Sejumlah saham perusahaan berbasis kelapa sawit menguat di tengah maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Namun, penguatan saham tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya hubungan langsung dengan karhutla.
Pengamat pasar saham Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Venus Kusumawardana mengatakan, pergerakan saham dipengaruhi berbagai faktor. Di antaranya harga crude palm oil (CPO), sentimen global, prospek industri, kebijakan pemerintah, hingga ekspektasi investor terhadap kinerja perusahaan.
"Jangan langsung menyimpulkan bahwa naiknya saham ini gara-gara kebakaran. Naiknya saham itu banyak faktor," ujar Venus kepada wartawan, Sabtu (22/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dosen Perbankan & Keuangan Fakultas Vokasi UMM itu menjelaskan, salah satu faktor yang dapat memengaruhi saham emiten sawit adalah pergerakan harga CPO.
Gangguan terhadap produksi dan pasokan berpotensi mendorong harga CPO meningkat. Kondisi tersebut kemudian dapat menjadi sentimen positif bagi perusahaan yang memiliki kemampuan produksi dan sumber pasokan di berbagai wilayah.
Namun, dampak karhutla terhadap perusahaan sawit tidak selalu positif, apabila kebakaran secara langsung merusak perkebunan atau mengganggu kegiatan operasional perusahaan. Kondisi tersebut justru dapat meningkatkan risiko kerugian dan menekan kinerja emiten.
"Kalau kebakaran ini kemudian merambah ke perusahaan, artinya perusahaan juga terdampak dan mengalami kerugian. Otomatis kalau perusahaan mengalami kerugian, dampaknya bisa negatif," jelasnya.
Karena itu, investor perlu melihat lokasi aset dan perkebunan masing-masing perusahaan. Perusahaan dengan area produksi yang tersebar di sejumlah wilayah memiliki peluang untuk mengompensasi gangguan produksi di satu daerah dengan produksi dari wilayah lain.
Selain faktor karhutla, Venus menyebut kebijakan pemerintah terkait pengembangan biodiesel, termasuk rencana peningkatan bauran biodiesel B50, juga dapat menjadi bagian dari sentimen terhadap industri sawit.
Kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan kebutuhan CPO domestik sehingga memberikan prospek terhadap permintaan komoditas dalam jangka panjang.
"Di mana ada harapan dan sesuatu yang menguntungkan, biasanya investor akan berlomba-lomba masuk. Tetapi harus dilihat juga, kenaikannya ini untuk jangka pendek, menengah, atau panjang," katanya.
Ia menambahkan, kondisi pasar global turut berpengaruh. CPO merupakan bagian dari pasar komoditas sehingga pergerakannya tidak dapat dilepaskan dari sentimen komoditas dunia dan kondisi pasar saham secara keseluruhan.
Sebagai gambaran, Venus mencatat saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) bergerak dari sekitar Rp 5.875 pada akhir Juni 2026 menjadi sekitar Rp 7.338. Sementara itu, PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) juga mengalami penguatan setelah sebelumnya bergerak fluktuatif.
Menurut Venus, pergerakan tersebut menunjukkan bahwa kenaikan saham sawit tidak dapat dibaca hanya dari satu peristiwa. Pelaku pasar juga memiliki karakter berbeda. Trader cenderung memanfaatkan momentum jangka pendek, sedangkan investor jangka menengah dan panjang lebih mempertimbangkan fundamental serta prospek perusahaan.
"Jangan panik, tetapi tetap diwaspadai apakah dampak tersebut berhubungan langsung dengan perusahaan atau saham yang dimiliki masyarakat," pungkasnya.
