Rebo Wekasan merupakan tradisi yang dilakukan sebagian masyarakat muslim Indonesia pada Rabu terakhir bulan Safar. Pada hari tersebut, sebagian masyarakat menjalankan sejumlah amalan, seperti berdoa, bersedekah, silaturahim, hingga melaksanakan sholat sunah.
Selain amalan tersebut, muncul pula pertanyaan mengenai Rebo Wekasan boleh puasa atau tidak. Sebab, sebagian masyarakat ingin menjalankan puasa pada Rabu terakhir bulan Safar sebagai bagian dari ibadah. Lantas, apakah ada anjuran khusus untuk menjalankan puasa Rebo Wekasan? Bagaimana hukumnya?
Rebo Wekasan Boleh Puasa atau Tidak?
Tidak ada tuntunan khusus dalam syariat yang menetapkan puasa Rebo Wekasan sebagai ibadah tertentu yang dianjurkan. Dengan demikian, tidak ada puasa khusus yang ditetapkan dengan nama atau niat puasa Rebo Wekasan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini perlu dibedakan dengan seseorang yang menjalankan puasa sunah secara umum dan kebetulan waktunya bertepatan dengan Rebo Wekasan. Melansir NU Online, tradisi dan ibadah yang dilakukan pada Rabu terakhir bulan Safar perlu dilihat dari niat dan tata cara pelaksanaannya.
Rebo Wekasan sendiri bukan bagian dari syariat Islam yang memiliki tata cara ibadah khusus. Karena itu, seseorang tidak perlu meyakini bahwa terdapat keutamaan khusus puasa pada Rebo Wekasan jika tidak memiliki dasar syariat yang jelas.
Apakah Ada Puasa Khusus Rebo Wekasan?
Rebo Wekasan merupakan sebutan untuk Rabu terakhir pada bulan Safar. Tradisi tersebut berkembang di sejumlah daerah, dan kemudian diisi masyarakat dengan berbagai kegiatan keagamaan, seperti doa bersama, sedekah, silaturahim, serta ibadah sunah.
Namun, hal tersebut tidak serta-merta membuat setiap ibadah yang dilakukan pada hari itu menjadi ibadah khusus Rebo Wekasan. Sama seperti, tidak terdapat nash sharih yang secara khusus menganjurkan sholat Rebo Wekasan.
Karena itu, sholat tersebut tidak diniatkan sebagai sholat khusus Rebo Wekasan, melainkan dapat dilakukan sebagai sholat sunah mutlak menurut pendapat ulama yang membolehkannya.
Prinsip serupa penting diperhatikan ketika membahas puasa. Jangan sampai muncul anggapan bahwa puasa pada Rabu terakhir bulan Safar merupakan ibadah khusus yang memiliki tuntunan tersendiri.
Bagaimana Jika Ingin Puasa Saat Rebo Wekasan?
Jika seseorang ingin berpuasa pada hari Rebo Wekasan, yang perlu diperhatikan adalah niat puasanya. Puasa tidak semestinya dilakukan dengan keyakinan bahwa Rebo Wekasan memiliki kesakralan tertentu atau puasa tersebut secara khusus dapat menolak bala yang turun pada hari itu.
Sebaliknya, apabila seseorang memang memiliki alasan syar'i untuk berpuasa sunah dan hari pelaksanaannya bertepatan dengan Rebo Wekasan, persoalannya menjadi berbeda.
Dengan kata lain, yang perlu dihindari adalah mengkhususkan puasa Rebo Wekasan sebagai ibadah yang memiliki tuntunan tersendiri, bukan sekadar berpuasa pada hari yang kebetulan bertepatan dengan Rabu terakhir bulan Safar.
Hadis tentang Bulan Safar
Pembahasan mengenai Rebo Wekasan juga tidak dapat dilepaskan dari kepercayaan sebagian masyarakat mengenai bulan Safar sebagai waktu datangnya kesialan atau musibah. Padahal, terdapat hadis yang menjelaskan bahwa tidak ada kepercayaan mengenai datangnya malapetaka pada bulan Safar.
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم: قَالَ لَا عَدْوَى وَلَا صَفَرَ وَلَا هَامَةَ. رواه البخاري ومسلم
Artinya: Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: Tidak ada penyakit menular. Tidak ada kepercayaan datangnya malapetaka di bulan Safar. Tidak ada kepercayaan bahwa orang mati itu rohnya menjadi burung yang terbang. (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Menurut al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali, hadis tersebut merupakan respons Nabi Muhammad SAW terhadap tradisi yang berkembang pada masa jahiliyah, termasuk kepercayaan mengenai kesialan pada bulan Safar. Dengan demikian, bulan Safar tidak semestinya diyakini sebagai bulan yang membawa kesialan atau musibah.
Apakah Rebo Wekasan Merupakan Hari Turunnya Bala?
Kepercayaan bahwa Rebo Wekasan merupakan hari diturunkannya berbagai bala atau musibah berkembang di sebagian masyarakat. Kitab Mujarrabat ad-Dairabi memuat keterangan mengenai turunnya ratusan ribu bala pada Rabu terakhir bulan Safar.
(فَائِدَةٌ) ذَكَرَ بَعْضُ الْعَارِفِينَ مِنْ أَهْلِ الْكَشْفِ وَالتَّمْكِينِ أَنَّهُ يَنْزِلُ فِي كُلِّ سَنَةٍ ثَلَاثُمِائَةٍ وَعِشْرُونَ أَلْفًا مِنَ الْبَلِيَّاتِ، وَكُلُّ ذَلِكَ فِي يَوْمِ الْأَرْبِعَاءِ الْأَخِيرِ مِنْ شَهْرِ صَفَرٍ، فَيَكُونُ ذَلِكَ الْيَوْمُ أَصْعَبَ أَيَّامِ السَّنَةِ كُلِّهَا.
Artinya: (Faedah), 'Sebagian orang arif dari kalangan ahli kasyf (penyingkapan) dan tamkin (keteguhan rohani) menyebutkan bahwa setiap tahun turun 320 ribu bencana, dan semuanya turun pada hari Rabu terakhir bulan Safar. Maka hari itu menjadi hari yang paling berat di sepanjang tahun. (ad-Dairabi, Mujarrabat ad-Dairabi, [Beirut: Maktabah Tsaqafiyyah, tt] h 79).
Keterangan tersebut menjadi salah satu dasar berkembangnya amalan Rebo Wekasan di sebagian masyarakat. Namun, keyakinan bahwa suatu hari memiliki kekuatan sendiri untuk mendatangkan musibah perlu dihindari. Sebab, segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah SWT.
Apa Saja Amalan yang Bisa Dilakukan Saat Rebo Wekasan?
Meski tidak ada tuntunan khusus mengenai ritual Rebo Wekasan, umat Islam tetap dapat mengisi hari tersebut dengan berbagai amalan yang dianjurkan dalam Islam. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.
- Memperbanyak doa
- Berzikir
- Bersedekah
- Silaturahim
- Berbuat baik kepada sesama
- Melaksanakan sholat sunah
- Memperbanyak ibadah kepada Allah SWT
Yang perlu diperhatikan adalah tidak memberikan keyakinan khusus yang tidak memiliki dasar syariat kepada amalan tersebut. Misalnya, sedekah merupakan amalan yang dianjurkan dalam Islam. Namun, sedekah tidak harus dilakukan hanya karena seseorang meyakini bahwa Rebo Wekasan merupakan hari turunnya bala.
Begitu pula dengan doa. Seorang muslim dapat berdoa memohon perlindungan Allah SWT kapan saja, termasuk pada Rebo Wekasan, tanpa harus meyakini bahwa hari tersebut mempunyai kekuatan tertentu.
Jadi, tidak ada puasa khusus Rebo Wekasan yang ditetapkan dalam syariat Islam. Tidak terdapat tuntunan yang menjadikan puasa pada Rabu terakhir bulan Safar sebagai ibadah khusus dengan keutamaan tertentu.
Apabila seseorang ingin berpuasa pada hari tersebut, perlu dibedakan antara mengkhususkan puasa karena Rebo Wekasan dan menjalankan puasa sunah yang memang memiliki dasar syariat dan kebetulan bertepatan dengan Rebo Wekasan.
Hal serupa berlaku pada amalan lainnya. Rebo Wekasan dapat diisi dengan kegiatan yang bernilai ibadah seperti doa, dzikir, sedekah, silaturahim, dan berbuat baik kepada sesama, selama tidak disertai keyakinan bahwa hari tersebut memiliki kekuatan untuk mendatangkan bala atau kesialan.
Pada akhirnya, semua waktu adalah milik Allah SWT. Seorang muslim dapat mengisi Rabu terakhir bulan Safar maupun hari-hari lainnya dengan berbagai amal kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
(irb/hil)
