Aksi demo Gerakan Sopir Jawa Timur (SGJT) masih berlanjut sampai malam ini. Massa sopir mengancam akan bermalam di depan Kantor Pertamina sampai ditemui oleh Komisaris Pertamina.
Koordinator GSJT Supriyono mengatakan akan terus menunggu kehadiran kepala Pertamina karena merasa selalu bohongi. Hal tersebut terjadi karena GSJT sudah tiga kali melakukan aksi serupa.
"Ini tidak sekali dua kali, hari ini kami ketiga kalinya ke sini dengan kasus yang sama. Mediasi selalu diberikan, tetapi hanya dengan management ritel saja, pasti dia tidak punya kewenangan untuk memutuskan," kata Supriyono, Rabu (30/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penolakan yang dilakukan imbas pernyataan Pertamina pada demo sebelumnya yang selalu melempar kesepakatan antara pendemo dengan para petinggi di Pertamina. Hal tersebut terjadi ketika demo sebelumnya ada kesepakatan mengenai barcode yang bermasalah di khianati setelah dua bulan berjalan.
"Tadi sudah diminta untuk mediasi, untuk kali ini bukan menolak, tetapi kami sudah pernah seperti itu, nanti dilempar lagi dengan bahasa nanti saya koordinasikan kembali," ujarnya.
Supri juga menanyakan terkait tuduhan yang dilakukan oleh Pertamina kepada para sopir terkait barcode yang berimbas pada pemblokiran sepihak. Ia menyatakan bahwa saat awal regulaasi barcode diberlakukan berguna untuk menjaga subsidi tersalurkan tepat sasaran, tetapi saat ini realita di lapangan sopir yang tidak melakukan kecurangan terkena imbas.
"Sistem barcode versi Pertamina adalah menjaga agar subsidi ini tepat sasaran, serta menjaga agar kawan-kawan itu tidak ada yang melakukan kegiatan yang berkaitan mafia migas. Tetapi ketika ada satu sistem yang dimana malah merugikan, mereka bilang tidak bisa apa-apa, itu dari sana," jelasnya.
Dari penjelasan Supriyono, saat ini seluruh karyawan Kantor Pertamina sedang mengikuti kunjungan ke Banyuwangi untuk mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh komisaris utama.
Supriyono selaku koordinator SGJT berharap bahwa Direktur Pertamina akan menemui masa aksi karena keputusannya menyangkut nasib dari para sopir. Ia dan para peserta aksi siap menunggu meskipun harus bermalam.
"Kalau kami akhirnya dimasukkan dalam penerima manfaat bbm subsidi, kami bisa jalan. Kalau tidak ada pemblokiran barcode, kami bisa jalan. Setelah itu berkala benahi sistemmu karena kami tidak punya akses disana," pungkasnya.
