Segitiga Bermuda Indonesia atau Segitiga Masalembo di sekitar Pulau Masalembo kembali menjadi sorotan usai terbaliknya KM Virgo Transport 8 di Laut Jawa pada Minggu (13/9). Pakar lingkungan laut ITS, Kriyo Sambodho menjelaskan analisisnya soal kondisi perairan Masalembo.
Dosen Departemen Teknik Kelautan ITS tersebut mengingatkan, agar tragedi terbaliknya KM Virgo tidak dikaitkan dengan Segitiga Bermuda Indonesia yang dikaitkan dengan perairan Kepulauan Masalembo.
"Penyebab kejadian perlu ditelusuri berdasarkan kondisi lingkungan, teknis kapal, serta hasil investigasi yang dapat dipertanggungjawabkan," kata Dhodot sapaan akrabnya kepada wartawan di Departemen Teknik Perkapalan ITS, Rabu (16/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan analisis kondisi laut tersebut, menjadi bagian penting dalam memahami faktor keselamatan pelayaran.
Di sisi lain, Dhodot juga menjelaskan tentang perairan Kepulauan Malasembo usai adanya kecelakaan transportasi laut. Diketahui, ketika KM Virgo terbalik dan tenggelam, arah angin pada tenggara sekitar 20 knot dengan embusan hingga 30 knot serta gelombang signifikan mencapai 1,9-2,0 meter dapat memengaruhi stabilitas kapal.
"Kondisi perairan di wilayah Kepulauan Masalembo ini tergolong dinamis karena dipengaruhi angin muson barat dan timur serta proses transformasi gelombang. Berdasarkan data yang tersedia, kondisi tersebut termasuk adverse marine conditions meskipun tidak masuk kategori cuaca ekstrem menurut klasifikasi BMKG. Ketinggian gelombang yang mencapai 2 meter saat itu sangat mungkin membuat kapal tidak stabil," jelasnya.
Berdasarkan data hidrometeorologi di sekitar lokasi, menunjukkan kecepatan angin tenggara berada pada kisaran 18-20 knot sepanjang periode pengamatan. Embusan angin tercatat mencapai 27-30 knot. Kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan gelombang signifikan yang meningkat dari sekitar 1,7 meter menjadi 2 meter.
"Kombinasi kondisi lingkungan tersebut perlu diperhatikan dalam melihat stabilitas kapal. Selain tinggi gelombang, arah angin dan gelombang terhadap posisi kapal dapat menjadi faktor yang memengaruhi respons kapal ketika berlayar di perairan terbuka," urainya.
Ia menjabarkan, pada periode gelombang di sekitar KM Virgo terbalik, berada pada kisaran 7-8 detik dengan arah gelombang dari tenggara. Sementara arus laut permukaan tercatat sekitar 1,0-1,2 knot yang bergerak ke arah barat.
"Kondisi tersebut menunjukkan perairan di sekitar lokasi memiliki dinamika yang perlu diperhitungkan dalam aspek keselamatan pelayaran," ujarnya.
Jika dugaan masuknya air ke dalam kapal, salah satu bagian yang perlu diperiksa ialah ramp door. Di mana pintu berukuran besar itu menjadi akses keluar masuk kendaraan dan muatan ke kapal, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan teknis.
"Selain kondisi laut, kemungkinan kegagalan mesin juga tidak dapat diabaikan. Namun, berbagai kemungkinan tersebut belum dapat dijadikan kesimpulan sebelum dilakukan investigasi lebih lanjut untuk mengetahui penyebab pasti kejadian secara menyeluruh," pungkasnya.
