Jukir Lecehkan Ojol di Surabaya, Tanya soal Sunat-Suruh Buka Celana

Jukir Lecehkan Ojol di Surabaya, Tanya soal Sunat-Suruh Buka Celana

Esti Widiyana - detikJatim
Jumat, 21 Agu 2026 09:46 WIB
Wawali Armuji memediasi ojol YGL yang diduga mendapat pelecehan oleh jukir di Jalan Kacapiring.
Wawali Armuji memediasi ojol YGL yang diduga mendapat pelecehan oleh jukir di Jalan Kacapiring.(Foto: Esti Widiyana/detikJatim)
Surabaya -

Seorang ojol berinisial YGL (30) mengaku mengalami perundungan dengan pelecehan dan rasisme oleh jukir di restoran Jalan Kacapiring, Surabaya. YGL menyebut, kejadian itu sudah berlangsung satu tahun.

YGL bercerita, ketika mengambil orderan makanan di kawasan tersebut, ia mendapatkan pelecehan verbal oleh sekelompok jukir di sana.

"Setiap kali saya ambil orderan di sana selalu disoraki suruh lepas celana saya, disuruh nunjukkan alat kelamin saya, ditanya sudah sunat apa belum," cerita YGL, Kamis (20/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, YGL juga mengaku mendapat tindakan rasisme dari jukir. Di mana dia disebut sebagai keturunan China.

"Saya dibilang China, padahal nenek saya orang Jawa," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Mendapat aduan itu, Wakil Wali Kota Surabaya Armuji atau Cak Ji pun mendatangi lokasi tempat YGL mendapat perundungan. Dia juga bertemu dengan jukir yang disebut melakukan dugaan pelecehan hingga rasisme ke YGL.

Jukir tersebut berinisial D. D membantah melakukan pelecehan kepada YGL, apa yang disampaikan disebut hanya bercanda.

"Saya bilang saja 'kamu wes sunat ta?', ya saya hanya bilang gitu tok enggak ada maksud lain. Cuma candaan biasa," kata D.

"Nggak pernah saya bilang (meminta buka celana). Ngapain juga. Enggak pernah," tambahnya.

D pun merasa tidak suka ketika candaannya yang berujung dilaporkan ke Wawali Cak Ji.

"Saya itu hanya bercanda saja, Pak. Tapi kok sampai ada laporan kayak begini, kan saya juga enggak suka," ucapnya ke Cak Ji.

Sementara Cak Ji mengatakan, usai mendapat laporkan pembully-an dari salah satu ojol, yakni YGL, dia mendatangi lokasi di kawasan Jalan Kacapiring dan bertemu jukir tersebut. Ia mendengarkan kedua versi.

"Kami datangkan kedua belah pihak. Ternyata versinya si D itu bercanda. Nah, tapi versi korban, mereka itu mengalami pembullyan. Makanya dengan hal semacam ini jangan sampai terulang lagi," kata Cak Ji.

Menurut Cak Ji, kasus ini hanya salah paham. Ke depannya, dia meminta tidak mengulangi perbuatannya, apalagi mengarah ke hal seksual.

"Tadi, sudah tak bilangin. Enggak usah guyon macam-macam. Takutnya salah persepsi," ujarnya.

Cak Ji pun menyatakan kasus ini berakhir, keduanya sepakat bersalaman dan D berjanji tidak mengulangi candaannya ke YGL.

"Ya selesai lah. Masalah sudah ditemukan, sudah saling memaafkan. Ini kan salah salah salah paham. Salah satu sisi itu nganggap pelecehan, sisi itu iku guyonan. Nah, makanya kita temukan seperti itu tadi," jelasnya.

Sedangkan ibu YGL, Ong Sioe Djing, yang juga ikut mendampingi anaknya mengaku tidak terima dengan pengakuan D. Sebab candaanya hanya alasan untuk menutupi perundungan.

"Enggak terima, katanya cuman bercanda. Sudahlah biar yang membalas Tuhan," tutupnya.



(auh/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads