Pengunjung Alun-alun Merdeka Malang tidak dapat menikmati wahana dry fountain atau air mancur sepanjang. Selain itu, pengunjung juga dilarang mandi di dalamnya.
Air mancur saat ini hanya dijadwalkan menyala mulai pukul 18.00 WIB hingga 21.00 WIB, dengan pola jeda pengoperasian.
Kebijakan tersebut bukan semata untuk mengatur estetika kawasan, tetapi juga berkaitan dengan kualitas air dan upaya menjaga mesin pompa agar tidak kembali mengalami kerusakan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang menuturkan, sistem dry fountain di Alun-alun Merdeka menggunakan pola sirkulasi.
Air yang keluar dari lubang pancuran akan kembali ditampung untuk kemudian digunakan lagi.
Menurut Gamaliel, persoalan yang terjadi air tersebut tidak langsung melalui proses pengolahan atau penyaringan setiap kali digunakan. Kondisi itu membuat kebersihan air sangat bergantung pada perilaku pengunjung.
"Jadi sekarang yang boleh ya hanya menikmati estetika air mancur saja. Hidupnya air mancur setelah jam 18.00 WIB sore sampai 21.00 malam. Itu pun ada jeda waktu. Di situ juga sudah ditulisi dilarang mandi," kata Raymond kepada wartawan, Kamis (13/8/2026).
Selama ini, dry fountain memang kerap menjadi magnet bagi anak-anak. Pancaran air dari lantai membuat fasilitas tersebut tidak hanya menjadi objek visual, tetapi juga dimanfaatkan sebagai arena bermain air.
Namun, kebiasaan tersebut justru menjadi persoalan bagi pengelola. Raymond menyebut terdapat pengunjung yang menggunakan air mancur untuk mandi, bahkan terdapat anak-anak yang buang air kecil di area tersebut.
Kondisi itu berpotensi menurunkan kualitas air yang terus bersirkulasi. Bahkan, DLH menerima laporan adanya pengunjung yang mengalami gatal-gatal setelah bermain di air mancur.
Karena itu, larangan mandi kini diperketat. Pengunjung diarahkan untuk menikmati dry fountain sebagai fasilitas estetika, bukan sebagai kolam bermain.
Untuk menjaga kualitas air, DLH juga melakukan penggantian air secara berkala. Pergantian dilakukan antara tiga hari hingga satu minggu, menyesuaikan kondisi di lapangan.
Air yang digunakan berasal dari jaringan PDAM. Langkah ini sekaligus untuk mencegah air menjadi keruh, kotor maupun menimbulkan bau yang dapat mengganggu pengunjung.
Selain persoalan kualitas air, pembatasan operasional juga berkaitan dengan kondisi mesin. Sistem pompa dry fountain sebelumnya sempat mengalami kerusakan setelah terendam banjir ketika hujan deras mengguyur kawasan Kota Malang.
DLH telah melakukan perbaikan dan memastikan mesin kembali berfungsi normal. Namun, pengoperasian secara terbatas dipilih sebagai langkah antisipasi agar kerusakan serupa tidak kembali terjadi.
"Tapi sekarang sudah kami perbaiki, sudah normal. Untuk mengantisipasi supaya tidak rusak lagi dan air yang digunakan itu tidak kotor, tidak boleh mandi di situ," jelasnya.
Dengan pola baru tersebut, masyarakat tetap bisa menikmati pertunjukan air mancur, terutama pada malam hari ketika pancaran air dipadukan dengan permainan lampu.
Raymond mengatakan, fungsi utama dry fountain saat ini lebih diarahkan sebagai bagian dari estetika ruang publik dan spot foto bagi masyarakat.
"Sementara yang boleh ya menikmati saja. Kebanyakan kan dibuat untuk spot foto, melihat lampu-lampu yang malam hari," katanya.
Meski jadwal operasional saat ini ditetapkan pukul 18.00-21.00 WIB, DLH belum menutup kemungkinan melakukan penyesuaian. Evaluasi terhadap pola pengoperasian masih dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi fasilitas dan aktivitas masyarakat.
Untuk momentum tertentu, misalnya kegiatan kota atau acara khusus, jadwal pengoperasian juga dapat diatur kembali.
"Untuk momen-momen tertentu nanti kami masih mencoba mengatur jadwalnya," ungkapnya.
Sementara itu, opsi mengoperasikan dry fountain sepanjang hari dengan sumber air mandiri juga belum memungkinkan.
Selain membutuhkan konsumsi listrik yang lebih besar, DLH tidak dapat sembarangan mengambil air tanah karena terbentur ketentuan yang berlaku.
"Kalau terus-menerus, itu lumayan, listriknya juga. Kan mengambil airnya dari air bawah tanah, sedangkan kita tidak boleh menggunakan air bawah tanah. Jadi yang kami gunakan adalah air PDAM," pungkasnya.
(mua/hil)
