Tantangan Golf 99 Holes dalam Sehari Resmi Tercatat dalam Rekor MURI

Tantangan Golf 99 Holes dalam Sehari Resmi Tercatat dalam Rekor MURI

Tim detikJatim - detikJatim
Rabu, 05 Agu 2026 14:52 WIB
Rektor UK Petra, Prof. Rolly Intan (tengah-baju biru) bersama golfer yang menuntaskan 99 hole dalam sehari.
Rektor UK Petra, Prof. Rolly Intan (tengah-baju biru) bersama golfer yang menuntaskan 99 hole dalam sehari. (Foto: Istimewa)
Surabaya -

Selasa malam (28/7), Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) resmi menganugerahkan penghargaan kepada Petranesian Golf Community atas rekor tantangan bermain golf 99 holes dalam satu hari. Pencapaian ini menjadi tonggak sejarah baru dalam kategori ketahanan (endurance) olahraga golf di Indonesia.

Rekor bersejarah tersebut diukir melalui ajang Petranesian Golf Endurance Challenge. Sebanyak 16 golfer bertanding secara non-stop selama kurang lebih 17 jam mulai pukul 05.15 WIB hingga 22.00 WIB. Didorong semangat tinggi, para peserta bahkan berhasil melampaui target awal dari 90 holes menjadi 99 holes.

Mereka bertanding secara marathon di empat lapangan golf berbeda di Surabaya, yakni Ciputra Golf, Graha Famili Golf & Country Club, Bukit Darmo Golf, dan Pakuwon Golf.
Pihak MURI menyatakan rekor ini sah setelah melalui proses verifikasi dan pemantauan langsung di lapangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penilaian ketat dilakukan mencakup durasi waktu, dokumentasi, berita acara, hingga pemenuhan seluruh kriteria teknis olahraga golf. Wakil Direktur Utama MURI, Osmar Semesta Susilo menyatakan bahwa ajang ini berlangsung sukses dan sarat akan semangat juang.

"Kekompakan sangat terlihat dari setiap golfer yang terlibat, terbukti dari keberhasilan mereka memecahkan rekor hingga 99 holes. Ketahanan fisik, disiplin, dan konsistensi diri benar-benar tercermin dalam kegiatan ini. Dengan bangga, saya menyatakan Petranesian Golf Endurance Challenge resmi menerima rekor MURI," ujar Osmar yang hadir di acara.

ADVERTISEMENT

Ajang yang diadakan untuk pertama kalinya ini digawangi oleh Petranesian Alumni dalam rangka peringatan Dies Natalis ke-65 Universitas Kristen (UK) Petra. Perjuangan para golfer baik dari Indonesia, Hong Kong, dan Kanada, sekaligus menjadi aksi penggalangan dana bagi tujuh program strategis universitas tentang kemanusiaan dan pendidikan.

Beberapa di antaranya adalah untuk pembangunan Rumah Sakit Petra, beasiswa calon guru, pengembangan Fakultas Kedokteran, hingga dukungan
kegiatan kemahasiswaan.

Ke-16 golfer yang berjuang dalam peraihan rekor MURI ini adalah Ricky Cheng (sahabat dan donor UK Petra dari Hong Kong) yang mendukung penuh sektor Petra Theatre; Hubbie Thenufijaya Untung (Petranesian 2015) yang berfokus pada beasiswa calon guru; Nathan Widjaya (putra Petranesian Alumni) serta Vincent Prasetyo (Petranesian 2015) yang mendedikasikan dukungannya untuk Fakultas Kedokteran dan Pembangunan Rumah Sakit Petra; Teddy Salim (Petranesian 2002) yang bergerak untuk pengembangan OIA dan komunitas Petranesian, serta Tity Ali (Petranesian 1983); Hendrick S. Christanto (Petranesian 1984); Marlon Christian Bong (Petranesian 2025) yang berkomitmen memajukan Unit
Kegiatan Mahasiswa (UKM) Golf UK Petra; Christian Boby Widjaja (Petranesian 2009); Edwin Soeryadjaya (Dewan Penyantun YPTK Petra); Paulus Rudy Jr (Petranesian 1999); Christopher Kenneth (Petranesian 2021).

Ketua Umum Onward to 65, Teddy Salim, menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi simbol daya juang dan kolaborasi lintas generasi di lingkungan almamater. "Kegiatan ini menghubungkan mahasiswa, alumni, penyantun, dan mitra UK Petra.

Ketahanan dan fokus selama 17 jam di lapangan mencerminkan prinsip perjalanan 65 tahun UK Petra untuk terus berkembang dan memberikan dampak nyata bagi
masyarakat," kata Teddy.

Pencapaian rekor ini sekaligus menegaskan nilai kolaborasi lintas generasi yang terus dibangun oleh UK Petra melalui aksi nyata yang memberikan dampak positif berkelanjutan bagi masyarakat.

"Esensi sejati dari rekor MURI ini bukan sekadar mengejar catatan angka, melainkan pembuktian nyata dari nilai togetherness. Kami ingin menunjukkan bahwa lintas generasi dapat menyatu dalam satu ekosistem yang solid. Ketika kebersamaan itu terbentuk, tidak ada batasan yang tidak bisa dilalui," tutup Teddy.



(auh/dpe)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads