Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) memasuki hari ke-10. Hingga Selasa (12/8/2026), sekitar 942 hektare lahan dilaporkan terdampak kebakaran.
Meski api di sektor P-30 sudah tidak ditemukan sejak pagi, petugas masih melakukan pemadaman dan pemantauan di sejumlah lokasi. Titik api aktif masih terpantau di kawasan Dengklik, Penanjakan, dan Tosari.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto mengatakan penanganan kebakaran terus diintensifkan di titik-titik yang masih menjadi perhatian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Alhamdulillah untuk sektor P-30 sudah tidak ditemukan lagi titik api sejak pagi tadi. Namun kami masih melakukan pemantauan ketat di beberapa titik lain," ujar Gatot Soebroto saat dikonfirmasi, Selasa (12/8/2026).
Upaya pemadaman terus dimaksimalkan dengan dukungan 11 unit mobil pemadam kebakaran serta personel gabungan dari Damkar dan BPBD berbagai daerah, di antaranya Surabaya, Nganjuk, Mojokerto, Pasuruan, Probolinggo, Malang, hingga Jombang yang turut mengirimkan bantuan tambahan.
"Selain armada darat, kami juga menyiapkan tiga unit tangki air dan kendaraan operasional. Personel TNI dan Polri juga terus memperkuat di lapangan," jelas Gatot.
Ia menambahkan, pihaknya berharap kondisi cuaca hari ini mendukung sehingga tiga helikopter water bombing dapat beroperasi optimal untuk membantu pemadaman dari udara.
Gatot menjelaskan bahwa langkah mitigasi sebenarnya telah dilakukan sejak awal, termasuk arahan dari Menteri Kehutanan saat kunjungan ke kawasan TNBTS. Arahan tersebut menekankan pentingnya peningkatan sosialisasi dan patroli di wilayah rawan kebakaran.
"Sekat bakar sudah dibuat, namun kita tidak bisa mengabaikan kondisi Bromo yang memiliki karakter angin cukup kencang. Ini yang membuat api cepat sekali merambat," ungkapnya.
Akibat kejadian ini, sekitar 942 hektare lahan dilaporkan terdampak kebakaran. Gatot menegaskan bahwa ke depan, keterlibatan masyarakat dan pengunjung menjadi kunci penting dalam pencegahan.
"Jangan sampai ada aktivitas yang memicu api, terutama saat musim kemarau. Kalau membuat api unggun atau merokok, pastikan benar-benar padam sebelum ditinggalkan. Bara kecil saja bisa kembali menyala karena angin," tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa vegetasi di Bromo yang didominasi alang-alang kering sangat mudah terbakar dan dapat mempercepat penyebaran api ke berbagai arah.
Menurut Gatot, kondisi suhu dingin di kawasan Bromo sering membuat masyarakat maupun petani masih menggunakan api dalam aktivitas tertentu. Karena itu, ia menekankan pentingnya kehati-hatian.
"Kalau memang harus menggunakan api, pastikan seluruh sisa pembakaran disiram air dan diperiksa kembali. Jangan sampai ada bara yang tertinggal," ujarnya.
Langkah sederhana tersebut, kata dia, sangat penting untuk meminimalkan risiko kebakaran berulang di kawasan tersebut.
Gatot juga menyampaikan bahwa penanganan kebakaran ini tidak lepas dari dukungan lintas sektor. Atas arahan Gubernur Jawa Timur dan sinergi dengan pemerintah pusat, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mengerahkan dua unit helikopter water bombing, ditambah satu unit dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
"Kolaborasi ini sangat penting karena penanganan kebakaran tidak bisa dilakukan satu instansi saja," katanya.
Ia menegaskan bahwa TNI, Polri, BPBD, relawan, serta unsur lainnya terus bersinergi di lapangan, baik dalam bentuk personel, kendaraan, maupun peralatan seperti jet shooter dan perlengkapan pendukung lainnya.
Dari sisi pendanaan, Gatot menjelaskan bahwa penanganan kebakaran ini merupakan hasil kolaborasi pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten sesuai kewenangan masing-masing.
"Semua bergerak bersama untuk memastikan penanganan berjalan maksimal," tambahnya.
Hingga saat ini, lebih dari 500 personel telah dikerahkan untuk membantu pemadaman kebakaran di kawasan Bromo. Mereka terdiri dari unsur TNI, Polri, BPBD, relawan, Perhutani, TNBTS, serta masyarakat dan komunitas setempat.
"Semua unsur terlibat aktif di lapangan. Ini menunjukkan kuatnya solidaritas dalam penanganan bencana," ujar Gatot.
Selain personel, berbagai peralatan pemadam juga dikerahkan dari berbagai daerah untuk mendukung operasi di lapangan.
Dengan sinergi seluruh pihak tersebut, Gatot berharap penanganan kebakaran di kawasan Bromo dapat segera tuntas dan kondisi kawasan kembali pulih seperti sedia kala.
