Petrokimia Gresik Sulap Limbah Jadi Pakan, Dorong Ketahanan Pangan 8 Desa

Petrokimia Gresik Sulap Limbah Jadi Pakan, Dorong Ketahanan Pangan 8 Desa

Jemmi Purwodianto - detikJatim
Rabu, 30 Sep 2026 18:15 WIB
Program Gerakan Masyarakat Budidaya Ayam dan Ikan Lele Asri (GEMBALA)
Program Gerakan Masyarakat Budidaya Ayam dan Ikan Lele Asri (GEMBALA). (Foto: Istimewa)
Gresik -

PT Petrokimia Gresik menggelontorkan bantuan sekitar Rp 102 juta untuk mendorong ketahanan pangan sekaligus kemandirian ekonomi masyarakat di 8 kelurahan/desa sekitar perusahaan. Bantuan tersebut disalurkan melalui program Gerakan Masyarakat Budidaya Ayam dan Ikan Lele Asri (GEMBALA) Lestari Bumi yang menggabungkan budidaya ayam petelur, ikan lele, maggot, tanaman, hingga pengelolaan limbah organik.

Sekretaris Perusahaan Petrokimia Gresik Nuril Huda mengatakan, seluruh bantuan telah didistribusikan kepada delapan kelurahan/desa penerima. Program tersebut tidak hanya berfokus pada pemberian sarana budidaya, tetapi juga membangun pola pengelolaan yang menghubungkan berbagai kegiatan dalam satu ekosistem.

"Program GEMBALA kami rancang bukan sekadar memberikan sarana budidaya, tetapi membangun ekosistem yang dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Melalui pendekatan ekonomi sirkular, sumber daya yang tersedia dapat dimanfaatkan kembali untuk menghasilkan pangan sekaligus membuka potensi pendapatan," terang Nuril melalui keterangan resmi, Rabu (30/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dukungan yang diberikan meliputi kandang ayam petelur, kandang maggot, kolam ikan dan hidroponik, biopori, serta planter bag untuk budidaya cabai dan tomat. Masing-masing kelurahan/desa juga mendapat dukungan operasional sebesar Rp 2,5 juta, disertai pelatihan, mentoring, dan pendampingan bagi para pengelola.

ADVERTISEMENT

Pada tahap awal, setiap lokasi memperoleh 12 ekor ayam petelur. Jumlah tersebut dapat ditambah menjadi 24 ekor setelah dilakukan penilaian terhadap perkembangan dan pengelolaan masing-masing lokasi.

Dari 12 ekor ayam, produksi diperkirakan mencapai 220 hingga 290 butir telur per tahun. Hasil budidaya tersebut juga berpotensi memberikan tambahan pendapatan sekitar Rp 489 ribu hingga Rp 1 juta per bulan, bergantung pada produktivitas ayam dan pengelolaan di masing-masing lokasi.

Menurut Nuril, program pemberdayaan tidak harus dimulai dengan skala besar. Kemampuan masyarakat untuk mengelola dan mengembangkan kegiatan secara mandiri menjadi salah satu faktor penting agar program dapat terus berjalan.

"Pemberdayaan dapat dimulai dari skala sederhana. Yang terpenting adalah masyarakat memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mengelola serta mengembangkan kegiatan tersebut secara mandiri," jelasnya.

Konsep ekonomi sirkular dalam program tersebut juga diterapkan melalui pemanfaatan limbah organik. Sekitar 50 kg limbah organik per bulan diolah dengan bantuan Petro Gladiator, kemudian dikembangkan pula sekitar 500 gram maggot untuk mendukung ekosistem budidaya.

Maggot tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari rantai pakan, sementara kegiatan budidaya ayam, ikan lele, dan tanaman dikembangkan secara terintegrasi. Pola tersebut diharapkan membuat sumber daya yang tersedia di lingkungan masyarakat dapat dimanfaatkan kembali sekaligus mengurangi limbah.

Selain untuk ketahanan pangan dan ekonomi, sejumlah lokasi GEMBALA ke depan juga diarahkan menjadi sarana edukasi. Anak-anak TK dan SD nantinya dapat diperkenalkan dengan praktik budidaya, pengelolaan lingkungan, dan konsep ekonomi sirkular melalui kegiatan kunjungan maupun study tour.

Petrokimia Gresik akan melanjutkan pendampingan terhadap para pengelola agar kegiatan dapat berkembang sesuai potensi masing-masing wilayah. Pengembangan tersebut diharapkan membuat manfaat program tidak berhenti pada bantuan awal, tetapi dapat terus memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Nuril mengatakan GEMBALA diharapkan menjadi salah satu contoh pemberdayaan masyarakat yang menggabungkan ketahanan pangan dengan pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan. Pengelolaan limbah, budidaya pangan, dan pemanfaatan lahan diarahkan menjadi satu rangkaian kegiatan yang dapat membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

"GEMBALA kami harapkan dapat menjadi contoh bahwa pemberdayaan masyarakat bisa berjalan beriringan dengan prinsip ekonomi sirkular. Dari limbah kita olah, dari lahan yang tersedia kita hasilkan pangan, dan dari proses tersebut kita ciptakan peluang ekonomi," pungkasnya.



(auh/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads