Kabupaten dan Kota di Jatim yang Merayakan Hari Jadi September 2026

Kabupaten dan Kota di Jatim yang Merayakan Hari Jadi September 2026

Irma Budiarti - detikJatim
Selasa, 01 Sep 2026 14:15 WIB
Ilustrasi hari jadi kabupaten dan kota di Jawa Timur bulan September.
Ilustrasi hari jadi kabupaten dan kota di Jawa Timur bulan September. Foto: Gemini AI
Surabaya -

Kabupaten dan kota di Jawa Timur memiliki hari jadi yang ditetapkan berdasarkan perjalanan sejarah masing-masing daerah. Penetapannya merujuk pada berbagai sumber, mulai dari catatan kerajaan dan prasasti hingga perkembangan pemerintahan di masing-masing wilayah.

Pada September, ada sejumlah kabupaten dan kota di Jawa Timur yang memperingati hari jadi. Berikut daftar daerah beserta tanggal hari jadi dan sejarah singkat yang menjadi dasar penetapannya.

Kabupaten dan Kota di Jatim yang Rayakan Hari Jadi September

Dua daerah di Jawa Timur memperingati hari jadi pada September, yakni Kota Probolinggo dan Kabupaten Pasuruan. Kedua daerah tersebut memiliki sejarah dan dasar penetapan hari jadi yang berbeda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Kota Probolinggo

Hari Jadi: 4 September 1359

Hari Jadi Kota Probolinggo.Hari Jadi Kota Probolinggo. Foto: Davira Aurelly/detikJatim

Melansir laman resmi Pemkot Probolinggo, wilayah Kota Probolinggo pada masa Kerajaan Majapahit dikenal dengan nama Banger. Nama tersebut berasal dari sungai yang mengalir di tengah wilayah Banger, dan tercatat dalam Kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca.

ADVERTISEMENT

Pada awalnya, Banger merupakan pedukuhan kecil di bawah pemerintahan Akuwu Sukodono. Seiring perkembangan pemerintahan Majapahit, Banger berkembang menjadi pakuwon.Wilayah ini kemudian berada di perbatasan Majapahit dan Blambangan, yang berkaitan dengan konflik Perang Paregreg.

Pada masa VOC, wilayah di sebelah timur Pasuruan, termasuk Banger, diserahkan kepada VOC pada 1743. Pada 1746, VOC mengangkat Kyai Djojolelono sebagai bupati Banger pertama.

Pusat kabupaten saat itu berada di Desa Kebonsari Kulon. Kyai Djojolelono kemudian meninggalkan jabatan sebagai bupati Banger pada 1768 setelah menyadari bahwa dirinya terlibat dalam politik adu domba VOC.

Kepemimpinan selanjutnya diteruskan oleh Raden Tumenggung Djojonegoro sebagai bupati Banger kedua. Pada masa kepemimpinan Djojonegoro, wilayah Banger berkembang dan jumlah penduduk bertambah. Ia juga mendirikan Masjid Jami' sekitar 1770.

Pada tahun yang sama, Tumenggung Djojonegoro yang kemudian dikenal dengan sebutan Kanjeng Djimat mengubah nama Banger menjadi Probolinggo. Nama tersebut berasal dari kata probo yang berarti sinar dan linggo yang berarti tugu, badan, tanda peringatan, atau tongkat.

2. Kabupaten Pasuruan

Hari Jadi: 18 September 929

Hari Jadi Kabupaten Pasuruan.Hari Jadi Kabupaten Pasuruan. Foto: Gavriel Rama Evantya/detikJatim

Berdasarkan informasi dari laman resmi Pemkab Pasuruan, sejarah Kabupaten Pasuruan berkaitan dengan perkembangan sejumlah kerajaan di Jawa, salah satunya Kerajaan Kalingga.

Pada 742-755 Masehi, pusat pemerintahan Kalingga disebut dipindahkan ke wilayah timur oleh Raja Kiyen, ke daerah yang disebut Po-Lu-Kia-Sien. Nama tersebut ditafsirkan sebagai Pulokerto, salah satu desa di Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan.

Jejak sejarah Pasuruan kemudian terlihat pada masa Mpu Sindok. Pada 929 Masehi, Mpu Sindok memindahkan pusat pemerintahan Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Salah satu peninggalan dari masa tersebut adalah Prasasti Cungrang atau Sukci yang ditemukan di Dusun Sukci, Desa Bulusari, Kecamatan Gempol.

Prasasti tersebut menjadi dasar penting dalam penetapan hari jadi Kabupaten Pasuruan. Berdasarkan kajian sejarah, tanggal dalam prasasti tersebut dikonversikan menjadi Jumat Pahing 18 September 929 Masehi.

Nama Pasuruan kemudian dikenal sebagai nama tempat hunian pada masa Kerajaan Majapahit, dan tercatat dalam Kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca. Secara kebahasaan, Pasoeroean dapat diuraikan menjadi pa-soeroe-an, yang berarti tempat tumbuh tanaman suruh atau kumpulan daun suruh.

Dalam perkembangannya, Pasuruan berada dalam pengaruh sejumlah kerajaan, mulai dari Giri, Demak, Pajang, hingga Mataram. Pada masa Mataram, wilayah Pasuruan mengalami berbagai pergolakan, termasuk ketika Untung Suropati berkuasa di wilayah tersebut.

Pada masa kolonial Belanda, Kabupaten Pasoeroean dibentuk berdasarkan Staatsblad 1900 Nomor 334 yang mulai berlaku pada 1 Januari 1901. Setelah melalui kajian sejarah, Prasasti Cungrang atau Sukci ditetapkan sebagai dasar hari jadi Kabupaten Pasuruan.

Penetapan tersebut kemudian dituangkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Pasuruan Nomor 8 Tahun 2007. Berdasarkan ketentuan tersebut, 18 September diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Pasuruan, dengan dasar sejarah kelahiran daerah pada 18 September 929 Masehi.



(irb/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads