Sebuah pengakuan mengenai dugaan pelecehan seksual dan prosedur rekrutmen tidak wajar yang dilakukan oknum Human Resources Department (HRD) di Surabaya ramai di media sosial. Korban menceritakan rentetan kejadian saat melamar di salah satu perusahaan logistik di Jalan Indrapura, Kecamatan Pabean Cantian, Surabaya.
Berikut ini sejumlah fakta pengakuan dari korban saat mengalami peristiwa traumatis tersebut.
Fakta-fakta Dugaan Pelecehan oleh HRD di Perusahaan Logistik Surabaya
1. Lowongan Kerja Janggal dan Syarat Swafoto Pegang KTP
Kejanggalan dirasakan Korban sejak awal melamar di PT. Hersindo Logistik Indonesia. Selain posisi pekerjaan yang tidak biasa, pelamar diwajibkan mengisi dua tautan formulir online, di mana salah satunya meminta foto fisik KTP dan tanda tangan digital.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kronologinya aku melamar di PT. Hersindo Logistik Indonesia, disitu lowongan yang buka ada cukup banyak, tapi yang anehnya ada posisi Terapis Pijat Family kayak gak ada hubungannya sama logistik. Terus akhirnya aku dapet panggilan interview, formatnya melebihi batas," kata Korban kepada detikJatim, Kamis (17/9/2026).
"Pas aku ngerjain yang link satu itu jujur agak ngerasa sedikit janggal, soalnya ngisi data pribadi yang spesifik bahkan sampai minta foto sambil pegang KTP dan disuruh tanda tangan digital juga. Di situ aku bingung, aku minta saran sama teman-teman, terus aku croscheck kan PT-nya, HRD-nya, semua kelihatan meyakinkan. Ya sudah aku lakuin aja kan, tapi sambil aku balik KTP-nya, soalnya ketentuannya sebelum interview wajib untuk mengisi kedua link terebut," ceritanya.
2. Gelagat Mencurigakan Pelamar Sebelum Sesi Wawancara
Saat mendatangi lokasi untuk wawancara pada 8 September 2026 pagi, Korban melihat kandidat yang diwawancarai sebelum dirinya keluar dari ruangan dengan ekspresi yang tidak biasa.
"Dia keluar kan, tapi aku lihat sekilas muka dia itu agak takut dan buru-buru gitu," ujarnya.
3. Pelecehan Seksual Terhadap Pelamar Posisi Terapis
Saat sesi wawancara Korban sempat tertunda untuk melengkapi data di luar, kandidat lain yang melamar posisi terapis masuk ke ruang wawancara. Di dalam ruangan, oknum HRD tersebut diduga melakukan tindakan pelecehan dengan meminta dipijat dan menawarkan imbalan uang, hingga terjadi sentuhan fisik tanpa persetujuan.
4. Modus Cek Otot Lengan dan Tes Orientasi Seksual
Saat Korban kembali masuk untuk melanjutkan wawancara, oknum HRD diduga melakukan tindakan tidak pantas dengan dalih menguji fisik dan memastikan orientasi seksual Korban.
"10 menitan awal interview pada umumnya, terus dia lihat data pribadiku, tiba-tiba bilang 'kamu underweight ya?' awalnya aku gak ngeh kan, terus dia nyuruh aku buat pegang handgrip. (Singkat cerita) dia tanya ke aku 'bagian tubuh saya mana yang kelihatan besar?', terus dia buka baju bagian lengan atasnya nyuruh aku pegang kak sekuat tenaga aku. Gak ada hubungan sama pekerjaan. Dia mau tes aku lesbi atau nggak dengan cara (sensitif) itu," jelasnya.
5. Kasus Dilaporkan ke Dinas Ketenagakerjaan
Merasa dirugikan dan mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan, Korban berharap tidak diterima bekerja di perusahaan tersebut dan telah mengadukan kejadian ini ke pihak berwenang.
"Sudah lapor ke Disnaker tapi diharuskan untuk membuat laporan langsung ke kantor Disnaker," pungkasnya.
