Konflik Viral Anak Diduga Diajak Ayah Ngemis di Surabaya Makin Runcing

Round-Up

Konflik Viral Anak Diduga Diajak Ayah Ngemis di Surabaya Makin Runcing

Denza - detikJatim
Minggu, 02 Agu 2026 10:01 WIB
Ibu di Surabaya cari anaknya yang dibawa suami ngemis
Anak di Surabaya yang disebut ibunya dibawa eks suaminya ngemis. (Foto: Istimewa)
Surabaya -

Saling tuduh dan adu klaim mewarnai polemik hak asuh balita berinisial A (5) antara sang ibu, Agustin Arimardika (33) alias Ayu, dengan mantan suaminya, Sunardi (33). Konflik yang mulanya jadi buah bibir di media sosial itu kian meruncing usai Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3A-PPKB) Surabaya turun ke lapangan dan menyebut sang anak dirawat dengan baik oleh ayahnya.

Merasa hasil pengecekan lapangan tersebut tidak sesuai dengan realita sesungguhnya, Ayu meluapkan kemarahannya saat mendatangi Rumah Aspirasi di Rumah Dinas Wakil Wali Kota Surabaya Armuji pada Sabtu (1/8/2026). Ibu kandung korban ini menuding temuan pihak dinas tidak menggambarkan penderitaan anaknya selama lima bulan terakhir.

"Bohong! Itu kan tahunya kan hanya hari itu aja, kalau yang sebelum-sebelumnya kan enggak tahu. DP3A taunya waktu terjun ke lapangan cuma beberapa jam aja. Tapi yang lebih tahu itu saya ibunya," tegas Ayu penuh emosi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ayu bergeming dengan tuduhannya bahwa putri kecilnya ditelantarkan, diajak mengemis, hingga terpaksa tidur beralas kardus di emperan pasar. Demi memperkuat klaimnya, ia memutarkan rekaman suara yang diklaim sebagai kesaksian tetangga serta keluarga mantan suaminya.

"Enggak mungkin dong mereka semua bohong. Kan yang ngomong kan enggak satu dua orang aja, saksinya banyak... Yang terlantar itu loh coba dilihat semuanya itu, anak tidur di emperan kayak gitu, anak kurus kucel kayak gitu yang awalnya ikut saya cantik, gemuk, dimong bapaknya dadi koyok ngono," cecar Ayu menuntut agar A dikembalikan.

ADVERTISEMENT

Menanggapi tuduhan beruntun tersebut, Sunardi angkat suara dan menepis mentah-mentah semua prasangka mantan istrinya. Ditemui di area Pasar Keputran Surabaya usai berbincang dengan Wawali Armuji, Sunardi menegaskan bahwa narasi eksploitasi dan pengabaian anak adalah fitnah keji.

"Kalau saya itu benar-benar enggak menyuruh ataupun apa ya, yang dikatakan sama mamanya atau mantan saya, itu enggak benar sama sekali. Itu hoax, fitnah... Kalau enggak percaya Sampeyan silakan tanya-tanya sama semua orang di Pasar Keputran, terus teman-teman saya, silakan Sampeyan tanya. Saya enggak pernah menyuruh sama sekali, apalagi untuk menelantarkan anak," bantah Sunardi.

Sunardi membeberkan bahwa perselisihan mereka berdua berakar dari konflik masa lalu dan masalah penganiayaan yang sempat berlanjut ke kepolisian. Ia bahkan mengklaim bahwa putri kecilnya saat ini justru merasa ketakutan jika harus dipisahkan dari dirinya dan dikembalikan kepada ibu kandungnya.

"Anak takut, enggak mau ikut mamanya. Kemarin pun sempat ketemu di Indomaret depan Pangkep, yang dipanggil pertama itu Mbaknya, bukan mamanya... Ya penginnya udah selesai. Kita udah tidak ada apa-apa. Tetap aku sama Aluna," pungkas Sunardi.

Di tengah memanasnya silang pendapat kedua orang tua ini, kesaksian mengejutkan datang dari seorang tetangga Sunardi bernama Marini alias Rintul. Ia membeberkan fakta bahwa Ayu sempat mengontaknya melalui media sosial untuk meminta foto sang anak. Namun, komunikasi tersebut diwarnai instruksi yang dinilainya ganjil.

"Dia bilang 'mbak tolong culno arek e tapi meneng-meneng ae, ojok eroh bapake. Nak dalan ngunu, terus fotokno (mbak tolong lepaskan anaknya ke jalanan, diam-diam saja jangan ketahuan bapaknya. Di jalan begitu, terus fotokan)'," ungkap Marini memperagakan pesan Ayu.

Marini mengklaim Ayu bahkan menjanjikan imbalan uang agar ia mau mengambil foto seolah-olah A terabaikan di jalanan. Karena merasa iba dan tak tega kepada sang balita, Marini menolak mentah-mentah tawaran itu dan mengaku kaget saat foto kepolosan A sedang bermain bersama teman-temannya diviralkan di medos dengan narasi sebagai anak telantar.



(ihc/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads