30 Puisi G30S/PKI untuk Mengenang Pahlawan Revolusi

30 Puisi G30S/PKI untuk Mengenang Pahlawan Revolusi

Fathir Rofi - detikJatim
Selasa, 29 Sep 2026 22:00 WIB
Ilustrasi membacakan puisi bertema pendidikan.
Ilustrasi membacakan puisi bertema pahlawan. Foto: Gemini AI
Surabaya -

Setiap tanggal 30 September, bangsa Indonesia memperingati peristiwa G30S/PKI, tragedi kelam yang menewaskan tujuh anggota TNI yang kemudian dikenang sebagai Pahlawan Revolusi.

Peristiwa G30S/PKI bukan hanya menjadi catatan sejarah, tetapi juga mengingatkan masyarakat Indonesia tentang pentingnya menjaga persatuan dan kehormatan bangsa.

Puisi G30S/PKI

Puisi bertema G30S/PKI mencerminkan usaha untuk menggambarkan perasaan, kesedihan, dan penghormatan kepada mereka yang telah berjuang. Berikut 30 contoh puisi bertema G30S/PKI.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Malam 30 September-1 Oktober 1965

Karya: Mochtar Lubis

Gelap malam membelenggu kita
Kelompok-kelompok hitam bergerak dari jalan ke jalan
Pekik mesin truk dan jip
kerincing senjata dan topi besi

ADVERTISEMENT

bisik-bisik perintah maut
setan-setan gelap dari perut bumi
lapar darah orang-orang tak berdosa
derap sepatu nafas harimau

kezaliman, keharaman, kebengisan
berkeliaran dalam kota
dentum senapan kilat pisau
jerit istri, tangis anak-anak

Yani, Parman, Pandjaitan
Soeprapto, Soetoyo, Tendean
Prajurit yang dibunuh dalam gelap malam
Dan Irma kecil, gadis manis tak tersenyum lagi

Ya, Tuhan, tak Engkau lindungi kami?
Engkau biarkan setan-setan
dan binatang liar merajalela?
Mengapa Irma kecil tak boleh tertawa lagi?

Tersenyumlah gadis kecil
dalam sorga
Tidurlah prajurit-prajurit di surga,
di sana tak ada kezaliman dan pengkhianatan

di sana kalian tidur tak terganggu
oleh kelompok hitam dalam gelap malam
membawa perintah maut
dan kezaliman yang haus darah

manusia tak berdosa
Tidurlah di sorga prajurit-prajurit bangsa
Tersenyumlah di sorga, Irma kecil.

2. Oktober Hitam

Karya: Taufiq Ismail

Atap-atap gunung
Dan daratan
Meratap

Ke mega gemulung
Mata yang duka
Menatap

Sepanjang pagi murung
Angin yang nestapa
Berdesah

Awan pun mendung
Di musim pengap
Yang gelisah

Menitiklah gerimis
Karena berjuta
Telah menangis

Tujuh lelaki
Telah mati
Pagi itu

Oktober Hitam (2)

Kaki kami lamban menyongsongmu, Kenyataan
Begitu keras kau gedor-gedor pintu negeri kami
Yang terkantuk-kantuk dalam kefanaan panjang
Dan terendam mimpi demagogi

Cakar kekhianatan
Telah mencengkeram urat leher
Menebas jalan napas

Oktober Hitam (3)

Pohon-pohon cemara
Pohon asam
Pohon randu sepanjang jalan
Pohon pina di hutan-hutan
Pohon kamboja di pekuburan

Menundukkan
Daun-daunnya

Dan margasatwa
Kawanan unggas
Burung kepodang
Balam dan elang

Berbisik-bisik
Tiada henti
Menyebut nama-Mu

Oktober Hitam (4)

Darah Ade, anak perempuan mungil itu
Menetes sepanjang tongkat ayahnya
Yang bertelekan di kuburan
Menahan berat beban cobaan
Tapi tetap tegak bertahan

Sembilu telah mengiris
Langit
Menyayat-nyayat mega
Menurunkan gerimis
Semua berbisik
Tiada henti
Menyebut nama-Mu

Kami pun terjaga dalam Oktober yang hitam
Bangkit dari kabut ilusi
Tahun-tahun meleleh, tangan 'kan menegak keadilan
Dalam deram tak tertahan-tahan!

Oktober Hitam (5)

Awan pun jadi mendung
Di pagi musim yang pengap
Ketika arakan jenazah
Bergerak pelahan

Di atas kendaraan baja
Di bawah awan nestapa
Dipagar air mata
Kulihat pagi jadi mendung
Kulihat cuaca mengundang gerimis
Di negeri yang berkabung
Dalam duka mengiris

Fajar kelabu Fajar kelam
Pagi pembunuhan
Pagi yang hitam
Tujuh lelaki
Telah mati
Dikhianati

3. Memoriam Lubang Buaya

Karya: Doni Hamdani

Tempat penuh misteri
Tumpukkan bangkai yang lalu
Hadir mengunggah kenangan
Sampai sekarang bau anyir terhidang harum
Sumur angker bekas pejuang masih ada.

Ingat! Prajurit revolusi ditindas
Dibantai habis oleh komunis yang jahat
Memilih berontak akan di sentak
Memilih diam akan disergap
Sampai akhirnya mati dibekuk

Perangilah setiap bentuk komunisme
Agar seimbang antara keadilan dan penyiksaan
Kuat penuh semangat berkobar
Untuk menjanjikan bahwa hak harus hidup
Tidak seperti zaman dulu lagi
Lubang buaya, sejarah pertarungan menyedihkan

4. Puisi G30SPKI

Karya: Lupita

Angin mengaumkan bisikan dengan lantang
Sangkakalana menyambar dengan rentetan cahaya
Ancaman bagi mereka yang kokoh berdiri
Mencatat setiap momen berlangsung

Setiap pasang mata yang kupandang
melirik takut dalam balutan kain lusuh

Sarat simbol serta keperkasaan dibuktikan
Bergolak dalam jeritan nafsu hingar bingar
Menodai nusantara dengan kasut kemelut

Berdiri di atas tubuh mereka sendiri
Gegap gempita ramai para massa
Perubahan dimulai

Waktu yang memilih siapa selanjutnya
Nampak tilas sebuah tragedi
Sisa kebiadaban kaum revolusi
Menggugah mendobrak sejarah bangsa ini.

5. Menghitung Bintang di Langit Malam

Karya: Sapardi Djoko Damono

Di langit malam, aku menghitung bintang,
Masing-masing mengingatkan tentangmu,
Pahlawan yang gugur dalam gelap,
G30S, kau kan selalu ada dalam jiwa.

Cahaya bintang berkilau terang,
Menggambarkan semangat juang,
Dalam setiap denyut kehidupan,
Kau kan selalu abadi, pahlawanku.

6. Kekejaman yang Terlupakan

Karya: Sapardi Djoko Damono

Dalam bayang-bayang malam, Jeritan tak terucap menggema, Sejarah mencatat darah pahlawan, Untuk republik yang kita cintai.

Dalam gelap malam yang pekat,
Hanya bintang menjadi saksi, Mereka yang pergi tak kembali, Ditinggalkan cinta yang abadi.

Setiap tetes air mata ini,
Mencari jawaban yang tak terucap, Mengapa harus ada pengorbanan, Dalam perjuangan yang tak kunjung padam.

Kami mengukir nama-nama, Dalam jiwa yang takkan sirna, Pahlawan kami, kami ingat selamanya,
Dalam cerita yang takkan pernah henti.

7. Tetesan Darah di Bumi Perjuangan

Karya: WS Rendra

Darah yang tumpah,
Membentuk janji tak terucap,
Pada bumi yang membara, Pahlawan, kau abadi dalam jiwa.

Di bawah langit yang kelam, Mereka pergi dengan tenang, Meninggalkan jejak dalam jiwa,
Mengingatkan kita akan perjuangan.
Dalam kepedihan yang tak berujung,
Kami kenang setiap titisan,
Untuk setiap jiwa yang hilang, Dalam sejarah yang penuh makna.

Oh, bumi yang kau cintai,
Teruslah berdiri meski tertegun, Dengan setiap tetes darah ini,
Kau kan selalu hidup dalam ingatan.

8. Cerita Duka September Kelabu

Karya: Rizal

Menggurat luka beribu pilu
Bunga bangsa terkulai layu
Terlepas jiwa tersapu peluru
Cerita duka September kelabu

Tertulis di dalam catatan sejarah
Iblis mengukir tragedi berdarah
Tetesan merah membasahi tanah
Gugurlah sukma tertikam fitnah

Sejenak terpaku pisau diri
Terkenang para Syuhada negeri
Korban kekejaman sebuah Ideologi
Petunjuk Dorna berwujud PKI

Kini Syuhada tertinggal nama
Pahlawan Revolusi terukir jasa
Semoga damai dialam sana
Dalam pelukan bumi Indonesia.

9. Menghitung Bintang di Langit Malam

Karya: Sapardi Djoko Damono

Di langit malam, aku menghitung bintang,
Masing-masing mengingatkan tentangmu,
Pahlawan yang gugur dalam gelap,

G30S, kau kan selalu ada dalam jiwa.
Cahaya bintang berkilau terang,
Menggambarkan semangat juang,
Dalam setiap denyut kehidupan,
Kau kan selalu abadi, pahlawanku.
Dalam hening malam yang sunyi, suara

10. Revolusi Harga Mati

Karya: Ozy V. Alandika

Revolusi itu harga mati
Ada saatnya seorang bayi ingin segera berdiri
Berkicau tentang angan-angan seraya berlari
Mengaku kuat dan berdikari

Revolusi itu harga mati
Ada saatnya seorang remaja ingin melompat tinggi
Tidak lagi sekadar merapal janji
Karena pembuktian jadi bagian harga diri

Revolusi itu harga mati
Ingatlah pengorbanan para pahlawan Bumi Pertiwi
Mereka bahkan terkubur di lubang sunyi
Dibantai oleh PKI

Revolusi itu harga mati
Coba kau setel lagi kisah pedih tiga puluh september
Tampak biadabnya komunis yang ingin menggulingkan negeri
Padahal tidak akan semudah itu pemimpin kita lengser

Revolusi itu harga mati
Kejahatan tiada akan pernah abadi
Jangan biarkan impian negeri mati suri
Karena impian akan jadi nyata saat kita beraksi

Revolusi itu harga mati
Hargailah jasa para pahlawan negeri
Mereka berkorban tanpa peduli dengan kabar diri
Yang penting akan ada kabar baik pada esok pagi
Revolusi itu harga mati

Jadilah engkau anak kebanggaan negeri
Gapailah cita-cita dan jangan lupa berbakti
Karena cinta dan upaya tidak cukup hanya sekadar janji

11. Karangan Bunga

Karya: Taufiq Ismail

Tiga anak kecil

Dalam langkah malu-malu

Datang ke Salemba

Sore itu


"Ini dari kami bertiga

Pita hitam pada karangan bunga

Sebab kami ikut berduka


Tiga hari yang lalu

Ayah kami yang perwira

Telah mendahului kita"

12. Sebuah Jaket Bersejarah

Karya: Taufiq Ismail

Sebuah jaket berbercak darah

Kami simpan dalam kenangan

Bukan untuk menanam dendam

Tapi untuk menjaga kebenaran


Di bawah kibaran bendera

Kami ingat para pahlawan

Yang gugur di malam kelam

Demi Pancasila dan bumi pertiwi.

13. Duka Lubang Buaya

Karya: Taufiq Ismail

Di tanah yang sunyi itu

Jerit malam membeku

Tujuh nyawa melayang

Di dalam sumur tua yang pekat

Darah mereka menyirami bumi


Menjadi saksi kejahatan masa lalu

Agar kita tak pernah lupa

Betapa mahalnya sebuah kesetiaan.

14. Pahlawan Revolusi

Karya: Mansur Samin

Mereka berdiri di garis terdepan

Menjaga benteng Pancasila

Meski raga diempas badai

Jiwa mereka tak pernah padam


Gugur dalam keteguhan

Di malam kelam September

Kini nama mereka terukir indah

Sebagai penyangga ibu pertiwi.

15. Doa untuk Para Jenderal

Karya: Hamid Jabbar

Di keheningan malam itu

Tembakan memecah sepi

Tujuh perwira dipaksa tunduk

Namun semangat tak pernah mati


Kami panjatkan doa-doa

Untuk jiwa yang telah berpulang

Semoga darah yang tertumpah

Menjadi benih kedamaian bangsa.

16. Pancasila Sakti

Karya: Abdul Hadi WM

Bukan sekadar lima dasar

Tapi napas hidup negeri ini

Diuji oleh pengkhianatan


Tetap tegak tak tergoyahkan

Tujuh pahlawan menjadi saksi

Bahwa ideologi tak bisa dibeli

Di Lubang Buaya mereka berbaring

Mewariskan kebenaran abadi.

17. Malam Kelam 30 September

Karya: Sides Sudyarto DS

Langit gelap menutupi Jakarta

Ketika kejahatan merayap pelan

Menjerat para penjaga negeri


Dalam kubangan fitnah dan luka

Tapi kegelapan tak bertahan lama

Cahaya kebenaran menyinarinya

Mengenang malam penuh duka

Demi menjaga persatuan bangsa.

18. Sumur Tua di Lubang Buaya

Karya: Toto Sudarto Bachtiar

Sumur tua menjadi saksi

Atas kekejaman yang tak terperi


Jasad para perwira terkubur

Dalam malam yang begitu lebur


Namun dari dasar tanah yang dingin

Bergema janji setia tanah air

Bahwa Pancasila akan tetap berdiri

Menyinari bumi Indonesia tercinta.

19. Bunga Gugur di Bulan September

Karya: Subagio Sastrowardoyo

Satu per satu bunga gugur

Ditembak malam yang gempur


Bukan karena kalah bertarung

Tapi karena pengkhianatan yang mengurung


Air mata ibu pertiwi menetes

Menyirami pusara tanpa tanda


Kini kami mengenang jasa

Para pahlawan revolusi bangsa.

20. Tujuh Bintang Yang Gugur

Karya: Ajip Rosidi

Tujuh bintang di langit malam

Redup seketika ditelan kejahatan


Namun cahayanya tak benar-benar hilang

Ia berpindah ke dalam dada kami

Mengenang mereka yang telah pergi


Dalam tragedi yang tak akan dilupakan

Sebagai pelajaran bagi generasi

Untuk selalu menjaga benteng negeri.

21. Catatan Merah September

Karya: Goenawan Mohamad

Ada jejak darah di lembaran sejarah

Menuliskan kisah kelam yang nyata

Ketika saudara menjadi lawan

Dan kesetiaan dibayar dengan nyawa


Mari menatap masa depan dengan bijak

Tanpa melupakan pahitnya masa lalu

Tujuh jiwa telah berkorban

Agar Pancasila tetap bersatu.

22. Jeritan Malam Kelabu

Karya: Hartojo Andangdjaja

Suara tembakan di kegelapan

Menatap takdir dengan keberanian

Tujuh pahlawan tak gentar menghadapi

Meski pengkhianatan mengintai di sisi


Darahmu meresap ke dalam bumi

Menjadi akar ketahanan bangsa

Kami yang tinggal melanjutkan janji

Menjaga Indonesia selamanya.

23. Lambaian Bendera Setengah Tiang

Karya: Saini K.M.

Bendera berkibar setengah tiang

Menandakan duka yang amat dalam

Tujuh perwira terbaik gugur

Di tanah Lubang Buaya yang hancur


Kami tundukkan kepala sejenak

Kirimkan doa dan penghormatan

Atas pengorbanan yang tak terhingga

Demi tegaknya keadilan dan Pancasila.

24. Darah Pahlawan Revolusi

Karya: Chairil Gibran Ramadhan

Darah itu belum kering dalam ingatan

Mengalir dari luka pengkhianatan

Tujuh sosok berdiri tegak

Meski raga ditelan gelap


Kini Monumen Pancasila berdiri

Mengingatkan kita akan harga sebuah negeri

Jangan biarkan sejarah berulang

Jaga kedamaian dengan kasih dan sayang.

25. Menjaga Kebenaran

Karya: Kuntowijoyo

Sejarah bukan sekadar cerita

Tapi pelajaran yang amat berharga

Tragedi September menguji jiwa

Apakah kita setia pada Pancasila


Tujuh pahlawan memberikan teladan

Tentang keberanian dan pengorbanan

Mari jaga persatuan Indonesia

Agar tak terpecah oleh prasangka.

26. Monumen Pancasila Sakti

Karya: Sapardi Djoko Damono


Patung-patung itu berdiri membisu

Menatap masa depan yang tenang

Di balik perunggu ada cerita kelam

Tentang malam dingin di bulan September


Mereka gugur agar kita hidup

Dalam damai dan kebebasan

Di tanah ini kebenaran diukir

Takkan sirna digilas waktu.

27. Doa Seorang Ibu di Lubang Buaya

Karya: Taufiq Ismail


Ibu meneteskan air mata

Melihat baju berdarah putranya

Perwira muda yang jujur dan setia

Kini berbaring di liang pelukan bumi


"Tuhan, ampunilah para pengkhianat

Dan berilah tempat terbaik bagi putraku

Ia gugur bukan untuk dirinya

Tapi untuk Indonesia tercinta."

28. Bintang Revolusi

Karya: W S Rendra


Langit September menahan napas

Saat kejahatan bertindak bebas

Tujuh prajurit dijadikan korban

Oleh ambisi dan pengkhianatan


Namun jiwa mereka terbang tinggi

Menjadi bintang penjaga negeri

Mengingatkan kita setiap hari

Akan arti penting membela pertiwi.


29. Pengorbanan Tanpa Ragu

Karya: Agam Wispi

Di tengah kegelapan yang pekat

Mereka tak pernah mundur melangkah

Mempertahankan sumpah perwira

Hingga napas terakhir di dada


Lubang Buaya menjadi saksi bisu

Bahwa keberanian tak bisa dihancurkan

Darah mereka adalah harga

Bagi tegaknya nilai-nilai Pancasila.

30. Saksi Bisu Lubang Buaya

Karya: Usmar Ismail

Tanah itu menyimpan rahasia

Dua puluh dua meter kedalaman duka

Tujuh jasad dimasukkan tanpa belas kasihan

Oleh tangan-tangan yang dipenuhi kejahatan


Tapi sejarah mencatat dengan jujur

Siapa penyelamat dan siapa penghancur


Kini kita mengenang jasa mereka

Sebagai Pahlawan Revolusi bangsa.



(irb/abq)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads