Sejarah Maulid Nabi Muhammad, Hari Lahir Rasulullah

Sejarah Maulid Nabi Muhammad, Hari Lahir Rasulullah

Irma Budiarti - detikJatim
Sabtu, 08 Agu 2026 21:00 WIB
Ilustrasi Maulid Nabi, peristiwa kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Ilustrasi peristiwa kelahiran Nabi Muhammad SAW. Foto: Gemini AI
Surabaya -

Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi salah satu momentum penting bagi umat Islam untuk mengenang kelahiran Rasulullah SAW sekaligus kembali mempelajari perjalanan hidup dan keteladanannya.

Setiap tahun, muslim di berbagai negara, termasuk Indonesia, memperingati Maulid Nabi dengan tradisi yang beragam, mulai dari pembacaan selawat dan kitab Maulid hingga pengajian dan kegiatan sosial.

Peringatan Maulid Nabi umumnya dikaitkan dengan 12 Rabiul Awal. Meski demikian, mengenai tanggal pasti kelahiran Nabi Muhammad SAW terdapat sejumlah perbedaan pendapat dalam catatan sejarah. Lantas, bagaimana sebenarnya sejarah munculnya tradisi Maulid Nabi?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Awal Mula Peringatan Maulid Nabi

Sejarah mengenai peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW memiliki sejumlah catatan dan riwayat. Dilansir NU Online, dalam buku Sejarah Maulid Nabi (2015), Ahmad Sauri menyebut kebiasaan masyarakat muslim memperingati kelahiran Rasulullah telah dikenal sejak masa awal Islam.

Catatan tersebut merujuk pada Nuruddin Ali dalam kitab Wafa'ul Wafa bi Akhbar Darul Mustafa. Salah satu tokoh yang disebut memiliki peran dalam perkembangan peringatan Maulid adalah Khaizuran, yang hidup sekitar 170 H/786 M.

ADVERTISEMENT

Ia merupakan ibu dari Musa al-Hadi dan Harun al-Rasyid, dua tokoh yang kemudian menjadi khalifah Dinasti Abbasiyah. Khaizuran dikenal sebagai perempuan yang memiliki pengaruh besar di lingkungan pemerintahan Abbasiyah.

Dalam salah satu catatan sejarah yang dikutip Ahmad Sauri, ketika datang ke Madinah, Khaizuran memerintahkan masyarakat untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW di Masjid Nabawi.

Dari Madinah, ia kemudian melanjutkan perjalanan ke Makkah, dan mendorong masyarakat setempat untuk melakukan peringatan serupa. Jika di Madinah perayaan dilakukan di Masjid Nabawi, masyarakat Makkah saat itu diarahkan untuk memperingatinya di rumah masing-masing.

Perhatian Khaizuran terhadap Nabi Muhammad SAW juga tidak terlepas dari kondisi Dinasti Abbasiyah yang pada masa itu mengalami perkembangan dalam berbagai bidang. Selain ilmu pengetahuan dan kebudayaan, perhatian terhadap peninggalan sejarah dan kehidupan Rasulullah turut berkembang.

Peringatan kelahiran Nabi kemudian menjadi salah satu bentuk penghormatan dan ungkapan kecintaan kepada Rasulullah SAW. Dalam perkembangannya, tradisi tersebut hadir dengan bentuk yang berbeda-beda sesuai budaya masyarakat muslim di berbagai wilayah.

Kelahiran Nabi Muhammad SAW di Makkah

Rasulullah SAW lahir di Makkah, sebuah kota yang memiliki posisi penting di Jazirah Arab. Dalam tradisi yang berkembang luas, Nabi Muhammad SAW disebut lahir pada 12 Rabiul Awwal Tahun Gajah atau sekitar 570 Masehi.

Namun, tanggal tersebut bukan satu-satunya pendapat yang tercatat dalam sejarah. Muhammad Husain Haekal dalam Sejarah Hidup Muhammad (2006) menyebut adanya perbedaan pendapat mengenai waktu kelahiran Rasulullah.

Ada riwayat yang memperkirakan Rasulullah lahir beberapa waktu sebelum peristiwa Tahun Gajah, sementara pendapat lain menyebut beberapa hari, bulan, bahkan tahun setelahnya.

Karena itu, 12 Rabiul Awal lebih dikenal sebagai tanggal yang masyhur dalam tradisi umat Islam untuk memperingati Maulid Nabi, sementara pembahasan mengenai tanggal kelahiran secara historis memiliki sejumlah pendapat.

Nabi Muhammad SAW lahir dari keluarga Bani Hasyim, salah satu keluarga terpandang dari Suku Quraisy. Makkah sendiri merupakan pusat penting di wilayah Hijaz dan menjadi tempat bertemunya masyarakat dari berbagai penjuru.

Menurut M Quraish Shihab dalam Lentera Hati (2007), posisi Jazirah Arab yang berada di antara wilayah Timur dan Barat turut memberikan konteks penting dalam perjalanan sejarah penyebaran Islam. Kawasan Hijaz berada di antara pengaruh dua kekuatan besar pada masa itu, yakni Romawi dan Persia.

Makkah juga memiliki peran besar dalam aktivitas perdagangan dan kehidupan masyarakat Arab. Dari kota inilah Nabi Muhammad SAW kemudian diutus untuk menyampaikan risalah Islam kepada umat manusia.

Dari Mengenang Kelahiran hingga Meneladani Rasulullah

Seiring berjalannya waktu, peringatan Maulid Nabi tidak hanya menjadi kegiatan untuk mengenang hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Maulid berkembang menjadi momentum untuk kembali menceritakan kehidupan Rasulullah, membaca selawat, mendengarkan nasihat keagamaan, serta mengingat akhlak dan perjuangannya.

Nilai yang ingin dihidupkan melalui peringatan tersebut adalah kecintaan kepada Rasulullah SAW dan keinginan untuk mengikuti keteladanannya. Hal ini pula yang membuat tradisi Maulid Nabi memiliki bentuk yang berbeda di berbagai wilayah.

Masyarakat dapat menyesuaikan pelaksanaannya dengan budaya lokal selama tetap menjadikan kisah dan keteladanan Nabi Muhammad SAW sebagai bagian utama dari kegiatan.

Di Indonesia, misalnya, Maulid Nabi telah menjadi bagian dari khazanah keislaman masyarakat di berbagai daerah. Di sejumlah wilayah Jawa, peringatan Maulid Nabi kerap diisi dengan pembacaan kitab-kitab yang menceritakan kehidupan dan keutamaan Rasulullah.

Beberapa kitab yang populer dibaca antara lain Maulid Barzanji, Simtud Dhurar, Diba', Syaraf al-Anam, dan Burdah. Pembacaan tersebut biasanya dilakukan secara bersama-sama, disertai selawat dan doa.

Setelah rangkaian pembacaan selesai, masyarakat biasanya menyantap makanan yang telah disiapkan secara gotong royong. Kebiasaan ini membuat peringatan Maulid tidak hanya menjadi kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi dan kebersamaan antarwarga.

Maulid Nabi sebagai Momentum Meneladani Rasulullah

Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW menunjukkan bahwa peringatan kelahiran Rasulullah telah berkembang dalam perjalanan panjang umat Islam. Bentuknya pun tidak selalu sama antara satu tempat dengan tempat lainnya.

Di Indonesia, keragaman tersebut terlihat dari pembacaan kitab Maulid, selawat, pengajian, makan bersama, hingga berbagai tradisi budaya lainnya. Di balik beragam bentuk tersebut terdapat satu hal yang menjadi inti peringatan, yakni mengenang Nabi Muhammad SAW dan mengambil pelajaran dari kehidupannya.

Karena itu, Maulid Nabi bukan sekadar perayaan tahunan. Momentum ini dapat menjadi kesempatan untuk kembali membaca sejarah Rasulullah, mengenal akhlaknya, memahami perjuangannya, dan menerapkan nilai-nilai keteladanan beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan cara tersebut, peringatan Maulid tidak berhenti pada kegembiraan mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi sarana untuk menjaga kecintaan kepada Rasulullah dan menghidupkan ajarannya dalam kehidupan umat Islam.



(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads