Pertemuan Achmad Hidayat dengan Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) di Solo berbuntut pemecatan dirinya dari PDI Perjuangan. Namun, ada satu hal yang kemudian disampaikan Hidayat kepada DPP PDIP dari pertemuan tersebut, yakni pernyataan Jokowi soal hubungannya dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.
DPP PDI Perjuangan resmi memecat kader DPC PDIP Surabaya Achmad Hidayat dari keanggotaan partai per 4 September 2026. Pemecatan itu dilakukan setelah Hidayat berkunjung ke kediaman Jokowi dan kemudian menyuarakan rehabilitasi status keanggotaan Jokowi di PDIP.
Hidayat membenarkan dirinya telah resmi dipecat dari PDIP. Dia menyebut, pemecatan tersebut berkaitan dengan kunjungannya ke rumah Jokowi di Solo pada Juli 2026.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Betul. Saya ke rumah Jokowi itu kurang lebih bulan Juli ya. Hanya jadi silaturahim, lalu saya posting di Instagram itu. Nah, tidak lama setelah itu, bulan Agustus ada usulan pemecatan dari DPC Kota Surabaya ke DPP, sehingga saya dipanggil oleh DPP," kata Hidayat kepada detikJatim, Minggu (13/9/2026).
Hidayat mengatakan, kunjungannya ke rumah Jokowi dilakukan atas inisiatif pribadi. Saat itu, dia baru selesai berziarah ke makam Mbah Hasan Besari di Ponorogo.
Dia datang bersama sejumlah rekan, termasuk kader senior PDIP dan pihak swasta. Hidayat menegaskan dirinya tidak mengenakan atribut partai saat bertemu Jokowi.
"Saya pakai pakaian putih netral, atas inisiatif saya sendiri," ujarnya.
Dalam pertemuan itu, Hidayat mengaku hanya bersilaturahmi dan berfoto. Dia juga sempat menanyakan kepada Jokowi mengenai keharmonisan hubungan kebangsaan.
Dari percakapan tersebut, Hidayat kemudian menyampaikan kepada DPP PDIP mengenai pernyataan Jokowi terkait hubungannya dengan Megawati.
"Sekalipun ngobrolnya berdua dengan saya, penyampaiannya (Jokowi) 'Saya tidak ada masalah dengan Ibu Mega, dan suatu saat nanti mesti akan ketemu.' Nah, hanya ngobrol itu aja yang saya ungkapkan ke DPP," ceritanya.
Unggahan foto kunjungan Hidayat ke kediaman Jokowi di media sosial kemudian berbuntut panjang. DPC PDIP Surabaya mengusulkan pemecatan Hidayat kepada DPP PDIP.
Hidayat selanjutnya dipanggil untuk menjalani sidang Komite Etik dan Disiplin PDIP pada 26 Agustus 2026. Sidang tersebut dipimpin Sadarestuwati.
Dalam persidangan, Hidayat mengaku mendapat sejumlah pertanyaan terkait dugaan adanya langkah politik lain. Salah satunya mengenai isu rencana kepindahannya ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Hidayat membantah isu tersebut. Dia menegaskan kunjungannya ke kediaman Jokowi hanya merupakan silaturahmi pribadi.
"Sampai saat ini belum ada dan tidak ada pembicaraan perihal itu. Wong kita itu hanya silaturahmi biasa. Lah saya ini loh siapa? Cuma kader biasa, sudah dua tahun digitu-gitukan terus," jelasnya.
Setelah menjalani sidang etik, Hidayat bersama sejumlah rekannya sempat menyampaikan tiga poin pernyataan sikap kader. Salah satu poinnya mengusulkan agar DPP PDIP mempertimbangkan rehabilitasi nama Jokowi sesuai dengan AD/ART partai.
Selain itu, mereka menyuarakan pengembalian hak pengurus DPC, PAC, hingga ranting yang berjuang dalam Pemilu. Mereka juga mendorong pengawalan terhadap RUU Perampasan Aset.
SK pemecatan Hidayat tertanggal 4 September 2026. Surat keputusan tersebut baru diterimanya pada 9 September 2026.
Hidayat mengaku menerima keputusan pemecatan itu dengan legawa. Dia juga menyampaikan terima kasih kepada PDIP karena telah memberinya kesempatan berproses dan berkontribusi selama menjadi kader.
"Ya saya menyampaikan terima kasih sudah diberikan kesempatan. Saya bersama almarhum Pak Whid (Adi Sutarwijono) dulu bisa memenangkan Pilkada Eri-Armuji 2 kali, memenangkan Pilgub Bu Risma di Surabaya. Sekalipun sumbangsih saya kecil secara politik di PDI Perjuangan, saya berterima kasih," katanya.
Meski telah dipecat, Hidayat mengatakan dirinya tetap berpegang pada amanat partai mengenai PDIP sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berasaskan Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika.
"Kalau memang saat ini DPP partai melihat langkah saya itu abot (berat) ke urusan partainya, bukan urusan kebangsaannya, ya monggo. Nanti biar waktu yang menguji. Saya legawa dan berterima kasih sekali," pungkasnya.
