Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya mengembangkan inovasi aplikasi gamifikasi bernama Owly Quest, mengajak mahasiswa baru mengenal kampus. Lewat aplikasi tersebut, pengenalan kampus disulap jadi aksi seru berburu harta karun alias treasure hunt.
Sebelum PKKMB, Owly Quest dapat membantu mahasiswa baru menerima informasi lewat ceramah atau panduan tertulis, diajak bergerak aktif, mendatangi titik-titik koordinat di area kampus, memecahkan tantangan, hingga mengumpulkan penghargaan digital.
Rektor Untag Surabaya, Harjo Seputro mengatakan, aplikasi ini dihadirkan untuk membantu mahasiswa baru beradaptasi di lingkungan kampus secara lebih praktis. Jika sebelumnya informasi tersebar di berbagai platform dan harus diunduh secara terpisah, kini seluruh kebutuhan informasi telah terintegrasi dalam satu wadah di Owly Quest.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini diluncurkan menjelang PKKMB dalam rangka untuk membantu maba dalam beradaptasi di kampus dalam aplikasi Owly Quest," kata Harjo kepada wartawan di kampus Untag Surabaya, Selasa (25/8/2026).
Aplikasi tersebut akan dikembangkan lagi untuk memudahkan atau meningkatkan layanan bidang akademik, keuangan, kemahasiswaan, dan lainnya.
"Jadi ada dua tujuan, yang pertama adalah mempermudah adaptasi mahasiswa baru melalui aplikasi ini, dan yang kedua adalah peningkatan layanan di bidang Tridharma," ujarnya.
Sementara Wakil Rektor II Untag Surabaya sekaligus pengembang Owly Quest, Supangat, Ph.D., ITIL., COBIT., CLA., CISA., mengatakan, di dalam aplikasi tersebut terdapat dua platform. Salah satunya game Treasure Hunt atau berburu harta karun.
"Game mencari sebuah koin yang kita buat, tentunya ada hadiah untuk mereka yang mendapatkan. Nanti tergantung isi, ada gratis formulir di kita ataupun berupa pemberian uang dan lain sebagainya. Itu Treasure Hunt-nya," jelas Supangat.
Sementara aplikasi Owly Quest hadir sebagai platform terpadu yang memuat seluruh kebutuhan informasi bagi mahasiswa baru maupun mahasiswa lama Untag Surabaya. Informasi yang disajikan mulai dari pemetaan lokasi kampus, kebutuhan PKKMB, layanan akademik dan keuangan, hingga berbagai info seputar kehidupan perkuliahan.
"Baik mahasiswa baru ataupun mahasiswa lama bisa mengakses. Karena ada mapping-nya, kebutuhan informasi PKKMB, akademiknya, aspek keuangan, dan lain sebagainya. Secara lengkap kebutuhan yang dibutuhkan informasi di sana, itu kita masukkan di Owly Quest," katanya.
Pengembangan aplikasi Owly Quest dilakukan selama satu tahun terakhir. Bahkan dapat diunduh di App Store.
Owly Quest juga tidak hanya diarahkan untuk kebutuhan orientasi mahasiswa baru. Platform tersebut dikembangkan lebih luas sebagai sarana eksplorasi ruang publik yang dapat mengenalkan berbagai informasi tentang kampus, sejarah kota, budaya, lingkungan, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Menurut Supangat, pengembangan Owly Quest tidak semata-mata berfokus pada jumlah pengguna, tetapi juga pada perubahan cara belajar di tengah perkembangan teknologi digital. Ruang belajar dapat diperluas ke lingkungan sekitar melalui pengalaman yang interaktif.
"Mimpi kami sederhana tetapi besar. Suatu saat orang bisa mengenal kampus, sejarah kota, budaya, lingkungan, hingga UMKM melalui satu pengalaman digital yang menyenangkan. Belajar tidak harus selalu di dalam kelas; sebuah kota pun bisa menjadi ruang belajar," pungkasnya.
