Kekeringan mulai berdampak pada sejumlah wilayah di Kabupaten Ponorogo. Hingga September 2026, tercatat 5 desa di 5 kecamatan mengalami kekurangan air bersih dengan total 241 KK atau 612 jiwa terdampak.
Kalaksa BPBD Ponorogo Masun mengatakan lima wilayah tersebut tersebar di Kecamatan Bungkal, Pulung, Sampung, Jambon, dan Slahung. BPBD pun terus melakukan dropping air untuk memenuhi kebutuhan warga.
"Berdasarkan data BPBD Ponorogo, hingga September 2026 terdapat 5 desa di 5 kecamatan yang mengalami kekurangan air bersih. Total ada 241 KK atau 612 jiwa yang terdampak," kata Masun, Senin (21/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rinciannya, kekurangan air terjadi di Dukuh Bungur, Desa Munggu, Kecamatan Bungkal, dengan 111 KK atau 193 jiwa terdampak. Kemudian Dukuh Dungus, Desa Karangpatihan, Kecamatan Pulung, terdapat 56 KK atau 189 jiwa.
Berikutnya yakni Dukuh Kroyo, Desa Gelangkulon, Kecamatan Sampung, dengan 10 KK atau 35 jiwa. Di Dukuh Sidowayah, Desa Sidoharjo, Kecamatan Jambon, tercatat 28 KK atau 120 jiwa terdampak.
"Sementara di Dukuh Gupit, Desa Caluk, Kecamatan Slahung, ada 36 KK atau 75 jiwa yang terdampak," terang Masun.
Kebutuhan air bersih di lima wilayah tersebut mencapai 52 ribu liter setiap pekan. Kebutuhan terbesar berada di Dukuh Dungus sebanyak 19 ribu liter per minggu, disusul Dukuh Bungur 18 ribu liter.
"Untuk Dukuh Kroyo, Sidowayah, dan Gupit masing-masing kebutuhan air bersihnya sekitar 5 ribu liter per minggu," jelasnya.
Hingga kini, BPBD Ponorogo telah menyalurkan 195 ribu liter air bersih. Distribusi terbanyak diberikan kepada warga Dukuh Dungus sebanyak 95 ribu liter, sedangkan Dukuh Bungur telah menerima 85 ribu liter.
Adapun Dukuh Kroyo telah mendapat 10 ribu liter dan Dukuh Sidowayah sebanyak 5 ribu liter. Sementara untuk warga Dukuh Gupit, dropping air bersih dijadwalkan mulai dilakukan pekan depan.
