Perjalanan ambulans BPJS Watch Cabang Surabaya yang membawa jenazah dari Surabaya menuju Sampang, Madura, viral usai videonya beredar di media sosial. Dalam video tersebut, seorang pria yang disebut sebagai anggota Satpol PP tampak mendatangi ambulans dan mempertanyakan penggunaan sirene serta apa yang dibawa di dalam kendaraan.
Peristiwa itu terjadi pada Selasa (22/9/2026) sekitar pukul 19.05 WIB di Jalan Taman Putro Agung Kulon, arah Suramadu. Pihak ambulans menyebut kejadian tersebut sempat membuat keluarga yang berada di dalam ambulans terpancing emosi, sementara Satpol PP Surabaya kemudian memberikan klarifikasi dan menyebut peristiwa itu sebagai kesalahpahaman.
Dalam video yang dilihat detikJatim, seorang pria yang disebut sebagai anggota Satpol PP tampak mengetuk pintu ambulans. Dia kemudian mempertanyakan apakah kendaraan tersebut membawa pasien atau keluarga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada pasien? Ada pasien gak? Pasien apa keluarga?," kata oknum Satpol PP dalam video yang dilihat detikJatim, Kamis (24/9/2026).
Driver ambulans kemudian meminta pria tersebut melihat langsung kondisi di dalam kendaraan. Saat itu, driver juga mempertanyakan status pria tersebut.
"Kamu anggota gak? Lihat dulu, lihat," ujar driver.
Driver ambulans BPJS Watch, Jeki, mengatakan saat kejadian dirinya sedang membawa jenazah dari RS SMS menuju Dusun Panobun Timur, Kecamatan Ketapang, Sampang, Madura.
Menurut Jeki, pria tersebut sempat mengikuti ambulans. Awalnya, dia mengira kendaraan tersebut hendak dikawal karena ada keluarga yang mengikuti perjalanan.
"Oknum tersebut mengikuti ambulans. Dipikir keluarga itu mau membantu mengawal. Ternyata dia mengetok pintu ambulans dan menanyakan bahwasanya tidak boleh memainkan sirene sembarangan," ungkap Jeki saat dihubungi detikJatim.
Jeki kemudian membuka kaca ambulans dan menunjukkan kondisi di dalam kendaraan. Dia menjelaskan bahwa ambulans tersebut sedang menjalankan misi pengantaran jenazah.
Jeki mengaku sudah menjalankan pengantaran sesuai SOP. Namun, menurut dia, pria tersebut masih mempertanyakan apakah yang dibawa ambulans merupakan pasien atau keluarga.
"Ternyata setelah saya buka (kaca ambulans), dia kan juga sudah tahu isinya apa. Tapi dia masih ngotot aja bahwasanya itu pasien atau keluarga seperti itu," tuturnya.
Ada Jenazah dan Empat Anggota Keluarga di Ambulans
Jeki menjelaskan saat kejadian terdapat tiga orang dewasa dan satu anak dari pihak keluarga di dalam ambulans. Selain mereka, jenazah juga berada di dalam kendaraan tersebut.
Dia menilai pertanyaan mengenai apakah yang dibawa merupakan pasien atau jenazah masih dapat dipahami. Namun, Jeki mengaku tidak memahami maksud pertanyaan mengenai pasien atau keluarga.
"Kalau (pertanyaan) kemungkinan pasien atau jenazah masih masuk akal. Lah, ini pertanyaannya pasien atau keluarga. Yang dimaksud keluarga itu juga apa saya juga belum paham," tuturnya.
Setelah memberikan penjelasan dan menunjukkan kondisi di dalam ambulans, Jeki kemudian melanjutkan perjalanan menuju Sampang.
Namun, kejadian tersebut sempat membuat pihak keluarga yang berada di dalam ambulans terpancing emosi. Menurut Jeki, salah seorang keluarga bahkan sempat melempar botol air minum kecil ke arah pria tersebut.
"Itu kemarin reflek waktu keluarga minum, botol air minum kecil disawatkan (dilempar) ke oknum tersebut juga," bebernya.
Sosok Satpol PP
Jeki kemudian mengungkap identitas pria yang disebutnya mendatangi ambulans. Menurut dia, sosok tersebut bernama Dimas dan bertugas sebagai anggota Satpol PP di Kecamatan Bulak, Surabaya.
Jeki mengatakan informasi mengenai identitas tersebut diperoleh dari sejumlah rekannya yang mengenal anggota Satpol PP di wilayah Bulak.
"Ini kebetulan rekan-rekan kita kan juga banyak, orang kita juga ada yang Bulak. Jadi banyak yang mengenali. Dan juga relasi Satpol PP juga banyak," kata Jeki saat dihubungi detikJatim, Kamis (24/9/2026).
Jeki menyebut pria tersebut saat kejadian masih mengenakan celana dan sepatu yang menurutnya merupakan bagian dari pakaian dinas lapangan (PDL).
"Celana sama sepatu masih pakai PDL," ujarnya.
Selain mempertanyakan tindakan terhadap ambulans, Jeki juga menyoroti aspek keselamatan karena pria tersebut disebut mengikuti ambulans menggunakan kendaraan tanpa spion.
"Dan oknum tersebut juga kurang safety karena tidak memakai spion (di kendaraannya)," pungkasnya.
Jeki berharap kejadian serupa tidak kembali terjadi. Dia menilai tindakan tersebut apabila benar dilakukan oleh anggota Satpol PP dapat berdampak terhadap citra institusi.
"Artinya itu termasuk oknum juga, mencoreng nama instansi juga seperti itu," katanya.
Satpol PP Surabaya Beri Klarifikasi
Satpol PP Surabaya kemudian buka suara mengenai peristiwa tersebut. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Satpol PP Surabaya Irna Pawanti menjelaskan bahwa petugas bernama Dimas memang merupakan anggota Satpol PP yang bertugas di Kecamatan Bulak.
Namun, Irna menyebut Dimas tidak bermaksud menghentikan atau menghalangi ambulans. Menurut dia, Dimas awalnya melihat spion ambulans dalam kondisi tertutup dan hendak mengingatkan pengemudi mengenai keselamatan.
"Dia melihat bahwa spion ambulans itu dua-duanya nutup. Jadi sebenarnya dia berada di depan ambulans awalnya," jelas Irna saat dihubungi detikJatim, Kamis (24/9/2026).
Irna mengatakan Dimas hendak menyampaikan informasi tersebut kepada pengemudi. Namun, suara sirene ambulans membuat komunikasi tidak terdengar.
"Dia ingin menyampaikan informasi itu kepada driver ambulans. Kan bahaya kalau spionnya dua-duanya nutup," katanya.
Karena tidak mendapat respons, Dimas kemudian mengetuk kaca ambulans. Menurut Irna, petugas tersebut meminta pengemudi membuka spion sekaligus menanyakan barang atau orang yang dibawa di dalam ambulans.
"Karena tidak terdengar, dia ketok-ketok kaca. Terus dia minta tolong kecilkan dulu. Sambil dia teriak-teriak memang, 'Ini mau dibuka enggak intinya? Dibuka. Ini sampean bawa apa?' gitu. 'Bawa jenazah apa bawa apa?' 'Bawa apa, bawa keluarga?' gitu," jelasnya.
Irna menyebut setelah mengetahui bahwa ambulans membawa jenazah, Dimas kemudian mempersilakan kendaraan tersebut melanjutkan perjalanan.
"Ternyata dia salah paham. Akhirnya petugas itu berhenti," lanjutnya.
"(Setelah tahu) berarti ya sudah, jenazah. Ya sudah silakan (lanjut perjalanan), selesai sudah. Begitu saja. Tidak ada niat-niat yang lain," bebernya.
Dimas Dipanggil untuk Klarifikasi
Satpol PP Surabaya kemudian memanggil Dimas untuk mengklarifikasi kejadian tersebut. Irna menyebut pemanggilan itu dilakukan untuk mengetahui secara langsung kronologi dari sisi petugas.
"Saya panggil, yang bersangkutan saya panggil, klarifikasi," ujarnya.
Menurut Irna, saat kejadian Dimas sedang dalam perjalanan dari rumah menuju kantor untuk menjalankan tugas malam di Kecamatan Bulak.
"Jadi Mas Dimas itu sedang melintas dari rumah mau ke mako, ke kantor untuk tugas malam di Kecamatan Bulak," kata Irna.
Satpol PP Surabaya juga berencana memediasi Dimas dengan komunitas ambulans BPJS Watch Surabaya. Mediasi tersebut diharapkan dapat menyelesaikan kesalahpahaman antara kedua pihak dan mencegah persoalan berkembang lebih jauh.
"Disampaikan kesalahpahaman ini. Ini hanya kesalahpahaman saja, jangan sampai meruncing," tuturnya.
Irna menegaskan tidak ada sanksi yang diberikan kepada Dimas karena berdasarkan hasil klarifikasi internal, pihaknya menilai kejadian tersebut merupakan miskomunikasi dan tidak ada niat untuk mengganggu perjalanan ambulans.
"Karena dari keterangan personel kami, dia tidak melakukan gangguan, tidak ada niat yang seperti itu, menghentikan hal-hal yang sifatnya tanpa alasan," pungkasnya.
Simak Video "5 Warga Bekasi Diamankan Saat Buru Sapu-sapu di Jakpus Buat Dijual"
[Gambas:Video 20detik] (auh/hil)
