SD Negeri Kauman 1 Kota Malang hampir sebulan lebih tak menerima program Makan Bergizi Gratis (MBG). Penghentikan distribusi MBG disebabkan adanya keracunan puluhan siswa akhir Juli 2026 lalu.
Kepala Sekolah SD Negeri Kauman 1 Sentot Hariyanto mengaku usai kejadian dugaan keracunan menimpa puluhan anak didiknya pada 21 Juli 2026 lalu, distribusi MBG tidak dilakukan lagi, karena Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukoharjo 1 yang biasanya mengirimkan MBG terkena suspend.
"Sejak kejadian (keracunan) tidak ada distribusi MBG. Karena informasinya SPPG-nya kena suspend," ungkap Sentot ditemui di kantornya, Selasa (22/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sentot mengaku, pihaknya selama ini tak mengetahui kepastian apakah program MBG akan berlanjut atau tidak. Karena SPPG ataupun koordinator MBG Kota Malang belum memberikan keterangan resmi terkait keberlanjutan MBG di lembaga pendidikannya.
"Belum ada tindaklanjut darI BGN maupun SPPG," kata Sentot.
Sebelumnya, sekolah sempat menerima MBG di akhir Juli 2026 lalu. Sehari setelahnya, sejumlah siswa tidak masuk sekolah karena mengeluhkan diare dan muntah.
Sentot menyebut sekitar 35 siswa saat itu tidak masuk dan mengeluhkan gangguan kesehatan. Sekolah kemudian bersurat kepada SPPG untuk menindaklanjuti makanan MBG yang diberikan.
Berdasarkan penelusuran puskesmas, terdapat sekitar 50 siswa yang dilaporkan sakit, meski makanan yang dikonsumsi siswa tidak seluruhnya sama.
"Dulu itu akhir Juli menerima MBG, besoknya beberapa siswa tidak masuk katanya diare muntah-muntah. Kami bersurat ke SPPG untuk menindaklanjuti MBG yang diberikan," ungkapnya.
Sentot menyebut, kondisi kemudian berangsur membaik. Hari berikutnya, mayoritas siswa sudah masuk dan hanya tersisa dua siswa yang masih menjalani perawatan.
Selama penghentian penyaluran akibat SPPG tersebut di suspend, sekolah juga menampung adanya pro dan kontra dari orang tua siswa mengenai kelanjutan MBG.
Dari sekitar 500 penerima manfaat, sekolah baru menyebarkan formulir melalui Google Form kepada wali murid pada Senin (21/9/2026) kemarin malam untuk mengetahui siapa yang bersedia dan tidak bersedia menerima MBG.
"Komunikasi pro kontra ada. Akhirnya dibuat pertanyaan siapa yang bersedia dan siapa yang enggak," ungkapnya.
Sentot menambahkan, bahwa hasil sementara dari kuisioner atau angket kepada wali murid. Sekitar 20 persen wali murid belum menyetujui kelanjutan MBG.
Namun, proses pengisian kuesioner masih berlangsung sehingga hasil tersebut belum menjadi keputusan akhir.
"Sekitar 20 persen menyatakan tidak setuju, dari google form yang kita bagikan kepada wali murid," tegasnya.
Meski begitu, Sentot mengaku bahwa sekolah juga tidak dapat memutuskan sendiri karena statusnya sebagai sekolah negeri.
Hasil penjaringan aspirasi akan kembali dikoordinasikan dengan Dinas Pendidikan dan satuan tugas MBG.
"Untuk keputusan mutlak, kami koordinasikan dengan Dinas Pendidikan karena kami sekolah negeri," jelasnya.
Sebelumnya, sekolah juga sempat menunggu informasi dari Satgas MBG terkait kelanjutan program, namun belum mendapat tindak lanjut dan kemudian kembali berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan.
Meski sempat terjadi kasus tersebut, Sentot menegaskan SDN Kauman 1 pada prinsipnya siap kembali menerima MBG.
Bahkan, sekolah telah menyiapkan ruangan untuk tempat penyaluran apabila program tersebut kembali berjalan.
Namun, pihak sekolah berharap ada pembenahan menyeluruh, terutama terhadap kualitas makanan, tata kelola, serta komunikasi antara dapur penyedia dan sekolah.
"Kami menerima MBG dan kami siapkan ruangannya juga untuk dikirim (MBG), katanya mulai besok lagi. Harapannya pertama supaya dapur memperbaiki kualitas. Tata kelola MBG mohon diperbaiki," harapnya.
Di sisi lain, Sentot mengaku sekolah tidak pernah menerima laporan tertulis secara langsung mengenai hasil penanganan kasus tersebut.
Dari informasi yang diterima sekolah lebih banyak disampaikan dalam pertemuan. Kendati demikian, sekolah tetap mengikuti arahan dan menunggu keputusan dari pihak terkait.
"Secara tertulis kami tidak menerima laporan itu, hanya menerima informasi saat pertemuan. Tetap kami terima, tunduk patuh dengan arahan," bebernya.
SD Negeri Kauman 1 berharap apabila program kembali dijalankan, kualitas makanan benar-benar dipastikan dan komunikasi dengan sekolah diperbaiki agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
"Kita harap kualitas dapur terpenuhi dan komunikasi dengan sekolah," pungkasnya.
Seperti diberitakan, Satgas Makan Bergizi Gratis (MBG) Kota Malang mengungkap penyebab puluhan siswa SD Kauman 1 keracunan disebabkan karena bakteri E-coli pada olahan telur. Satgas pun memutuskan distribusi MBG terpaksa dihentikan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tersebut.
Berdasarkan data Satgas MBG Kota Malang jumlah siswa penerima manfaat di SDN Kauman 1 sebanyak 538 orang, dari jumlah itu sebanyak 33 siswa mengalami keracunan. Distribusi MBG sendiri berasal dari SPPG Sukoharjo 1, Kecamatan Klojen, Kota Malang.
