Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi didatangi paguyuban pedagang kaki lima (PKL) Tambak Wedi yang viral menarik uang kepada pedagang Sentra Wisata Kuliner (SWK). Mereka datang menemuinya untuk meminta maaf.
Eri mengungkapkan, bila saat ada laporan masuk dan meminta Lurah Tambak Wedi menindaklanjuti, kemudian paguyuban mengembalikan uang pedagang SWK. Karena SWK dikelola oleh paguyuban di Tambak Wedi.
"Aku lapor untuk minta lapor lurahnya, baru balikno duit. Kaget aku iki. Karena kemarin pada waktu itu paguyuban menyampaikan bahwa saya tidak menerima uang," kata Eri di ruang kerjanya, Kamis (30/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Paguyuban yang sudah mematok uang sewa hingga Rp3 juta kepada pedagang itu mendatangi Eri dan meminta maaf. Eri pun memaafkan dan meminta tidaj mengulanginya lagi.
"Saya tidak ingin anak buah saya tidak bisa membantu orang yang membutuhkan. Iku tok. Insyaallah saya maafkan. Kita maafkan. Sudah gak ada yang perlu kita lakukan. Tapi ojo dibaleni maneh," jelasnya.
Ia juga nengingatkan, agar tidak mencari siapa yang melaporkan ke dia. Sehingga terjadi intimidasi kepada pedagang yang melapor.
"Jangan loh ya (intimidasi pelapor). Saya paling nggak suka kayak begitu. Aku iso tak gas maneh," ujarnya.
Eri menuturkan, bila pungli menjadi alarm bersama. Ia juga berniat ke SWK Tambak Wedi untuk diperbaiki.
"Kalau kejadian kayak gini itu pengingat kita, aku salah berarti, aku nglakoni salah. Tapi nanti saya ingin ke Tambak Wedi, tak apiki," katanya.
Dia juga menegaskan, permintaan maaf dan pengembalian uang tidak menghentikan proses hukum. Menurutnya, kelanjutan perkara sepenuhnya menjadi kewenangan aparat penegak hukum (APH).
"Meskipun sudah meminta maaf, proses hukum tetap berjalan. Sebab, yang menentukan kelanjutan proses hukum adalah pihak yang berwenang, yaitu aparat penegak hukum," tegasnya.
Ia berharap peristiwa ini menjadi pelajaran agar praktik pungutan liar maupun aksi premanisme tidak kembali terjadi di Surabaya. Ia pun mengajak masyarakat untuk aktif melapor jika menemukan praktik serupa.
"Dengan adanya kejadian ini saya berharap semuanya menjadi terang. Kita semua harus berani melawan pungutan liar maupun aksi premanisme di Surabaya. Karena itu, apabila masih menemukan praktik pungutan liar seperti ini, segera laporkan melalui hotline saya atau langsung kepada Satgas Preman," pungkasnya.
