Angin kencang melanda sejumlah wilayah Jawa Timur dalam beberapa waktu terakhir. Pakar kebencanaan mengingatkan masyarakat agar senantiasa waspada, terutama terhadap risiko pohon tumbang, kebakaran, hingga gelombang tinggi di perairan.
Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) Dr. Daryono mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran terbuka saat kondisi angin kencang. Bara api yang terbawa angin dapat menyebar dan memicu kebakaran di area lain.
"Sangat diimbau kepada warga untuk tidak membakar sampah, jerami, atau membuka lahan dengan cara dibakar. Bara api yang terbawa angin dapat menjangkau lokasi jauh dan memicu kebakaran hebat," kata Daryono saat dihubungi detikJatim, Rabu (16/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, masyarakat juga diimbau waspada saat berkendara, khususnya pengguna motor atau roda dua.
"Pengendara perlu mengantisipasi dorongan angin dari samping atau crosswind," tuturnya.
Daryono juga mengingatkan warga agar tidak berteduh maupun memarkir kendaraan di bawah pohon tua, baliho berukuran besar, atau tiang yang berpotensi roboh ketika angin kencang.
"Masyarakat bersama instansi setempat disarankan memangkas dahan-dahan pohon yang lapuk atau terlalu rimbun, serta memastikan atap rumah terpasang kokoh," ujarnya.
Menurut Daryono, fenomena angin kencang yang terjadi di Jawa Timur berkaitan dengan menguatnya Angin Muson Timur. Kondisi ini berlangsung ketika Jawa Timur masih berada pada periode puncak musim kemarau.
Fenomena tersebut diperkuat oleh gradien tekanan udara yang signifikan, yakni adanya perbedaan tekanan udara antara Benua Australia yang relatif bertekanan tinggi dan wilayah ekuator yang bertekanan lebih rendah.
Di sejumlah wilayah seperti Probolinggo, Pasuruan, hingga Malang Raya, aliran angin timuran yang melewati wilayah pegunungan juga dapat mengalami pembiasan dan akselerasi sehingga menghasilkan angin lokal yang kering dan kencang, seperti Angin Gending.
"Potensi angin kencang ini umumnya berlangsung dinamis hingga masa transisi atau pancaroba, sekitar akhir September hingga Oktober, saat pola angin timuran mulai melemah dan beralih ke Muson Barat," jelasnya.
Ia pun menyebut bahwa masyarakat juga perlu mewaspadai dampak angin kencang terhadap kondisi perairan. Angin timuran yang kuat dapat meningkatkan tinggi gelombang.
"Nelayan dapat selalu memantau update prakiraan cuaca dan tinggi gelombang dari BMKG sebelum melaut. Jika kondisi perairan tidak memungkinkan, utamakan keselamatan dengan menunda aktivitas pelayaran," katanya.
Tak hanya berdampak terhadap lingkungan dan aktivitas masyarakat, angin kencang juga dapat membawa debu serta partikel kering. Kondisi tersebut berpotensi memicu iritasi mata dan gangguan pernapasan yang perlu diwaspadai tubuh. Sehinnga proteksi diri juga menjadi hal penting.
"Gunakan masker dan kacamata pelindung saat beraktivitas di luar ruangan untuk mengantisipasi paparan debu dan menjaga kesehatan pernapasan," pungkasnya.
