Insiden kebakaran kapal penyeberangan kembali melanda perairan Jawa Timur. Kali ini, Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Bontang melahap si jago merah saat berada di Perairan Ketapang, Banyuwangi, Jumat (21/8/2026) siang.
Meski tidak menelan korban jiwa maupun luka-luka, peristiwa ini memicu ingatan publik pada rentetan musibah tragis sejumlah armada kapal yang terbakar, salah satunya KM Mutiara Sentosa II.
Peristiwa kebakaran KMP Bontang terjadi di titik koordinat 8° 8' 23.58" S 114° 24' 3.07" E sekitar pukul 13.30 WIB ketika kapal sedang lego jangkar. Api pertama kali terdeteksi oleh Nakhoda KMP Bontang, Denny, di ruang menyusui lantai dua kapal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kasat Polairud Polresta Banyuwangi, Kompol Muchammad Wahyudi, mengonfirmasi bahwa aksi sigap penanganan mandiri berhasil menghindarkan armada dari jatuhnya korban.
"Korban jiwa nihil. Saat berada di atas kapal yang sedang lego jangkar, nakhoda melihat api membesar membakar ruang menyusui di lantai dua," ujar Wahyudi.
Keberhasilan mengantisipasi jatuhnya korban tak terlepas dari aksi cepat nakhoda yang menginstruksikan Anak Buah Kapal (ABK) untuk memadamkan api menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR)
Proses pemadaman di atas kapal juga dibantu oleh masyarakat pesisir pantai yang bergotong-royong menyemprotkan air hingga api padam total sekitar pukul 16.00 WIB.
Kendati aman dari korban luka maupun meninggal dunia, musibah ini dipastikan menimbulkan kerugian materiil bagi perusahaan pemilik kapal. Tim Satpolairud Polresta Banyuwangi kini sudah berada di Tempat Kejadian Perkara (TKP) untuk mengumpulkan bukti serta memeriksa saksi-saksi.
"Petugas Satpolairud Polresta Banyuwangi telah berada di TKP untuk mengumpulkan keterangan saksi serta menyelidiki pemicu pasti munculnya api di ruang menyusui tersebut," tegas Wahyudi.
Penanganan KMP Bontang yang berhasil menekan potensi korban (zero casualty) menjadi pembeda nyata bila dibandingkan dengan rekam jejak musibah kapal penyeberangan lain di perairan Jawa Timur, terutama tragedi kebakaran yang menimpa KM Mutiara Sentosa II pada tahun 2026 ini.
Dalam investigasi dan temuan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) atas insiden KM Mutiara Sentosa II beberapa waktu lalu, terungkap adanya kelemahan krusial pada fasilitas tanggap darurat kapal, salah satunya ketiadaan sekoci yang siap digunakan saat kobaran api membesar di atas geladak.
Kondisi panik itu sempat menimbulkan kepasrahan dan trauma mendalam bagi keluarga korban serta penumpang yang kehilangan barang maupun sanak saudara. Beruntung, skenario terburuk seperti pada musibah KM Mutiara Sentosa II tidak terulang dalam insiden KMP Bontang di Ketapang.
Ketersediaan APAR yang berfungsi baik serta respons cepat ABK di lantai 2 menjadi faktor penentu yang menyelamatkan seluruh orang di sekitar kapal. Meski demikian, berulangnya kasus kebakaran di atas kapal penyeberangan sepanjang 2026 ini menjadi teguran keras bagi operator pelayaran untuk terus memperketat inspeksi kelaikan armada.
