masih saja ada segelintir orang yang melecehkan simbol agama, penghinaan terhadap kiai di media sosial, bahkan framing negatif terhadap pesantren. Hal ini menunjukkan adanya krisis adab dan degradasi penghormatan terhadap otoritas keilmuan agama.
Dalam tradisi Islam, adab terhadap guru dan ulama adalah fondasi ilmu itu sendiri. Imam Malik pernah mengingatkan:
عَلِّمِ الأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ العِلْمَ
Artinya: "Ajarkanlah adab sebelum kamu mempelajari ilmu."
Maka, memuliakan kiai bukan sekadar etika sosial, tetapi bagian dari spiritualitas yang mendalam. Hal ini bisa kita lakukan dengan mengembalikan penghormatan kepada ilmu dan guru, mendukung pemberdayaan pesantren seiring perubahan zaman, dan meneladani etos hidup kiai yang sederhana, ikhlas, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.
Dengan memuliakan kiai dan pesantren, kita juga bisa terus mengaplikasikan nilai-nilai kebangsaan tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i'tidal (adil).
Ma'asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah, Mari kita perkuat lagi moral dan identitas luhur bangsa kita sekaligus mewariskannya pada generasi selanjutnya. Mari kita jadikan sejarah sebagai pelajaran berharga.
Jangan sampai kita melupakannya sehingga kita kehilangan arah dalam meneruskan peradaban dunia. Semoga Allah senantiasa menjaga pesantren dan kiai-kiai kita untuk terwujudnya Indonesia yang penuh dengan keberkahan dan dunia yang penuh dengan kedamaian.
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
Artinya: "Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan." (QS Al-A'raf: 96).
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلّٰهِ. أَشْهَدُ أنْ لآ إلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
Khutbah 5: 3 Elemen Berharga dalam Diri Santri
Sumber: NU Online, Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu Lampung H Muhammad Faizin
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ. أَمَّا بَعْدُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. اِتَّقُوْ اللهَ، وَاعْمَلُوا الصَّالِحَاتِ وَاجْتَنِبُوا الْمُنْكَرَاتِ وَاذْكُرُوا اللهَ فِي أَيَّامٍ مَعْلُوْمَتٍ وَاشْكُرُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ
قَالَ اللهُ تَعَالَى: وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ، فَلْيَتَّقُوا اللهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Ma'asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Menjadi sebuah keniscayaan bagi kita untuk senantiasa menguatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan senantiasa patuh pada perintah-Nya dan tak ada keberanian untuk melakukan apa yang dilarang-Nya. Takwa akan menjadikan kita manusia yang sukses dalam menjalani peran kehidupan karena bisa senantiasa berada pada jalur yang diridhai oleh Allah SWT.
Bagi orang tua, pendidikan keimanan dan ketakwaan harus dimulai sejak dini. Anak-anak kita harus diperkenalkan dengan ilmu-ilmu agama dan keilmuan lainnya, diajari akhlak dan karakter yang kuat, sekaligus mewariskan pesan agar mereka senantiasa mampu menjadi orang yang berguna bagi orang lain.
Penguatan ini bisa kita lakukan dengan mendidik mereka di pesantren yang dalam prosesnya dilakukan dengan tiga elemen berharga yakni thalabul 'ilmi (mencari ilmu), tazkiyatun nafs (membersihkan jiwa), dan jihād fī sabīlillāh (berjuang di jalan Allah).
Tiga elemen inilah yang menjadi pondasi eksistensi seorang santri yang beriman dan bertakwa. Santri tidak hanya berpikir dengan akal, tetapi juga mengasah nurani dan membaktikan seluruh tenaganya demi kebaikan umat. Dalam bahasa yang sederhana, santri belajar bukan sekadar untuk tahu, melainkan untuk menjadi.
Ma'asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Kita mengetahui bahwa pesantren adalah lembaga tertua di Nusantara yang menjadi tonggak sejarah pendidikan di Indonesia. Dari pesantrenlah lahir kader-kader yang membentuk peradaban mulia.
Dalam konteks elemen thalabul ilmi, di dunia pesantren, ilmu bukan komoditas yang dikejar dan dicari demi gelar atau status, tetapi sebuah kewajiban individu yang telah disabdakan oleh Rasulullah:
طَلَبُ اْلعِلْمْ فَرِثْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Artinya: "Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim," (HR Ibnu Majah).
Bagi santri, ilmu bukan sekadar alat untuk mencari pekerjaan, melainkan sarana beribadah kepada Allah. Santri belajar agar hidupnya bermanfaat, agar pikirannya mampu menjadi kemaslahatan bagi sesama, dan setiap amaliahnya menjadi amal yang saleh. Inilah ilmu yang berharga sebagaimana disebutkan Rasulullah:
إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
Artinya: "Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, sesungguhnya mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang telah mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang banyak," (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi).
Selanjutnya dalam elemen tazkiyatun nafs atau pembersihan jiwa, seorang santri selalu mengiringi pencarian ilmunya dengan riyādhah dan latihan spiritual. Santri tidak hanya belajar dari buku, tapi juga belajar dari perjuangan hidup melalui berbagai penempaan hawa nafsu seperti kedisiplinan ibadah dan kesederhanaan hidup di pesantren.
Ada kalimat bijak yang menyebutkan "Kalau hanya pandai membaca kitab tapi hatimu gelap, maka belum jadi santri."
Maka, santri belajar menjaga hati dari riya, ujub, dan sombong; menata niat agar setiap amal murni karena Allah. Di sinilah pesantren menjadi sekolah jiwa, tempat santri ditempa agar tidak hanya cerdas, tapi juga bersih batinnya.
Lalu, Ma'asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Mengapa pembersihan jiwa begitu penting?
Karena ilmu tanpa tazkiyah hanya melahirkan kesombongan intelektual. Sejarah menunjukkan, banyak orang pandai yang justru tergelincir karena hatinya tak terdidik.
Santri memahami bahwa ilmu sejati akan menumbuhkan kerendahan hati, bukan arogansi. Itulah sebabnya di pesantren, ibadah dan tirakat berjalan seiring yang menjadikan santri laksana pada yang berbuah. Semakin berisi semakin menunduk.
Ma'asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Elemen berharga ketiga yang diperoleh oleh santri adalah jihād fī sabīlillāh. Elemen ini bukan semata-mata perjuangan fisik, melainkan totalitas pengabdian kepada Allah melalui ilmu dan amal. Santri diajarkan untuk berjuang di jalan kebaikan, memperjuangkan kemaslahatan umat, serta menegakkan nilai-nilai keadilan dan kasih sayang.
Dari konteks Sejarah Indonesia, kita tahu bahwa banyak ulama dan santri yang menjadi pejuang kemerdekaan. Hal ini terbukti dari sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang tidak terlepas dari peran santri.
Pemerintah telah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai hari santri sebagai wujud apresiasi peran santri dalam perjuangan kemerdekaan. Kita tahu bahwa kemerdekaan Indonesia diproklamasikan di Jakarta pada 17 Agustus 1945.
Namun dua bulan setelah itu, sekutu kembali lagi ke untuk menjajah Indonesia. Melihat kondisi ini, KH Hasyim Asy'ari mengobarkan semangat para santri untuk membela tanah air melalui Resolusi Jihad tanggal 22 Oktober 1945.
Dalam Resolusi tersebut ditegaskan bahwa jihad mempertahankan kemerdekaan adalah kewajiban bagi setiap umat Islam. Maka pada 10 November 1945 terjadilah peperangan di Surabaya yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Dari sejarah ini, kita tahu bahwa ujian pertama bangsa Indonesia setelah kemerdekaan adalah di Surabaya dan yang mengerjakan ujian dan bisa lulus adalah para santri.
Ma'asyiral muslimin, jamaah Jumat rahimakumullah,
Demikian tadi 3 elemen berharga yang dimiliki oleh santri dalam perjalanannya membentuk karakter diri. Semoga kita bisa menjadikan diri kita santri-santri modern yang senantiasa terus mencari ilmu, menyucikan diri, dan senantiasa memiliki komitmen dalam jihad memperbaiki kondisi menuju arah kebaikan.
Allah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ ١١
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu "Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis," lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan, "Berdirilah," (kamu) berdirilah. Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan."
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلّٰهِ. أَشْهَدُ أنْ لآ إلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيّ بَعْدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
Demikianlah lima khutbah Jumat dengan tujuan utama mengajak pemuda untuk bersemangat membangun negeri. Semoga bermanfaat ya, detikers!
