Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menyatakan duka mendalam atas gempa M 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026). Sebanyak 58 mahasiswa Untag Surabaya tercatat terdampak langsung.
Untag Surabaya pun menyiapkan sejumlah bentuk bantuan, mulai dari relaksasi administrasi akademik, fleksibilitas pembelajaran, pendampingan psikologis hingga penggalangan donasi.
Rektor Untag Surabaya Harjo Saputro mengatakan berdasarkan pendataan hingga Rabu (19/8/2026) pukul 12.00 WIB, terdapat 108 mahasiswa asal NTT yang tengah menempuh pendidikan di kampus tersebut. Sebanyak 58 mahasiswa di antaranya terdampak langsung gempa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mahasiswa terdampak akan mendapatkan relaksasi administrasi akademik, termasuk keringanan terkait Kartu Rencana Studi (KRS) hingga Oktober 2026.
"58 di antaranya secara langsung terdampak, perlu diberi relaksasi administrasi akademik, penundaan pembayaran," kata Harjo kepada wartawan di ruang kerjanya, Rabu (19/8/2026).
Selain persoalan administrasi, kampus memberikan fleksibilitas pembelajaran daring melalui LMS bagi 36 mahasiswa terdampak. Skema ini disiapkan untuk memastikan proses perkuliahan dan penyelesaian tugas akhir mereka tetap berjalan lancar.
"Di antara 58 itu ada 36 yang tidak masalah keuangannya, tetapi dia perlu relaksasi untuk proses pembelajaran. Jadi nanti kita fasilitasi proses pembelajarannya secara daring, diatur melalui LMS," ujarnya.
Beberapa mahasiswa terdampak sedang menjalani tugas akhir (TA). Untag Surabaya pun memberikan fleksibilitas dalam proses bimbingan dengan dosen pembimbing, termasuk penyesuaian waktu dan mekanisme bimbingan.
Dari total 58 mahasiswa terdampak langsung bencana NTT, sebanyak 14 orang tercatat sedang berada di Surabaya dalam kondisi aman. Namun, ada dua mahasiswa yang belum berkomunikasi dengan keluarganya.
"Ada 2 mahasiswa per jam 12 siang yang belum bisa komunikasi dengan keluarga di sana. Kami membantu supaya mereka bisa komunikasi. Di daerah Manggarai," jelasnya.
Selain itu, dua pekan pertama perkuliahan pada awal September akan dilaksanakan secara daring. Sehingga masih ada jeda waktu untuk mahasiswa memulihkan kondisi dan kembali ke Surabaya.
Untag Surabaya juga menyiapkan pendampingan psikologis dan psikososial bagi mahasiswa yang membutuhkan dukungan karena keluarganya terdampak gempa. Kampus juga akan mengirim tim untuk diberangkatkan ke wilayah bencana.
"Bentuk kepedulian kami, akan turunkan tim relawan. Ada dosen dan mahasiswa yang berangkat ke NTT. Kami akan menginformasikan ada di sana, kalau ditemukan ada yang perlu bantuan, intervesi psikologi atau medis lain," kata Dekan Fakultas Psikologi Untag Surabaya, Diah Sofiah.
Sementara Wakil Rektor III Untag Surabaya, Sumiati, mengatakan bentuk kepedulian korban gempa NTT, keluarga besar alumni Untag Surabaya menggalang donasi. Bahkan sebagian dana alumni dari kegiatan wisuda pada 22 dan 23 Agustus 2026 dialokasikan membantu korban di NTT.
"Jumlahnya lumayan, karena yang wisuda periode ini hampir 2.000, maka dana separuhnya itu hampir mendekati Rp 100 juta. Semoga bertambah dari donasi agar bermanfaat untuk meringankan beban saudara-saudara kita yang menimpa musibah," ujar Sumiati.
Untag Surabaya juga menyiapkan beasiswa dari ikatan alumni untuk membantu mahasiswa yang mengalami kesulitan biaya pendidikan, terutama mahasiswa tingkat akhir. Salah satunya mahasiswa terdampak gempa NTT.
