Marak Sound Horeg di Malang Raya Tuai Pro dan Kontra

Marak Sound Horeg di Malang Raya Tuai Pro dan Kontra

M Bagus Ibrahim - detikJatim
Senin, 31 Agu 2026 18:15 WIB
Warga menyaksikan gelaran Urek Urek Carnival yang diiringi perangkat audio berkapasitas besar di Desa Urek-urek Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Sabtu (12/7/2025). Karnaval dengan iringan-iringan audio kapasitas besar tersebut diselenggarakan tiap tahun saat momentum selamatan desa atau setelahnya dalam rangka memeriahkan bersih desa yang diperingati pada bulan Suro pada penanggalan Jawa. ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya/nym.
Ilustrasi sound horeg (Foto: ANTARA FOTO /Irfan Sumanjaya)
Malang -

Parade Sound Horeg menjadi salah satu pilihan warga sebagai sarana memeriahkan perayaan kemerdekaan di berbagai daerah, terutama di Malang Raya. Namun, dinamika di lapangan menunjukkan masih munculnya pro dan kontra di balik maraknya tradisi hiburan bersuara nyaring tersebut.

Dentuman musik berdaya tinggi yang mengiringi karnaval warga bukan sekadar menghadirkan hiburan, melainkan juga mencerminkan pergeseran cara masyarakat mengekspresikan kegembiraan dan kebersamaan di ruang publik. Perubahan dari perayaan tradisional menuju gaya kekinian dipandang sebagai dinamika budaya yang berkembang.

Menanggapi fenomena tersebut, Pakar Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Wahyudi Winarjo, M.Si., menilai Sound Horeg sebagai bentuk budaya pop yang mencerminkan karakter masyarakat postmodern. Pergeseran bentuk ekspresi perayaan menurutnya adalah hal yang wajar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sound Horeg menjadi ruang rindu sebagian anak bangsa untuk bertemu di ruang terbuka, melepas kepenatan ekonomi, politik, dan kehidupan sehari-hari, sekaligus mengekspresikan diri secara bebas. Meski menimbulkan pro dan kontra, secara sosiologis Sound Horeg tetap menjadi ruang masyarakat untuk merasakan kebersamaan," ujarnya, Senin (31/8/2026).

Pergeseran ini memperlihatkan bagaimana seni dan tradisi lokal berakulturasi dengan tren populer. Sound Horeg pada akhirnya menjadi panggung perjumpaan massa untuk berkumpul, menikmati hiburan, hingga menunjukkan eksistensi kelompoknya.

ADVERTISEMENT

Meski memiliki daya tarik massa yang kuat, dampak dari dentuman pengeras suara berdaya tinggi ini tak ditampik kerap mengganggu kenyamanan publik, terutama warga di sekitar rute karnaval.

"Memang harus kita akui dentumannya mengganggu kemampuan normal manusia, khususnya pada suara dan rasa keindahan seni budaya. Namun, masyarakat tetap memperoleh keuntungan psikologis, ekonomi, dan relasional dari kegiatan tersebut," jelas Wahyudi.

Dari sudut pandang ekonomi warga, fenomena ini tidak berdiri sendiri. Kehadirannya sukses menggerakkan rantai ekonomi lokal-mulai dari jasa penyewaan armada truk, perangkat audio, pengelolaan lahan parkir, hingga geliat pelaku UMKM serta pedagang kaki lima yang meraup untung di sepanjang jalur acara.

Lebih lanjut, Wahyudi menekankan bahwa Sound Horeg merupakan bagian dari budaya populer yang bersifat dinamis dan sementara. Seiring berjalannya waktu, tren semacam ini sangat mungkin bertransformasi kembali sesuai dengan pencarian identitas masyarakatnya.

"Budaya pop akan terus berganti dan setiap orang akan selalu mencari jati diri. Sound Horeg merupakan subvarian budaya yang mengikuti era postmodernisme dan menjadi salah satu bentuk pencarian identitas kolektif masyarakat," tuturnya.

Pada akhirnya, fenomena Sound Horeg di Malang Raya tidak bisa hanya dilihat dari seberapa keras volume suara yang dihasilkan. Di balik perdebatan regulasi dan kenyamanan lingkungan, terdapat kebutuhan sosial masyarakat untuk merayakan kebebasan, menjaga kebersamaan, dan memutar roda ekonomi lokal yang perlu dikelola secara bijak oleh semua pihak.



(auh/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads