MPLS Sekolah Rakyat di Blitar Dimulai, Tampung 71 Siswa dari Malang

MPLS Sekolah Rakyat di Blitar Dimulai, Tampung 71 Siswa dari Malang

Fima Purwanti - detikJatim
Sabtu, 15 Agu 2026 20:40 WIB
Ratusan siswa mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Kota Blitar, Sabtu (15/8/2026).
Ratusan siswa mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Kota Blitar, Sabtu (15/8/2026). (Foto: Fima Purwanti/detikjatim)
Blitar -

Sebanyak 202 siswa mulai mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 2 Kota Blitar. Sejumlah siswa titipan dari Malang dan Batu juga turut mengikuti kegiatan tersebut.

Perwakilan Kementerian Sosial (Kemensos) yang juga bertindak sebagai PIC Sekolah Rakyat Kota Blitar, Romal Sinaga, mengatakan program Sekolah Rakyat kini telah memasuki tahun kedua. Hingga saat ini, sebanyak 182 Sekolah Rakyat telah dibangun di berbagai daerah, mulai dari Aceh hingga Papua, dengan jumlah peserta mencapai 43.000 siswa dari jenjang SD, SMP, hingga SMA.

"Ini adalah tahun kedua Sekolah Rakyat, sudah ada 182 Sekolah Rakyat dari Aceh sampai Papua yang sudah dibangun, dan sampai saat ini sudah 43.000 siswa dari tingkat SD, SMP, dan SMA. Kami berharap Pemkot Blitar dapat terus mengawal prosesnya, agar Sekolah Rakyat ini terus berjalan on the track," kata Romal kepada detikJatim, Sabtu (15/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Romal menjelaskan, sebanyak 71 siswa yang berasal dari Kota Malang dan Kota Batu untuk sementara dititipkan di Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Kota Blitar. Kebijakan tersebut diambil karena pembangunan Sekolah Rakyat di kedua daerah tersebut masih berlangsung.

ADVERTISEMENT

"Saya nitip dulu ada 71 anak, tadi saya nitip Pak Wali. Sementara kami nanti membangun di Kota Batu dan di Kota Malang. Kalau Kabupaten Malang sudah ya Kediri juga sudah, jadi kami titipkan ke sini," terangnya.

Ratusan siswa mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Kota Blitar, Sabtu (15/8/2026).Sejumlah siswa dari Kota Malang dan Kota Batu mengikuti MPLS di Sekolah Rakyat Kota Blitar karena sekolah serupa di daerah asal mereka masih dalam tahap pembangunan. (Foto: Fima Purwanti/detikjatim)

Menurut Romal, saat ini sudah ada sekitar 21 Sekolah Rakyat yang diresmikan di Jawa Timur. Hal itu, menurutnya, menjadi bukti komitmen pemerintah dalam memutus rantai kemiskinan, tidak hanya melalui bantuan sosial, tetapi juga dengan memberikan akses pendidikan gratis kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu.

"Karena di sini memang kita ingin membuktikan bahwa anak-anak ini bisa putus dari kemiskinan. Dan keluarganya pun nanti kita bantu, tidak hanya anaknya. Anaknya di sini tenang sekolah, nanti keluarganya saya bilang sama Pak Wali, keluarganya pun kami bantu untuk kami berdayakan sehingga mereka bisa naik kelas," jelasnya.

Sementara itu, Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin, mengatakan sebanyak 131 siswa Sekolah Rakyat berasal dari Kota Blitar. Jumlah tersebut terdiri atas 27 siswa baru jenjang SD, 49 siswa jenjang SMP, dan 55 siswa baru jenjang SMA.

"Yang jadi pembeda dengan sekolah yang di luar adalah Sekolah Rakyat ini dilengkapi dengan asrama. Kemudian di sini juga dilengkapi dengan fasilitas pendukung para siswa," katanya.

Ratusan siswa mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Kota Blitar, Sabtu (15/8/2026).Siswa Sekolah Rakyat mengikuti rangkaian kegiatan MPLS sebagai langkah awal mengenal lingkungan belajar, asrama, dan berbagai fasilitas pendukung. (Foto: Fima Purwanti/detikjatim)

Ibbin, sapaan akrab Syauqul Muhibbin, menambahkan setiap 10 siswa akan didampingi seorang wali asuh. Pendampingan tersebut bertujuan untuk mengawasi aktivitas siswa sekaligus membentuk karakter mereka selama menjalani pendidikan di Sekolah Rakyat.

"Nanti setiap 10 siswa akan didampingi wali asuh. Ini untuk mengawasi siswa, mendidik karakter siswa dan sebagainya. Jadi juga untuk mengantisipasi agar tidak pembulian di Sekolah Rakyat," terangnya.

Salah seorang siswa asal Malang, Fajar Raditya, mengaku mengikuti program Sekolah Rakyat atas keputusan keluarganya. Fajar merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Ibunya telah meninggal dunia, sementara ayahnya bekerja sebagai tukang parkir.

"Iya ikut daftar Sekolah Rakyat atas keputusan keluarga. Saya anak terakhir dari 3 bersaudara, ibu sudah meninggal, kalau ayah tukang parkir. Jadi saya gabung, supaya bisa mandiri dan tidak merepotkan orang tua," akunya saat ditemui detikJatim di lokasi.

Menurut Fajar, fasilitas yang tersedia di Sekolah Rakyat cukup memadai. Selain dilengkapi asrama, sekolah tersebut juga menyediakan berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang dapat dipilih oleh siswa.

"Tidak boleh bawa HP di sini, mungkin awalnya berat. Tapi saya yakin di sini bisa belajar mandiri, dan fokus. Lingkungannya juga nyaman, semoga bisa betah," pungkasnya.



(ihc/dpe)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads