Massa dari Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) mulai memadati kawasan Mapolrestabes Surabaya, Jumat (31/7/2026) sekitar pukul 14.15 WIB. Dalam aksi damai tersebut, massa menegaskan dukungannya terhadap penegakan hukum sekaligus menyatakan penolakan terhadap praktik premanisme yang mengatasnamakan debt collector.
Pantauan di lokasi, massa mengenakan pakaian hitam khas PSHT dan membawa sejumlah bendera organisasi. Sebuah mobil komando disiapkan sebagai pusat penyampaian aspirasi, sementara aparat kepolisian berjaga di depan Mapolrestabes Surabaya untuk mengamankan jalannya aksi.
Perwakilan komando Arus Bawah PSHT Jatim Bondan mengatakan, sekitar 1.000 anggota PSHT dari berbagai wilayah di Surabaya mengikuti aksi damai di Mapolrestabes Surabaya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam orasinya, Bondan mengingatkan seluruh peserta aksi untuk menjaga ketertiban selama menyampaikan aspirasi.
"Untuk selalu menghormati ketertiban, selalu menghormati petugas keamanan, dan menjunjung tinggi persaudaraan," ujar Bondan.
Ia juga menegaskan seluruh proses hukum terkait dugaan penganiayaan dan pembacokan terhadap anggota PSHT diserahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum.
"Untuk proses hukum kita sepakat serahkan semua kepada petugas hukum," katanya.
Bondan menyatakan pihaknya menolak segala bentuk kekerasan dalam proses penagihan utang yang bertentangan dengan hukum.
"Kami menolak segala bentuk kekerasan dalam proses penagihan utang yang melanggar hukum. Negara hukum tak memberi ruang bagi aksi main hakim sendiri, dari manapun anda, siapapun anda," bebernya.
Dalam kesempatan itu, Bondan juga menegaskan warga PSHT siap mendukung pemberantasan aksi premanisme di Kota Surabaya.
"Warga PSHT siap menjadi garda terdepan untuk melawan aksi premanisme di Kota Surabaya ini," jelasnya.
Ia berharap aparat penegak hukum dapat menangani perkara tersebut secara adil sehingga kepercayaan masyarakat terhadap institusi hukum tetap terjaga.
"Kami percaya hukum yang adil akan menjaga kepercayaan publik pada intitusi penegak hukum. PSHT menentang aksi premanisme di Surabaya yang dibentuk yang dibungkus oleh kedok debt collector," bebernya.
Bondan menegaskan, aksi yang digelar merupakan aksi damai dan bukan untuk menciptakan kericuhan.
"Kami adalah PSHT di mana kami ingin damai, kami ingin kondusivitas keamanan di Surabaya selalu terjaga. Kami ingin menggelar aksi damai agar masyarakat tahu masih ada PSHT-PSHT yang baik," kata Bondan.
Aksi tersebut merupakan tindak lanjut atas kasus dugaan penganiayaan dan pembacokan terhadap dua anggota PSHT yang bekerja sebagai petugas valet di sebuah tempat hiburan di kawasan Tegalsari, Surabaya. Massa juga berencana mendatangi markas debt collector di Jalan Teuku Umar untuk menyampaikan tuntutan agar para pelaku segera diproses secara hukum.
Sebelumnya, Polrestabes Surabaya telah menerima surat pemberitahuan aksi dan menyiapkan pengamanan serta rekayasa lalu lintas di sejumlah ruas jalan untuk mengantisipasi kepadatan kendaraan selama kegiatan berlangsung.
