Mayoritas kondisi korban kecelakaan laut yang sempat mendapat perawatan medis di RS PHC Surabaya sudah semakin membaik. Kini tersisa 2 pasien yang masih menjalani rawat inap dari total 11 pasien.
Direktur RS PHC Surabaya Dr Rony Kurniawan mengatakan 2 pasien yang masih dalam observasi tim medis. Ia menegaskan penanganan medis terhadap para korban dilakukan secara bertahap dan sebagian besar pasien telah diizinkan pulang setelah kondisi fisiknya dipastikan stabil.
"Hari ini hanya tersisa dua pasien yang masih menjalani rawat inap. Pasien yang tersisa ini terdiri dari satu pasien dewasa dan satu pasien anak-anak," kata Dr. Rony kepada kepada awak media saat ditemui di gedung Administrasi RS PHC Surabaya, Kamis (6/8/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengungkapkan, pasien anak tersebut sebenarnya sempat dijadwalkan pulang lebih awal. Namun, kepulangannya ditunda sementara lantaran sempat mengalami peningkatan suhu tubuh atau demam.
"Kemarin waktu mau dipulangkan kondisinya agak panas sedikit, jadi kita tahan untuk observasi satu hari ini. Jika besok kondisinya sudah stabil, kemungkinan besar sudah diperbolehkan pulang," tambahnya.
Rony menjelaskan kondisi klinis mayoritas pasien saat pertama kali tiba di RS mengalami kelelahan ekstrem, mual, muntah, hingga pusing. Menurut dia, kondisi tersebut dipicu oleh situasi darurat di mana para korban harus berenang sejauh kurang lebih dua kilometer di laut lepas selama 2 hingga 3 jam untuk mencapai kapal penyelamat.
"Karena kapal penolong tidak bisa mendekat untuk menghindari benturan, korban harus berenang terkatung-katung kena ombak besar. Banyak air laut yang masuk ke hidung dan mulut, sehingga timbul mual dan dehidrasi karena tidak ada pasokan air minum," ujarnya.
Selain kelelahan dan dehidrasi, beberapa pasien juga mengalami luka memar serta lecet pada kulit. Rony juga menyatakan isu terkait adanya korban yang mengalami luka bakar tidak benar, melainkan luka lecet akibat gesekan bekas tali.
"Tidak ada indikasi luka bakar akibat panas kapal maupun infeksi khusus. Luka yang ada murni luka lecet akibat gesekan tali saat proses evakuasi (turun kapal) serta memar akibat benturan dengan air laut," tegas Dr. Rony.
Selama proses perawatan, lanjut Rony, tim medis RS PHC Surabaya berfokus pada tindakan suportif guna mengembalikan kebugaran fisik pasien. Mulai dari pemulihan nutrisi dan cairan melalui infus serta pemberian obat pereda nyeri.
Terkait data penanganan, Rony mengklarifikasi ada 15 orang yang sempat tercatat di papan informasi rumah sakit mencakup pasien rawat jalan. Lalu, ada pula tambahan pasien bergejala ringan dari area penginapan/hotel yang langsung diizinkan pulang setelah penanganan singkat.
Terkait pencarian anggota keluarga oleh pihak korban lagi, Rony memastikan seluruh proses rekonsiliasi dan pencarian telah selesai. Bahkan, sudah tidak ada keluarga korban yang mencari keberadaan pasien atau korban lagi
"Untuk laporan keluarga yang mencari keberadaan korban hilang, saat ini sudah tidak ada. Semua sudah saling bertemu," tutupnya.
