Pesawat Batal Terbang, Rombongan Asal Kalteng Terlunta-lunta di Surabaya

Pesawat Batal Terbang, Rombongan Asal Kalteng Terlunta-lunta di Surabaya

Suparno - detikJatim
Senin, 07 Sep 2026 14:15 WIB
Rombongan PWKI asal Sukamara, Kalimantan Tengah, yang terlunta-lunta di Surabaya gegara pesawat mereka batal terbang.
Rombongan PWKI asal Sukamara, Kalimantan Tengah, yang terlunta-lunta di Surabaya gegara pesawat mereka batal terbang. (Foto: Suparno/detikJatim)
Sidoarjo -

Sebanyak 14 orang rombongan Persatuan Wanita Kristen Indonesia (PWKI) Kabupaten Sukamara, Kalimantan Tengah tertahan di Bandara Juanda Surabaya. Mereka gagal melanjutkan perjalanan pulang ke Pangkalan Bun setelah penerbangan Nam Air yang akan mereka naiki batal terbang gegara abu vulkanik.

Salah satu pengurus PWKI Sukamara, Tata Riani (50) mengatakan rombongannya baru saja mengikuti kegiatan PWKI di Denpasar, Bali. Mereka kemudian melakukan perjalanan pulang dengan rute Denpasar-Surabaya-Pangkalan Bun.

Namun, penerbangan dari Surabaya menuju ke Pangkalan Bun yang seharusnya berangkat pukul 15.00 WIB harus ditunda untuk waktu tertentu akibat kondisi abu vulkanik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami dapat informasi sejak tadi malam. Penerbangan ditunda karena aktivitas gunung berapi dan abu vulkanik," kata Tata kepada detikJatim, Senin (7/9/2026).

Tata menyebut pihak maskapai Nam Air sementara memberikan informasi bahwa penerbangan baru bisa dilakukan pada 9 September. Namun, hingga kini belum ada kepastian apakah penerbangan di tanggal itu benar-benar bisa dilaksanakan.

ADVERTISEMENT

"Katanya ditunda sampai tanggal 9, tapi belum ada kepastian juga tanggal 9 itu bisa terbang atau tidak," ujarnya.

Kondisi itu membuat rombongan yang berjumlah 14 orang ini harus memperpanjang masa tinggal di Surabaya. Mereka diperkirakan harus menginap 2 malam lagi sembari menunggu kepastian penerbangan.

Menurut Tata, rombongan sebenarnya telah mencari opsi penerbangan lain agar bisa segera pulang ke Pangkalan Bun. Namun, harga tiket yang tersedia sudah melonjak hingga lebih dari Rp 2 juta per orang.

"Ada tiga penerbangan alternatif, tapi harganya sudah lebih dari Rp 2 juta per orang. Kami juga belum tahu apakah tersedia dan apakah bisa dilakukan pergantian pesawat," jelasnya.

Selain persoalan tiket, rombongan juga harus memikirkan biaya tambahan untuk penginapan dan konsumsi selama tertahan di Surabaya. Mereka juga harus kembali mengurus izin dari tempat kerja karena jadwal kepulangan mengalami perubahan.

"Kami harus bertahan, mengeluarkan biaya lagi, harus izin kerja lagi. Sampai saat ini belum ada kepastian," keluh Tata.

Rombongan PWKI Sukamara berharap ada kepastian dari pihak maskapai soal jadwal penerbangan. Sebab, mereka masih belum mengetahui kapan bisa kembali ke Pangkalan Bun.

"Kami masih terlunta-lunta. Belum tahu nasib kami kapan bisa pulang," pungkasnya.



(irb/dpe)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads