Tidak Ada 'Segitiga Masalembo', Ini Penjelasan Ilmiahnya

Tidak Ada 'Segitiga Masalembo', Ini Penjelasan Ilmiahnya

Aprilia Devi - detikJatim
Sabtu, 19 Sep 2026 12:40 WIB
Analisis Daryono terkait Segitiga Masalembo.
Analisis Daryono terkait Segitiga Masalembo. Foto: dok Istimewa
Surabaya -

Istilah Segitiga Masalembo sering dikaitkan dengan berbagai cerita misterius tentang kawasan laut tersebut. Bahkan, hal-hal mistis sering dianggap sebagai penyebab kecelakaan yang terjadi di sana.

Padahal, di balik istilah tersebut ada penjelasan ilmiah tentang kondisi laut Masalembo. Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menegaskan, kondisi perairan Masalembo dapat dibuktikan melalui proses oseanografi.

"Segitiga Masalembo hanyalah sekadar istilah, real-nya tidak ada," kata Daryono, Sabtu (19/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Daryono, perairan Masalembo memang memiliki dinamika oseanografi yang kompleks. Hal ini karena kawasan tersebut dipengaruhi interaksi perairan Laut Jawa, Selat Makassar, dan Laut Flores.

Dari arah utara, Selat Makassar membawa Indonesian Throughflow (ITF), yakni aliran massa air dari Samudra Pasifik menuju perairan Indonesia bagian selatan.

ADVERTISEMENT

"Karakter suhu dan salinitas massa air tersebut dapat berbeda berdasarkan kedalaman dan musim," terangnya.

Sementara itu, massa air dari Laut Jawa dipengaruhi kondisi atmosfer, musim monsun, serta masukan air tawar dari daratan. Dari arah timur, dinamika Laut Flores juga memberikan pengaruh terhadap sirkulasi dan struktur massa air di kawasan Masalembo.

"Interaksi massa air dengan perbedaan suhu, salinitas, densitas, dan stratifikasi tersebut menghasilkan proses pencampuran yang kompleks. Perbedaan kecepatan dan arah arus (current shear), interaksi dengan garis pantai, serta topografi dasar laut dapat meningkatkan vortisitas, dan pada kondisi tertentu membentuk pusaran laut (eddies)," jelasnya.

Tak hanya itu, kondisi dasar laut yang kompleks juga mempengaruhi dinamika perairan. Perubahan kedalaman dapat berinteraksi dengan arus pasang surut dan stratifikasi massa air.

Proses tersebut dapat mendukung pembentukan serta propagasi gelombang internal atau internal waves. Fenomena itu juga dapat meningkatkan pencampuran air secara vertikal. Menurut Daryono, berbagai hal tersebut dapat dijelaskan secara ilmiah.

"Dengan demikian, karakteristik fisik laut di kawasan Masalembo dapat dijelaskan melalui proses oseanografi yang nyata, interaksi arus, massa air, pasang surut, stratifikasi, topografi, dan pengaruh monsoon, bukan melalui penjelasan mistis," tuturnya.

Ia menilai pemahaman ilmiah mengenai kondisi perairan Masalembo penting.

"Agar fenomena laut yang kompleks tidak selalu dikaitkan dengan hal-hal supranatural," pungkasnya.



(irb/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads