Mojokerto Jadi Tuan Rumah Konferensi Sungai Indonesia

Mojokerto Jadi Tuan Rumah Konferensi Sungai Indonesia

Enggran Eko Budianto - detikJatim
Senin, 27 Jul 2026 16:15 WIB
Konferensi Sungai Indonesia (KSI) diikuti 500 anggota komunitas dari 15 provinsi di Mojokerto dan dihadiri langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup, Moh Jumhur Hidayat.
Konferensi Sungai Indonesia (KSI) diikuti 500 anggota komunitas dari 15 provinsi di Mojokerto dan dihadiri langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup, Moh Jumhur Hidayat. (Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim)
Mojokerto -

Mojokerto menjadi tuan rumah Konferensi Sungai Indonesia (KSI) yang diikuti 500 anggota komunitas dari 15 provinsi. Dalam konferensi ini, Menteri Lingkungan Hidup, Moh Jumhur Hidayat mengajak masyarakat merawat sungai menjadi sesuatu yang indah.

KSI berlangsung di wisata Sumber Gempong, Desa Ketapanrame, Trawas, Mojokerto ini berlangsung 25-27 Juli 2026. Konferensi bertema 'Merawat Sungai, Memulihkan Kehidupan' ini diikuti 500 anggota komunitas sungai dari 15 provinsi.

Puncak KSI hari ini dihadiri langsung Menteri Jumhur. Didampingi Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jatim, Adhy Karyono dan Wakil Bupati Mojokerto, dr M Rizal Octavian, ia menanam pohon di area wisata Sumber Gempong. Jumhur lantas mengecek langsung sejumlah mata air di wisata ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pemerintah, KLH sangat-sangat menghargai kegiatan ini. Kegiatan yang memang muncul dari bawah yang mereka sudah bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun membentuk komunitas di daerahnya masing-masing untuk memuliakan sungai. Yang tidak lain sebenarnya sungai itu bisa menjadi sumber kehidupan. Bahkan seluruh peradaban di dunia ini pasti akan terlihat terlacak dari jejak sungai," kata Jumhur kepada wartawan di lokasi, Senin (27/7/2026).

Jumhur mengaku terharu atas inisiatif komunitas-komunitas sungai yang 3 hari terakhir menggelar KSI di Bumi Majapahit. Ia bersyukur bisa menyerap berbagai aspirasi mereka melalui dialog interaktif. Ia berkomitmen akan merealisasikan permintaan dari komunitas senyampang sesuai dengan kewenangannya.

ADVERTISEMENT

"Mudah-mudahan kita bisa lebih menjadikan peradaban sungai itu menjadi peradaban yang dimulai lagi. Jangan kita membelakangi sungai, itu pesannya dalam pertemuan ini, tapi kita justru harus menjadikan sungai di hadapan kita menjadi sesuatu yang indah," terangnya.

Di hadapan Menteri Lingkungan Hidup, Komunitas Sungai Indonesia juga membacakan 8 poin deklarasi. Yaitu mendukung program tobat ekologis secara serentak, menyeluruh, sistematis dan berkelanjutan di wilayah kerja masing-masing komunitas dengan melibatkan masyarakat sekitar.

Deklarasi itu juga menyerukan pembentukan wadah nasional Komunitas Sungai Indonesia dan secara khusus memohon agar Menteri LH menjadi penasihat.

Konferensi Sungai Indonesia (KSI) diikuti 500 anggota komunitas dari 15 provinsi di Mojokerto dan dihadiri langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup, Moh Jumhur Hidayat.Konferensi Sungai Indonesia (KSI) diikuti 500 anggota komunitas dari 15 provinsi di Mojokerto dan dihadiri langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup, Moh Jumhur Hidayat. (Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim)

Selain itu, mereka juga mengajak dunia usaha menjadi bapak asuh Komunitas Sungai Indonesia. Melaksanakan kemitraan dengan pemerintah, institusi pendidikan, media, lembaga keuangan, masyarakat sipil untuk menyelamatkan sungai dan lingkungan secara berkelanjutan.

Mereka juga meminta pemerintah dan dunia usaha untuk terus mendukung terlaksananya Konferensi Sungai Indonesia mulai tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota. Mengedukasi masyarakat untuk tobat ekologis dengan menjaga kelestarian sungai dan lingkungan hidup.

Bukan hanya itu, mereka juga mengajak masyarakat menjadikan sungai sebagai halaman depan rumah. Terakhir, mereka siap melakukan penanaman 27 juta pohon dalam waktu 3 tahun. Kementerian Lingkungan Hidup juga menandatangani MoU dengan Pengurus Besar Federasi Arung Jeram Indonesia (PB FAJI).

"Para komunitas sungai yang selama ini membantu pemerintah untuk bersih-bersih sungai ini adalah pahlawan yang sejatinya untuk kelestarian lingkungan, terutama sungai dan air," ujar Sekdaprov Jatim, Adhy Karyono mengapresiasi KSI.

Adhy menjelaskan, 100 lebih sungai yang mengalir di Jatim mempunyai persoalan yang hampir sama. Yaitu sedimentasi dan sampah domestik. Pihaknya pun menjalin kerja sama dengan semua pihak untuk menyelamatkan dan melestarikan sungai di tengah terbatasnya kemampuan pemerintah.

"Kami buatkan SK khusus untuk tim patroli air. Artinya, teman-teman komunitas mempunyai tugas dan kewenangan dari negara untuk bisa bersama-sama. Ini wujud kerja sama kita untuk menyelamatkan dan melestarikan sungai kita," jelasnya.

Wabup Mojokerto, dr Rizal memandang KSI sebagai momentum yang tepat untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, akademisi, komunitas dan masyarakat dalam pengelolaan sungai yang berkesinambungan. Sebab sungai tak sekadar aliran air, tapi menjadi penopang ketahanan pangan dan sumber air bersih.

"Saya berharap ke depan kita bisa bersama-sama mewujudkan dan juga berkomitmen untuk pengelolaan sungai yang berkesinambungan itu sendiri dan juga bisa kita wariskan pada generasi yang sekarang maupun generasi yang berikutnya," tandasnya.



(auh/dpe)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads