AI Merambah Dunia Fesyen, Ada Etika yang Harus Dijaga

AI Merambah Dunia Fesyen, Ada Etika yang Harus Dijaga

Aprilia Devi - detikJatim
Selasa, 18 Agu 2026 07:00 WIB
Karya desainer di Surabaya Fashion Trend (SFT).
Karya desainer di Surabaya Fashion Trend (SFT). (Foto: Aprilia Devi/detikJatim)
Surabaya -

Artificial intelligence (AI) mulai digunakan dalam dunia fesyen. Teknologi ini dimanfaatkan sejumlah desainer untuk mencari inspirasi, mengembangkan ide, hingga membantu mengurangi kesalahan dalam proses pembuatan busana.

Head of Event Surabaya Fashion Trend (SFT) 2027 Enrico Ho mengatakan pemanfaatan AI menjadi bagian dari perkembangan industri fesyen saat ini. Meski demikian, penggunaan AI dalam fesyen tetap memiliki batas.

Menurutnya, desainer perlu memahami etika pemanfaatan AI agar teknologi tidak mengambil alih gagasan maupun identitas karya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau dari persentase desainer ini sebenarnya belum sampai melebihi 50% (untuk penggunaan AI), karena memang mereka (desainer) harus tahu etikanya juga," ujar Enrico, Senin (17/8/2026).

Enrico menilai, perkembangan teknologi membuat industri fesyen tidak hanya berbicara soal keberlanjutan. Fashion technology kini juga menjadi salah satu perkembangan yang mulai mendapat perhatian.

ADVERTISEMENT

"Fesyen sustainability terus berjalan. Yang sekarang lagi sangat berkembang itu sebenarnya teknologi, fesyen technology," tuturnya.

Penggunaan AI juga dinilai berpotensi membantu desainer menghemat material sekaligus mengurangi kesalahan dalam proses pembuatan busana. Salah satu desainer SFT 2027, Lita Berlianti, menyebut teknologi AI bahkan disebut sudah mampu membantu hingga tahap pembuatan pola.

Lita mengatakan dirinya mulai memanfaatkan AI pada tahap awal untuk membantu menentukan ide hingga meminimalkan kesalahan dalam proses desain.

"Bahkan sekarang AI itu, tapi saya belum nyoba ya, katanya sudah bisa mendetailkan sampai di pola. Nah, itu luar biasa, membantu sekali. Jadi kita bisa menghemat bahan, mengurangi kesalahan," ungkapnya.

Bagi Lita, pemanfaatan teknologi tersebut juga dapat mendukung konsep fesyen berkelanjutan yang diusungnya. Ia membuat busana yang bisa dipadu-padankan sehingga masyarakat tidak perlu memiliki terlalu banyak pakaian.

Konsep tersebut pun sejalan dengan tren fesyen yang diprediksi akan ramai pada tahun 2027.

"Saya membuat rancangan yang bisa dipadu-padankan. Supaya orang-orang enggak perlu punya banyak baju. Kalau kita tahu cara padu-padan fashion, itu enggak perlu banyak-banyak (baju). Sehingga mengurangi sampah dari fashion itu sendiri," pungkasnya.



(dpe/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads