Produksi Nikel Olahan Indonesia Capai 41%, Ini Kata Ekonom

Produksi Nikel Olahan Indonesia Capai 41%, Ini Kata Ekonom

Tim detikJatim - detikJatim
Senin, 28 Sep 2026 15:16 WIB
Ilustrasi Nikel
Ilustrasi nikel/Foto: Istimewa
Surabaya -

Produksi nikel olahan Indonesia meningkat pesat dalam satu dekade terakhir. Data Our World in Data yang bersumber dari British Geological Survey mencatat produksi nikel olahan Indonesia mencapai lebih dari 1,4 juta ton pada 2023, atau sekitar 41 persen dari total produksi dunia.

Capaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai produsen nikel olahan terbesar di dunia. Produksi Indonesia meningkat lebih dari 60 kali lipat dibandingkan 2014 yang tercatat sekitar 22 ribu ton, sementara pangsa produksinya naik dari sekitar 1 persen menjadi 41 persen.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai, peningkatan produksi tersebut tidak terlepas dari kebijakan hilirisasi dan larangan ekspor bijih nikel. Menurutnya, kebijakan tersebut mendorong investasi fasilitas pengolahan nikel di dalam negeri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Indonesia juga telah berubah dari pengekspor bijih menjadi pusat produksi olahan," kata Yusuf, Senin (28/9/2026).

ADVERTISEMENT

Menurut Yusuf, peningkatan produksi nikel olahan juga membuat posisi Indonesia di pasar global semakin besar. Ia menilai pengaturan produksi melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan.

"Pengurangan volume dapat meningkatkan penerimaan negara jika mampu mengangkat harga, tetapi kuota tidak boleh terlalu ketat hingga smelter kekurangan bahan baku," ujarnya.

Yusuf mengatakan, dampak hilirisasi juga terlihat dari peningkatan investasi, ekspor, penerimaan negara, dan lapangan pekerjaan di kawasan industri. Namun, menurutnya, pengembangan industri tetap perlu dibarengi dengan pengendalian produksi, kebijakan fiskal, serta peningkatan standar lingkungan dan ketenagakerjaan.

"Pangsa 41 persen merupakan modal tawar yang besar, tetapi baru menjadi kekuatan ekonomi jika Indonesia menguasai teknologi, memperluas pembeli, menjaga harga, dan mempertahankan lebih banyak nilai tambah di dalam negeri," kata Yusuf.

Sementara itu, analis senior Indonesia Strategic and Economics Action Institution Ronny P. Sasmita mengatakan, peningkatan produksi nikel olahan menunjukkan perubahan dalam struktur industri nikel Indonesia. Ia mengacu pada data Our World in Data yang bersumber dari British Geological Survey.

Produksi nikel olahan Indonesia meningkat dari sekitar 22 ribu ton pada 2014 menjadi lebih dari 1,4 juta ton pada 2023. Dalam periode yang sama, pangsa Indonesia dalam produksi nikel olahan dunia meningkat dari sekitar 1 persen menjadi 41 persen.

"Jadi, kalau parameternya adalah kemampuan mengubah bijih menjadi produk olahan di dalam negeri, hilirisasi jelas menghasilkan transformasi struktural," ujar Ronny.

Dari sisi investasi, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat realisasi investasi sektor hilirisasi mencapai Rp300,1 triliun pada semester I 2026. Nilai tersebut setara 29,7 persen dari total realisasi investasi nasional pada periode yang sama.

Investasi hilirisasi pada semester I 2026 antara lain mencakup sektor mineral, termasuk nikel, bauksit, tembaga, besi dan baja, serta pasir silika. Khusus hilirisasi mineral, nilai investasinya mencapai Rp206,5 triliun.

"Masuknya investasi tersebut menciptakan efek berganda berupa pembangunan kapasitas industri, penciptaan lapangan pekerjaan, peningkatan nilai ekspor, serta semakin dalamnya basis manufaktur nasional. Ke depan, manfaat tersebut dapat diperbesar melalui transfer teknologi, peningkatan keterlibatan pemasok domestik, penguatan kualitas tenaga kerja serta peningkatan penerimaan negara," ujarnya.

Ronny mengatakan pengembangan industri nikel selanjutnya dapat diarahkan pada produk dengan nilai tambah lebih tinggi. Ia menyebut pengembangan teknologi HPAL, nickel sulphate, precursor, cathode active material, recycling, hingga industri baterai sebagai bagian dari tahapan tersebut.

"Gelar 'raja nikel' baru merupakan babak pertama. Babak keduanya jauh lebih penting, apakah Indonesia hanya menjadi negara dengan produksi nikel terbesar, atau benar-benar menjadi negara yang paling besar menikmati nilai ekonomi, teknologi dan kekuatan industri dari nikelnya," ujar Ronny.



(irb/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads