Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya terpaksa menjalani pembelajaran daring atau jarak jauh (PJJ) mulai 22 September 2026. Kebijakan ini diambil imbas aksi unjuk rasa menuntut Rektor Prof Dr Akhmad Muzzaki mundur yang digelar di lingkungan kampus UINSA sejak 16 September 2026 hingga hari ini.
Menanggapi hal itu, Prof Abdul Kadir Riyadi, Ph.D, PLT Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat buka suara. Pihaknya menuturkan bahwa kebijakan tersebut diambil setelah mempertimbangkan situasi dan kondisi lingkungan kampus yang tidak memungkinkan diberlangsungkannya proses pembelajaran.
"Fakultas perlu memastikan bahwa kegiatan akademik tetap dapat berjalan dengan baik, sekaligus memperhatikan kenyamanan, bahkan juga keselamatan mahasiswa, dosen, dan seluruh warga kampus," kata Prof. Abdul Kadir Riyadi, Ph.D, saat dihubungi detikJatim, Selasa (22/09).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prof Abdul Kadir turut memastikan bahwa perkuliahan daring ini tidak akan mengurangi kualitas pembelajaran. Meski terdapat perbedaan karakteristik mata kuliah yang tidak memungkinkan dilaksanakan jarak jauh, seluruh dosen diharapkan dapat menyesuaikan metode pembelajaran.
"Apabila terdapat kegiatan yang memang tidak dapat dilaksanakan secara optimal melalui daring, perlu disiapkan solusi akademik, misalnya penjadwalan ulang, pelaksanaan kegiatan luring setelah kondisi memungkinkan, atau bentuk pembelajaran alternatif yang tetap memenuhi standar akademik," terangnya.
Walaupun pihak kampus telah berupaya menyesuaikan pembelajaran dengan optimal tetapi perubahan kebijakan pembelajaran dari tatap muka ke jarak jauh tentu perlu penyesuaian.
Prof Abdul Kadir Ph.D menyatakan pihaknya berupaya memaksimalkan pembelajaran tanpa mengurangi capaian kompetensi mahasiswa. Seluruh dosen diharapkan mengatur kembali metode penyampaian materi, pemberian tugas, dan evaluasi akademik.
"Prinsipnya, proses pembelajaran harus tetap terukur, adil, dan sesuai dengan capaian pembelajaran yang telah ditetapkan," lanjutnya.
Di sisi lain, pihaknya juga belum bisa memastikan kapan berakhirnya kebijakan kuliah daring itu. Prof Kadir mengaku masih menunggu situasi di lapangan hingga benar-benar kondusif dan berharap polemik ini segera menemukan solusi.
"Kita perlu menunggu perkembangan situasi di lapangan. Fakultas akan melakukan evaluasi secara berkala dan menyampaikan informasi apabila terdapat perubahan kebijakan. Tentu kami semua berharap kondisi segera membaik," harapnya.
Saat ini pihaknya telah melakukan koordinasi dengan pihak rektorat. Ia juga menghimbau kepada seluruh mahasiswa untuk tetap tenang, menjaga komunikasi, dan mengikuti perkuliahan sesuai arahan masing-masing.
"Kami berharap situasi segera kembali kondusif sehingga kegiatan akademik dapat berjalan secara normal," pungkasnya.
