Pendakian Terakhir Maliya dan Irfan di Gunung Piramid

Round Up

Pendakian Terakhir Maliya dan Irfan di Gunung Piramid

Hilda Meilisa Rinanda - detikJatim
Kamis, 06 Agu 2026 06:00 WIB
Kapolres Bondowoso AKBP Aryo dan ketua tim SAR saat sampaikan kabar penemuan ke keluarga korban
Pencarian pendaki hilang di Gunung Piramid Bondowoso/Foto: Chuk Shatu W/detikJatim
Bondowoso -

Ucapan Irfan Nasrul Laili sebelum berangkat mendaki, kini terasa begitu mengiris hati. Pendakian ke Gunung Piramid, Bondowoso, yang disebutnya sebagai pendakian terakhir, benar-benar menjadi perjalanan terakhirnya bersama Maliya Finda, rekan pendaki yang sama-sama berpengalaman menjelajahi berbagai gunung di Indonesia.

Setelah dua hari hilang kontak, keduanya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Proses evakuasi pun tidak bisa langsung dilakukan karena cuaca berkabut tebal dan medan yang curam, sebelum akhirnya tim SAR mengevakuasi jenazah mereka pada keesokan harinya.

Maliya merupakan warga Kelurahan Darmo, Kecamatan Wonokromo, Surabaya, serta Irfan, warga Desa Traktakan, Kecamatan Wonosari, Bondowoso. Keduanya dikenal sebagai pendaki yang telah berpengalaman menjelajahi berbagai gunung di Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Operasi pencarian yang dilakukan tim gabungan akhirnya membuahkan hasil ketika kedua pendaki ditemukan sekitar pukul 13.00 WIB dalam kondisi meninggal dunia. Setelah proses penanganan di lokasi, jenazah baru berhasil dibungkus kantong jenazah sekitar pukul 16.00 WIB.

ADVERTISEMENT

Namun, evakuasi tidak dapat dilanjutkan pada hari yang sama karena kondisi Gunung Piramid mulai diselimuti kabut tebal. Medan yang terjal dan berisiko tinggi membuat tim SAR memutuskan menunda proses pengangkatan hingga keesokan paginya demi keselamatan seluruh personel.

On-Scene Coordinator (OSC) Tim SAR Gunung Piramid, Jefri mengatakan, seluruh persiapan evakuasi sebenarnya telah dilakukan pada hari penemuan korban. Kedua jenazah juga sudah dikemas agar siap dipindahkan.

"Pada pukul 16.00 WIB kemarin packing passion sudah kami lakukan. Kedua korban sudah terbungkus dengan rapi," jelas On-Scene Cordinator (OSC) Tim SAR Piramid, Jefri, kepada detikJatim, Rabu (5/8/2026).

Meski demikian, proses evakuasi harus ditunda karena cuaca memburuk menjelang malam. Selain kabut tebal, tim juga harus menyiapkan sistem pengangkatan khusus mengingat lokasi korban berada di medan yang curam.

"Pagi ini tim sudah bergerak ke atas, ke titik jenazah korban. Selanjutnya kami menggunakan metode lifting ke atas ke pos punggung naga," papar anggota Basarnas ini.

Menurut Jefri, proses evakuasi dilakukan secara bertahap dengan melibatkan tiga Search and Rescue Unit (SRU). Dua SRU bertugas mengangkat jenazah dari lokasi penemuan, sedangkan satu SRU lainnya disiagakan untuk proses estafet hingga ke titik evakuasi.

"Skemanya seperti kemarin. Ada 3 SRU (Search and Rescue Unit) yang dilibatkan. Dua SRU kami fokuskan untuk penanganan atau pengangkatan dua jenazah," jelasnya.

Setelah tiba di Pos II, jenazah kemudian akan dipindahkan menuju Pos I sebelum dibawa ke rumah sakit.

"Rencana dari sini langsung dievakuasi ke RS Bhayangkara Bondowoso untuk penanganan lebih lanjut," pungkas Jefri.

Di balik musibah tersebut, keluarga mengungkapkan bahwa kedua korban bukan pendaki pemula. Maliya selama ini dikenal aktif mengikuti berbagai kegiatan luar ruang, mulai mendaki gunung, bersepeda hingga trail run.

Menantu Maliya, Audi mengatakan, sang mertua memang memiliki hobi beraktivitas di alam bebas. Keluarga bahkan telah beberapa kali mengingatkan agar mengurangi kegiatan yang berisiko karena faktor usia.

"Umi memang hobi berkegiatan outdoor. Selain naik gunung, juga bersepeda, trail run, dan sebagainya," tutur Audi, menantu korban Maliya saat berbincang dengan detikJatim di Posko SAR, Rabu (5/8/2026).

Meski sering diingatkan, Maliya tetap menjalani hobinya. Audi juga mengenang satu kebiasaan yang tidak pernah ditinggalkan sang mertua saat berada di alam bebas.

"Namun karena memang sudah hobinya, ya mau gimana lagi. Satu hal lagi, beliau selalu tak lupa salat selama beraktifitas outdoor," tutur bapak satu anak ini.

Sementara Irfan Nasrul Laili juga dikenal sebagai pendaki yang berpengalaman. Kerabatnya menyebut pria yang sehari-hari berjualan di Pasar Wonosari itu telah mendaki sejumlah gunung, termasuk di luar Jawa Timur.

"Dia anak tunggal. Kalau gak ada kegiatan naik gunung, ia berjualan di Pasar Wonosari," terang Yudi.

Sebelum memulai pendakian ke Gunung Piramid pada Sabtu (2/8/2026), Maliya diketahui sempat singgah ke rumah Irfan untuk mempersiapkan perjalanan. Sebagian perlengkapan Maliya bahkan masih tersimpan di rumah Irfan.

"Bahkan sebagian barang-barang Bu Maliya sampai saat ini masih ada dititipkan di rumah Irsan," katanya.

Di tengah duka keluarga, muncul cerita yang membekas dari orang-orang terdekat Irfan. Salah seorang kerabat mengungkapkan bahwa sebelum berangkat mendaki, Irfan sempat mengatakan perjalanan ke Gunung Piramid akan menjadi pendakian terakhirnya.

"Ya mungkin karena sudah banyak gunung yang telah didaki," pungkasnya.

Ucapan tersebut kini menjadi kenangan terakhir bagi keluarga dan kerabat. Setelah berpengalaman menaklukkan sejumlah gunung di Indonesia, perjalanan Irfan dan Maliya di Gunung Piramid justru menjadi pendakian terakhir yang berujung duka.



(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads