Pemkab Sidoarjo menargetkan pembangunan rumah pompa di sisi timur kawasan Lippo, Sidoarjo, rampung pada Desember 2026. Pembangunan ini diharap bisa mengatasi banjir yang kerap menggenangi jalan di bawah layang tol di musim hujan.
Wakil Bupati Sidoarjo, Mimik Idayana meninjau langsung pembangunan rumah pompa itu. Dalam kunjungan itu, Mimik mengecek kualitas material sekaligus rencana penanganan banjir di kawasan Lippo dan sekitarnya.
Mimik mengatakan bahwa kawasan Lippo Mal, khususnya wilayah Sidokare, telah beberapa tahun menjadi salah satu titik yang berulang kali dilanda banjir. Saat hujan deras, debit air di kawasan itu meningkat cukup tinggi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini harus selesai sebelum puncak musim hujan. Targetnya sekitar 2 sampai 3 bulan. Desember harus selesai," kata Mimik saat meninjau lokasi pembangunan rumah pompa.
Menurutnya, selain mengejar waktu penyelesaian, kualitas konstruksi juga harus menjadi perhatian. Ia menemukan material pasir yang digunakan tidak sesuai dengan kualitas yang diharapkan untuk konstruksi pondasi penahan air.
Mimik meminta material itu diganti dengan pasir berkualitas baik. Sebab, bagian bawah fondasi disebut memiliki banyak sumber air sehingga konstruksi harus benar-benar kokoh dan mampu menahan tekanan air.
"Harus diganti. Fondasi tidak boleh dikompromikan. Harganya memang lebih mahal, tetapi kami tidak mau bangunan ini hanya bagus sekarang, kemudian bermasalah," tegasnya.
Mimik juga menyoroti kapasitas penampungan air yang disiapkan dalam proyek itu. Kolam penampungan memiliki ukuran sekitar 8 meter x 230 meter dengan volume tampung sekitar 1.000 meter kubik.
Menurutnya, kapasitas itu harus dipastikan mampu menampung debit air yang masuk ketika hujan deras. Jangan sampai rumah pompa selesai dibangun, tetapi persoalan banjir tetap terjadi karena daya tampung tidak mencukupi.
"Ini harus dihitung betul. Jangan sampai nanti ketika hujan besar, airnya meluap karena penampungannya tidak cukup," ujarnya.
Selain kapasitas tampungan, Mimik menyebut persoalan paling krusial adalah saluran pembuangan air. Dalam rencana awal, air dari kawasan Lippo akan dipompa dan dialirkan menuju Sungai Sidokare.
Namun, Sungai Sidokare juga kerap mengalami banjir. Kondisi tersebut membuat Pemkab Sidoarjo perlu memikirkan kembali jalur pembuangan agar penanganan banjir di Lippo tidak justru menimbulkan persoalan baru di wilayah lain.
"Jangan sampai kita menyelesaikan banjir di sini, tetapi kemudian memindahkan banjir ke tempat lain. Ini harus dipikirkan," jelas Mimik.
Ia menambahkan, kondisi sempadan Sungai Sidokare yang telah banyak dipenuhi permukiman juga menjadi kendala. Pelebaran atau normalisasi sungai tidak mudah dilakukan sehingga diperlukan alternatif penyaluran air yang aman.
Mimik meminta seluruh pihak terkait segera mencari solusi teknis mengenai pembuangan air tersebut. Menurutnya, waktu yang tersedia semakin sempit karena pembangunan harus selesai sebelum memasuki puncak musim hujan.
"Jangan hanya mengejar selesai. Kualitas harus dijaga, kapasitas harus dihitung, dan pembuangan airnya juga harus aman. Jangan sampai satu wilayah selesai, wilayah lain yang menjadi korban," pungkasnya.
