Kiai Hasan Gontor Guyon 'Cari Muka' di Depan Prabowo

Kiai Hasan Gontor Guyon 'Cari Muka' di Depan Prabowo

Charolin Pebrianti - detikJatim
Sabtu, 19 Sep 2026 16:47 WIB
Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Ponorogo KH Hasan Abdullah Sahal.
Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Ponorogo KH Hasan Abdullah Sahal. Foto: Tangkapan layar
Ponorogo -

Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) Ponorogo KH Hasan Abdullah Sahal melontarkan guyonan soal 'cari muka' di depan Presiden Prabowo Subianto. Ia juga menegaskan Gontor memilih jalur pendidikan untuk membangun bangsa.

"Kami tetap memilih pendidikan. Bapak Presiden, saya... Saya tak (mau) ngomong agak ndak enak ya, Pak. Sorry yee," kata Kiai Hasan dalam acara peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo, Sabtu (15/9/2026).

Ia lalu menyinggung pesan Presiden Soekarno tentang pentingnya tidak melupakan sejarah. Namun, menurutnya, Gontor tidak ingin sekadar belajar dari sejarah, melainkan turut membangun sejarah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dulu Bapak Presiden Soekarno, jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Saya membaca buku, 'Bergurulah pada Sejarah'. Gontor tidak puas. Cerdaslah menyikapi sejarah karena kita akan membangun sejarah. Tidak menyerah pada sejarah," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Kiai Hasan juga bercerita soal penantian kedatangan Prabowo ke Gontor. Ia mengaku sudah lama memikirkan rencana tersebut.

ADVERTISEMENT

"Sejak Pak Prabowo ngomong sama saya September, September, September. Otak saya, Pak Prabowo, Pak Prabowo. Andaikata Pak Prabowo hari ini enggak datang, hah ini, muka saya, saya taruh di mana? Akhirnya saya harus cari muka," tuturnya.

Ucapan tersebut disambut suasana riuh. Kiai Hasan kemudian melanjutkan guyonannya dengan menyebut berbagai bentuk 'cari muka'.

"Sekarang banyak orang yang cari muka, betul? Orang ndak punya ijazah, cari ijazah. Orang ndak punya nama, cari nama. Orang ndak punya uang, cari uang. Orang ndak punya jabatan, cari jabatan. Orang ndak punya muka, cari muka," katanya.

"Lo, kok tepuk tangan? Tepuk tangan tidak pada waktunya, sorry, sorry," sambung Kiai Hasan yang kembali mengundang tawa dan tepuk tangan hadirin.

Kiai Hasan juga menegaskan Gontor menjadi tempat bertemunya berbagai latar belakang organisasi Islam. Ia menyebut santri dari kalangan NU maupun Muhammadiyah belajar di Gontor, dan berkontribusi di lingkungan masing-masing.

"Kami di sini, Bapak Presiden, tidak keluar dari kata-kata iman, Islam, ihsan sesuai dengan ijtihad para pendiri. Sehingga Gontor ini dari NU masuk sini, keluar NU lagi. Anak Muhammadiyah masuk Gontor, keluar Muhammadiyah lagi," jelasnya.

Ia bahkan kembali melontarkan guyonan soal latar belakang keluarganya. Kiai Hasan menyebut dirinya pernah disebut memiliki kecenderungan Muhammadiyah, tetapi seluruh menantunya berasal dari kalangan NU.

"Saya ini orang bebas. Orang bilang Muhammadiyah agak Wahabi dikit katanya. Tapi menantu saya NU kabeh, Pak. Akhirnya saya mendapat titel baru, Hasan Abdullah Aswabi. Aswaja-Wahabi," ucapnya.

Menurut Kiai Hasan, sejak awal berdiri, Gontor memiliki komitmen mendidik dan memerdekakan umat serta bangsa dari ketergantungan. Ia mengatakan pendidikan tetap menjadi pilihan utama Gontor dalam berkontribusi bagi Indonesia.

"Pondok kita ini sejak pertama, sejak zaman Belanda mendidik, memerdekakan bangsa, memerdekakan umat dari kesesatan, dari kekufuran, membebaskan bangsa ini dari ketergantungan," katanya.

"Insyaallah, Insyaallah tetap sama-sama membina umat, membina bangsa kita ini sesuai dengan cita-cita Republik Indonesia," imbuh Kiai Hasan.



(irb/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads