Pemkab Sidoarjo memperkuat sinergi dengan Aliansi Masyarakat Pemerhati Lingkungan Hidup dan B.3 Indonesia (AMPHIBI) Jawa Timur untuk mempercepat penanganan sampah. Kolaborasi itu diharapkan mampu menghadirkan pengelolaan sampah yang lebih efektif, terpadu, dan berkelanjutan.
Wakil Bupati Sidoarjo, Mimik Idayana menyampaikan apresiasi kepada AMPHIBI Jatim dan seluruh elemen masyarakat yang selama ini ikut berkontribusi dalam upaya menjaga kebersihan lingkungan.
"Kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih sebesar-besarnya atas kepedulian masyarakat dan pihak terkait dalam penanganan masalah sampah di Sidoarjo. Kinerja pemerintah tidak akan maksimal tanpa dukungan dan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat," kata Mimik usai audiensi, Selasa (28/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, berbagai upaya telah dilakukan Pemkab Sidoarjo untuk mengurangi timbulan sampah. Baik melalui pengolahan dan daur ulang sampah memanfaatkan kreativitas dan inovasi maupun pengembangan mesin pengolahan sampah.
Selain itu, pelestarian lingkungan juga terus didorong melalui berbagai kegiatan penanaman mangrove dan berbagai aksi konservasi lainnya.
"Kerja sama seperti ini kami harapkan mampu menciptakan penanganan sampah yang lebih efektif, terpadu, dan berkelanjutan demi lingkungan Sidoarjo yang lebih bersih, asri, dan sehat," ujarnya.
Sementara itu, Ketua AMPHIBI Jawa Timur, Samsul Hadi mengatakan audiensi dengan Pemkab Sidoarjo merupakan kelanjutan komunikasi yang telah terjalin sejak 5 Juni 2025. Tujuannya untuk mempererat sinergi sekaligus menyusun solusi pengelolaan sampah yang lebih komprehensif.
Menurut Samsul, persoalan utama pengelolaan sampah di Sidoarjo bukan hanya pada pemanfaatan teknologi melainkan juga kesadaran masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah.
"Ide dan gagasan pengolahan sampah sebenarnya sudah banyak. Yang menjadi tantangan adalah edukasi di lingkungan keluarga dan kedisiplinan masyarakat. Penanganan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah, tetapi harus menjadi tanggung jawab bersama warga, pelaku usaha, pemangku kepentingan, dan instansi terkait," ujarnya.
Ia menilai kapasitas tempat pembuangan akhir (TPA) saat ini semakin terbebani karena hampir seluruh sampah langsung dikirim tanpa melalui proses pemilahan dan pengolahan lebih dahulu.
Selama ini, lanjut Samsul, AMPHIBI Jatim telah melakukan berbagai kegiatan mulai dari edukasi masyarakat, penanaman pohon, hingga membantu optimalisasi pengelolaan sampah di sejumlah tempat penampungan sementara (TPS).
Organisasi itu juga telah melakukan pendampingan di kawasan Gading Fajar melalui mediasi dengan pedagang kaki lima dan warga agar pengelolaan sampah menjadi lebih tertib.
Sebagai solusi, AMPHIBI menawarkan penggunaan mesin extruder yang ditempatkan di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). Melalui sistem itu sampah dipilah lebih dahulu dan hanya residu yang diolah menjadi pelet sebagai bahan bakar industri.
"Teknologi ini mampu mengurangi secara signifikan volume sampah yang dikirim ke TPA. Hasil akhirnya bukan lagi sampah, tetapi produk yang memiliki nilai ekonomis," jelas Samsul.
Ia menambahkan teknologi itu telah melalui kajian dan uji coba di Medan namun belum banyak diterapkan di Pulau Jawa. Selain menawarkan teknologi, AMPHIBI juga siap memberikan pendampingan dan pelatihan kepada petugas pengelola TPST agar alat dapat dioperasikan secara optimal.
Ke depan, usulan penerapan teknologi tersebut akan dituangkan dalam proposal yang akan disampaikan kepada Bupati Sidoarjo untuk dipelajari lebih lanjut. AMPHIBI berharap program itu dapat menjadi proyek percontohan pengelolaan sampah yang bisa diterapkan di daerah lain.
"Fokus kami bukan memproduksi alat, tetapi melakukan pendampingan dan edukasi kepada masyarakat maupun pengelola agar pengolahan sampah berjalan benar, bertanggung jawab, sekaligus memiliki nilai ekonomis," pungkasnya.
