Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim penghujan di Tulungagung baru akan terjadi pada awal Desember. Sementara itu saat ini terdapat tujuh kecamatan yang mengalami krisis air.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tulungagung Sudarmaji mengatakan, sesuai rilis yang dikeluarkan BMKG Stasiun Iklim Jatim awal musim hujan di Jawa Timur mayoritas mundur dari kondisi normal. Di wilayah Tulungagung musim hujan diprediksi baru akan terjadi pada awal Desember.
"Sebagian besar wilayah Tulungagung seperti Kecamatan Kedungwaru, Ngantru, Ngunut, Sumbergempol, Tulungagung, Besuki, Kalidawir, Pucanglaban, Rejotangan, Pagerwojo, Sendang, Karangrejo, dan Tanggunggunung diprediksi mulai hujan pada awal Desember (1-10 Des)," kata Sudarmaji, Rabu (30/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk Kecamatan Bandung, Boyolangu, Campurdarat, Gondang, Kauman dan Pakel baru menyusul pada akhir Desember antara tanggal 21-31. Sementara itu puncak musim penghujan diperkirakan terjadi pada Februari 2027.
"Sifat hujan normal dan curah hujan berkisar 1001-1500 mm. Durasi musimnya diperkirakan 13-15 dasarian," imbuhnya.
Sudarmaji menambahkan, mundurnya musim penghujan akan berdampak pada kondisi kekeringan di Tulungagung. Padahal saat ini jumlah desa yang mengalami krisis air mencapai 11 desa yang tersebar di Kecamatan Besuki, Tanggunggunung, Kalidawir, Pucanglaban, Campurdarat, Badung dan Kecamatan Sendang.
"Jumlah yang terdampak kekeringan mencapai 1.008 kepala keluarga atau 2.804 jiwa. Jika musim kemarau semakin panjang maka bisa jadi wilayah krisis air akan bertambah," jelasnya.
Guna menanggulangi dampak krisis di Tulungagung, BPBD setempat menggelontorkan bantuan air bersih kepada warga yang terdampak. Hingga saat ini tercatat 66 tangki air bersih telah didistribusikan kepada warga.
"Total air yang terdistribusi sekitar 330.000 liter," pungkasnya.
