Akademisi dan Kampus Banyuwangi Sinergi Bangun Pesisir Situbondo

Akademisi dan Kampus Banyuwangi Sinergi Bangun Pesisir Situbondo

Eka Rimawati - detikJatim
Senin, 17 Agu 2026 22:38 WIB
Program pemberdayaan berbasis inovasi dijalankan Untag Banyuwangi bagi masyarakat pesisir di Desa Wonorejo, Kabupaten Situbondo
Program pemberdayaan berbasis inovasi dijalankan Untag Banyuwangi bagi masyarakat pesisir di Desa Wonorejo, Kabupaten Situbondo (Foto: Istimewa/dok. Untag)
Banyuwangi -

Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi menyalurkan program pemberdayaan berbasis inovasi teknologi berkelanjutan bagi masyarakat pesisir di Desa Wonorejo, Situbondo. Langkah ini diambil guna memperkuat ketahanan ekonomi dan adaptasi iklim warga setempat.

Desa Wonorejo yang terletak sekitar 40 kilometer dari kampus Untag Banyuwangi ini tergolong wilayah prioritas dalam Rencana Aksi Nasional Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (RAN PPDT). Itu karena wilayah ini rentan dampak perubahan iklim dan memiliki keterbatasan akses teknologi.

Ketua Pelaksana Program, Ervina Wahyu Setyaningrum menyatakan, kegiatan pengabdian masyarakat ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Ditjen Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Anggaran 2026.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Program ini berfokus pada dua mitra utama di Desa Wonorejo, yaitu Kelompok Putra Nelayan Pandean dan Kelompok Tani Pandean Makmur 2. Kami memfasilitasi legalitas kelompok melalui SK Menkumham serta memberikan intervensi teknologi fisik (hard technology) dan nonfisik (soft technology)," ujar Ervina, Senin (17/8/2026).

Dalam pelaksanaannya, kelompok nelayan menerima pelatihan alat tangkap ramah lingkungan, keselamatan pelayaran, mitigasi cuaca ekstrem, serta bantuan sarana berupa jaring ramah lingkungan dan perangkat radio komando (Handy Talky).

ADVERTISEMENT

Sementara itu, kelompok tani dibekali edukasi pengolahan lahan konservatif, efisiensi air, penggunaan bahan organik, dan bantuan unit hand tractor untuk mempercepat proses olah tanah.

Ervina menegaskan, integrasi kapasitas sumber daya manusia dan teknologi tepat guna menjadi kunci memupuk daya adaptasi (adaptive capacity) warga pesisir. Program ini juga ditargetkan mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 1, 8, dan 13, sekaligus menyokong agenda Asta Cita pemerintah terkait penguatan SDM, sains, teknologi, dan lapangan kerja.

Manfaat program ini pun dirasakan langsung oleh masyarakat setempat. Perwakilan Kelompok Nelayan, Sebaidi, menyebut materi pendampingan memberikan solusi konkret dari hulu ke hilir tanpa merusak ekosistem laut.

"Persoalan dari hilirisasi produk, solusi lingkungan, hingga teknik penangkapan tepat guna dapat teratasi tanpa merusak ekosistem laut," jelasnya.

Senada dengan itu, perwakilan Kelompok Tani, Solikhin, mengapresiasi pendampingan intensif dari akademisi yang dinilainya efektif mengubah pola pikir petani skala kecil.

"Bantuan alat tidak akan optimal tanpa pendampingan intensif. Akademisi Untag Banyuwangi secara intensif memberikan pencerahan yang mengubah pola pikir dan berdampak positif pada pertumbuhan pertanian skala kecil kami," tambahnya.

Perwakilan Pemerintah Desa Wonorejo, Slamet, turut menilai kehadiran Untag Banyuwangi secara berkala sangat membantu mengurangi beban pemerintah desa dalam mengentaskan kemiskinan dan keterbatasan akses teknologi.

"Setiap tahun selalu ada inovasi baru dari Untag Banyuwangi. Pekerjaan rumah pemerintah desa terkait kesejahteraan masyarakat menjadi jauh lebih ringan," pungkas Slamet.

Sebagai langkah keberlanjutan, Untag Banyuwangi bersama pemerintah desa dan pemangku kepentingan telah menyusun rencana aksi (action plan) partisipatif. Dokumen tersebut memuat tata kelola kelompok, prioritas program, dan mekanisme evaluasi berkala guna mewujudkan kawasan pesisir Situbondo yang mandiri dan tangguh iklim.



(ihc/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads