Cagar Biosfer Blambangan, Kawasan Konservasi UNESCO di Jatim

Cagar Biosfer Blambangan, Kawasan Konservasi UNESCO di Jatim

Mira Rachmalia - detikJatim
Kamis, 13 Agu 2026 10:30 WIB
Banteng Jawa (bos javanicus) berada di padang savana Sadengan, Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (4/12/2021). Hasil pengamatan petugas dalam beberapa bulan terakhir sebanyak 128 ekor banteng jawa terpantau di savana Sadengan setiap harinya atau populasinya meningkat dari sebelumnya hanya 70 ekor. ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/aww.
Taman nasional Alas Purwo salah satu bagian dari Cagar Biosfer Blambangan. Foto: ANTARA FOTO/BUDI CANDRA SETYA
Banyu -

Cagar Biosfer Blambangan merupakan salah satu kawasan penting untuk memahami bagaimana konservasi alam di Jawa Timur tidak hanya berbicara tentang melindungi hutan dan satwa, tetapi juga tentang kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Kawasan ini berada di ujung timur Pulau Jawa dan mencakup bentang alam yang sangat beragam, mulai dari hutan, gunung dan kawasan karst, hingga savana, pesisir, mangrove, padang lamun, dan terumbu karang. Yang membuat Cagar Biosfer Blambangan menarik adalah konsep pengelolaannya.

Kawasan ini tidak dibangun dengan gagasan memisahkan manusia dari alam, melainkan mencari titik temu antara perlindungan keanekaragaman hayati, ekonomi masyarakat, penelitian, pendidikan, dan pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa Itu Cagar Biosfer?

Cagar biosfer merupakan kawasan yang ditetapkan dalam program Man and the Biosphere (MAB) UNESCO sebagai tempat untuk mengembangkan dan menunjukkan hubungan yang seimbang antara manusia dan lingkungan.

Konsep cagar biosfer menggabungkan konservasi keanekaragaman hayati dengan pembangunan berkelanjutan, serta dukungan terhadap kehidupan dan budaya masyarakat setempat.

ADVERTISEMENT
Cagar Biosfer Maltbay na Bayan ng Sablayan di FilipinaCagar Biosfer Maltbay na Bayan ng Sablayan di Filipina (Foto:Pemerintah Kota Sablayan)

UNESCO menggambarkan cagar biosfer sebagai "living laboratories for sustainable development" atau laboratorium hidup untuk pembangunan berkelanjutan.

Kawasan ini menjadi tempat ilmu pengetahuan, budaya, dan tata kelola inklusif dipertemukan untuk menunjukkan bahwa konservasi keanekaragaman hayati dan pembangunan berkelanjutan dapat berjalan bersamaan.

Karena itu, masyarakat lokal, masyarakat adat, organisasi masyarakat sipil, maupun dunia usaha dipandang sebagai bagian dari upaya menjaga dan memulihkan ekosistem sekaligus membangun mata pencaharian yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Secara global, UNESCO mencatat terdapat 797 cagar biosfer di 145 negara, dengan luas sekitar 7,5 juta kilometer persegi atau lebih dari 5 persen permukaan daratan Bumi. Sekitar 90 persen lokasi cagar biosfer tersebut juga beririsan dengan Key Biodiversity Areas (KBAs).

Cagar Biosfer Blambangan Berada di Mana?

Cagar Biosfer Blambangan berada di Provinsi Jawa Timur, di bagian timur Pulau Jawa. Kawasannya berada dalam bentang wilayah yang mencakup Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, dan Jember, termasuk kawasan pegunungan Ijen dan Gunung Raung.

Dalam profil UNESCO, kawasan ini merupakan bagian dari wilayah biogeografis Indo-Malaya. Bentang alamnya memperlihatkan peralihan yang menarik antara ekosistem pegunungan, hutan tropis, dataran rendah, kawasan pesisir, hingga perairan laut.

Pemprov Jatim Teluk Pangpang Banyuwangi Dijadikan Kawasan Ekosistem EsensialTeluk Pangpang Banyuwangi (Foto: Ardian Fanani/ detikjatim)

Kawasan inti cagar biosfer mencakup hutan hujan tropis dengan ketinggian yang bervariasi, sementara wilayah yang lebih luas di sekitarnya berfungsi mendukung kegiatan pembangunan berkelanjutan, penelitian, pendidikan, serta aktivitas masyarakat.

Kawasan Konservasi yang Membentuk Blambangan

Cagar Biosfer Blambangan bukanlah satu kawasan hutan tunggal. Status cagar biosfer mencakup bentang wilayah yang lebih luas dengan beberapa kawasan konservasi sebagai bagian penting dari pengelolaannya.

Profil UNESCO menyebut kawasan ini mencakup Taman Nasional Alas Purwo, Taman Nasional Baluran, Taman Nasional Meru Betiri, serta Cagar Alam Kawah Ijen. Dalam sejumlah materi mengenai Blambangan, Kawah Ijen juga disebut sebagai bagian penting dari bentang konservasi kawasan tersebut.

Daya Tarik Taman Nasional BaluranTaman Nasional Baluran (Foto: Website Resmi Dinas Pariwisata Kabupaten Situbondo)

Keberadaan kawasan-kawasan konservasi itu membuat Blambangan memiliki karakter ekologi yang sangat beragam. Di satu sisi terdapat kawasan gunung dan hutan, sementara di sisi lain terdapat savana, pesisir, mangrove, padang lamun, hingga terumbu karang.

Keanekaragaman Ekosistem Cagar Biosfer Blambangan

Salah satu alasan Blambangan memiliki nilai penting adalah keragaman ekosistemnya. Kawasan Cagar Biosfer Blambangan mencakup bentang alam karst dan savana serta berbagai tipe hutan.

Antara lain hutan pegunungan atas dan bawah, hutan dataran rendah, hutan pantai, serta mangrove. Ekosistem laut juga menjadi bagian dari kawasan ini, termasuk padang lamun dan terumbu karang.

Kawah Ijen BanyuwangiKawah Ijen Banyuwangi (Foto: Ahmad Masaul Khoiri/detikcom)

Di kawasan terumbu karang, UNESCO mencatat telah ditemukan lebih dari 300 spesies ikan. Terumbu karangnya antara lain didominasi oleh jenis karang dari genus Acropora.

Keragaman ekosistem tersebut membuat Blambangan bukan sekadar kawasan yang penting bagi wisata alam. Kawasan ini juga menjadi ruang penting untuk penelitian biodiversitas, pendidikan lingkungan, pemantauan ekosistem, serta pengembangan praktik pemanfaatan sumber daya yang lebih berkelanjutan.

Satwa yang Hidup di Cagar Biosfer Blambangan

Keanekaragaman habitat berpengaruh langsung terhadap kekayaan satwa di kawasan Blambangan. Beberapa satwa penting antara lain banteng Jawa (Bos javanicus), merak hijau (Pavo muticus), frigatebird Christmas (Fregata andrewsi), serta macan tutul Jawa (Panthera pardus) yang berstatus terancam.

Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) berada di Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jawa Timur, Jumat (5/5/2023). Data Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) menunjukan selama 42 tahun terahir populasi monyet ekor panjang di seluruh dunia menurun hingga 40 persen dan memasukkan dalam status terancam punah (endangered) per 7 Maret 2022, sedangkan menurut  pengamat satwa populasi monyet ekor panjang di TN Baluran cenderung meningkat. ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/aww.Fauna di Taman Nasional Baluran bagian dari Cagar Biosfer Blambangan (Foto: ANTARA FOTO/BUDI CANDRA SETYA)

Kawasan pesisir Taman Nasional Alas Purwo juga memiliki peran penting bagi penyu. Empat jenis penyu tercatat bertelur di pesisir selatan dan timur kawasan tersebut.

Di antaranya, penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), dan penyu hijau (Chelonia mydas). Kehadiran satwa-satwa tersebut memperlihatkan bahwa fungsi konservasi Blambangan mencakup ekosistem darat sekaligus laut.

Masyarakat dan Budaya di Kawasan Blambangan

Cagar biosfer tidak hanya berbicara tentang satwa, hutan, dan laut. Kehidupan masyarakat juga menjadi bagian penting dari konsep pengelolaannya. Masyarakat yang tinggal di kawasan Blambangan terutama berasal dari komunitas Jawa dan Madura, disertai masyarakat pendatang dari berbagai wilayah di Indonesia.

Aktivitas ekonomi masyarakat antara lain pertanian, hortikultura, peternakan, serta agroforestri. Agroforestri menjadi salah satu kegiatan yang berkembang di kawasan ini, termasuk melalui tanaman seperti jati dan mahoni.

Pola tersebut menjadi bagian dari upaya menghubungkan kebutuhan ekonomi masyarakat dengan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan. Di Banyuwangi, kekayaan alam tersebut juga berdampingan dengan kekayaan budaya.

Salah satunya adalah kesenian Seblang, tradisi tari yang dikenal dalam budaya masyarakat Banyuwangi. Ada pula kesenian Macan-macanan, pertunjukan tradisional yang dalam konteks budaya masyarakat setempat berkaitan dengan upaya menangkal gangguan satwa liar terhadap warga dan hewan peliharaan.

Kapan Cagar Biosfer Blambangan Ditetapkan UNESCO?

Cagar Biosfer Blambangan ditetapkan dalam sidang ke-28 International Coordinating Council (ICC) of the Man and the Biosphere (MAB) Programme UNESCO yang berlangsung pada Maret 2016 di Lima, Peru.

Penetapan tersebut menjadikan Blambangan sebagai salah satu cagar biosfer UNESCO di Indonesia. Proses pengusulannya melibatkan kerja sama sejumlah pihak, termasuk Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pemerintah daerah, akademisi, serta lembaga yang bergerak di bidang konservasi.

Dengan penetapan tersebut, kawasan Blambangan tidak hanya dipandang sebagai kumpulan kawasan konservasi, tetapi sebagai bentang wilayah yang dapat menjadi contoh bagaimana konservasi, penelitian, pendidikan, kegiatan ekonomi, dan kehidupan masyarakat dapat dikelola secara terpadu.

Apa Fungsi Cagar Biosfer Blambangan?

Dalam konsep UNESCO, cagar biosfer memiliki tiga fungsi utama yang saling berkaitan, yakni konservasi, pembangunan berkelanjutan, dan dukungan logistik. Dalam konteks Blambangan, fungsi konservasi berkaitan perlindungan ekosistem dan keanekaragaman hayati, baik kawasan pegunungan dan hutan maupun pesisir dan laut.

Fungsi pembangunan berkelanjutan diwujudkan melalui aktivitas masyarakat seperti pertanian, hortikultura, peternakan, perkebunan, agroforestri, serta pengembangan pariwisata berbasis alam. Kegiatan tersebut diharapkan tetap memperhatikan daya dukung lingkungan.

Sementara itu, fungsi logistik berkaitan dengan penelitian, pemantauan, pendidikan lingkungan, pertukaran pengetahuan, serta pengembangan model pengelolaan kawasan secara kolaboratif.

Cagar Biosfer Blambangan merupakan konsep pengelolaan bentang alam yang menghubungkan kawasan konservasi, masyarakat, kegiatan ekonomi, budaya, penelitian, dan pendidikan. Karena itu, keberadaannya penting bukan hanya bagi wisatawan, tetapi juga bagi masa depan pengelolaan lingkungan di Jawa Timur.



(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads