77 Pelajar dan Guru di Trenggalek Alami Keracunan Usai Santap MBG

77 Pelajar dan Guru di Trenggalek Alami Keracunan Usai Santap MBG

Adhar Muttaqin - detikJatim
Selasa, 15 Sep 2026 20:10 WIB
Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek dr Sunarto
Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek dr Sunarto (Foto: Adhar Muttaqin/detikJatim)
Trenggalek -

Puluhan pelajar di Trenggalek diduga mengalami gejala keracunan usai mengkonsumsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Kasus tersebut saat ini masih dalam penanganan Satgas MBG.

Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek dr Sunarto mengatakan, dugaan keracunan tersebut dialami oleh 77 pelajar dan guru di SMP dan MA Global, Kecamatan Karangan. Rinciannya 27 siswa, 7 guru MA, serta 41 siswa dan 2 guru SMP Global .

"Kami menerima laporan ada sebagian muridnya yang terkena dengan keluhan berupa diare, kemudian ada sakit perut dan lain sebagainya," kata dr Sunarto, Selasa (15/9/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Informasi tersebut akhirnya dilakukan penyelidikan epidemiologi oleh dinas kesehatan setempat dengan mengumpulkan berbagai barang bukti dan keterangan untuk dilakukan pemeriksaan lebih dalam.

ADVERTISEMENT

Menurutnya keluhan para pelajar tersebut diketahui oleh pihak sekolah sejak Senin. Namun, baru dilaporkan ke Satgas MBG Trenggalek pada hari ini.

Dari data sementara pasokan MBG yang dikonsumsi siswa berasal dari SPPG milik Yayasan Mulia Hiroku Gakkou dengan jumlah penerima manfaat mencapai 1.000 orang.

"Tentunya kami, mencari kira-kira kemungkinannya seperti apa, kemungkinan penyebabnya apa? Terus kemudian kita juga tetap melakukan pemeriksaan terhadap SPPG dan ini sudah dilaporkan ke BGN Pusat," imbuhnya.

Upaya ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi jika jumlah siswa yang terdampak semakin bertambah dan berpotensi menjadi kejadian luar biasa (KLB).

Sunarto menambahkan, dari keterangan di lapangan para siswa dan guru sebelumnya menyantap MBG dengan menu ayam bumbu rendang tanpa santan, acar mentimun dan wortel, tempe goreng serta potongan buah melon.

Beberapa sampel makanan yang telah didapatkan dari SPPG dan sekolah akan dikirim laboratorium guna dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk mengetahui zat yang diduga menjadi penyebab keracunan.

"Cuma problemnya kalau sudah kemarin itu biasanya sudah kontaminasinya sudah cukup besar," imbuhnya.

Pascainsiden ini pihaknya belum bisa memastikan terkait keberadaan SPPG yang memasok makanan. Keputusan operasional menunggu keputusan langsung dari BGN pusat.



(auh/abq)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads