Pemkab Banyuwangi terus mengoptimalkan kontribusi sektor swasta untuk mempercepat pembangunan daerah. Salah satu motor penggerak pertumbuhan di ujung timur Pulau Jawa ini berasal dari investasi PT Bumi Suksesindo (PT BSI).
Sekretaris Daerah (Sekda) Banyuwangi, Dr. Suyanto Waspo Tondo Wicaksono, M.Si., mengungkapkan bahwa anak perusahaan PT Merdeka Copper Gold Tbk tersebut rutin menyalurkan program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) atau Corporate Social Responsibility (CSR) sejak 2012.
Pria yang akrab disapa Yayan ini menjelaskan, prioritas utama program PPM dialokasikan untuk wilayah ring satu yang mencakup Kecamatan Pesanggaran, Siliragung, dan Bangorejo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Khusus 3 kecamatan-Siliragung, Bangorejo, dan Pesanggaran-itu istimewa karena mendapatkan porsi CSR yang lebih besar dibanding wilayah lainnya," ujar Yayan, Sabtu (29/8/2026).
Nilai program PPM dari operator tambang emas Gunung Tumpang Pitu tersebut bervariasi setiap tahun. Bahkan, pada tahun terakhir, nilai komitmen sosial BSI tersebut tercatat menembus angka Rp52 miliar.
Yayan menegaskan, dana PPM tidak disalurkan dalam bentuk uang tunai, melainkan diwujudkan melalui program nyata yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
"PPM bukan dibagikan berbentuk uang, melainkan program pembangunan infrastruktur, pemberdayaan ekonomi, hingga beasiswa pendidikan," tambahnya.
Selain PPM, seluruh kontribusi finansial resmi dari PT BSI dipastikan masuk ke kas daerah secara transparan.
"Tercatat semuanya masuk ke kas daerah," tegas Yayan.
Dana tersebut kemudian dialokasikan untuk pembangunan wilayah melalui pembahasan bersama antara pihak eksekutif dan DPRD Banyuwangi.
Inisiasi Pembentukan Dana Abadi Daerah
Guna menjaga keberlanjutan manfaat investasi dalam jangka panjang, Pemkab Banyuwangi kini tengah menyusun draf Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang pembentukan Dana Abadi Daerah (DAD).
Banyuwangi menjadi salah satu daerah pelopor skema instrumen keuangan ini. Tercatat, hanya ada lima wilayah di Indonesia yang menjadi *pilot project* DAD, yakni Aceh, DIY, DKI Jakarta, Bojonegoro, dan Banyuwangi.
Yayan memproyeksikan, modal awal DAD akan bersumber dari hasil penjualan saham Pemkab Banyuwangi di tambang emas PT BSI. Langkah strategis ini diambil agar kekayaan daerah tidak menyusut seiring dinamika korporasi di masa depan.
"Saham itu nilainya fluktuatif. Jika kelak tambang membuka anak usaha baru di tempat lain, komposisi saham Pemkab Banyuwangi berpotensi mengecil," jelasnya.
Melalui DAD, Pemkab Banyuwangi berkomitmen meninggalkan warisan (*legacy*) yang kokoh bagi generasi mendatang. Hasil investasi dari dana abadi diharapkan tetap memberikan manfaat fiskal yang berkelanjutan.
"Dana abadi menjadi solusi dan bukti bahwa kita pernah memiliki saham di tambang emas. Saat tambang itu tutup, investasi dana abadi tetap ada. Dananya utuh, sementara hasil pengembangannya yang dimanfaatkan untuk pembangunan," pungkasnya.
