Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti meminta penanganan dugaan paparan penyakit HIV yang menimpa sejumlah siswa di Kabupaten Sidoarjo dilakukan secara cepat dan terpadu oleh pemerintah daerah.
Menurut Abdul Mu'ti, penanganan teknis terhadap kasus tersebut merupakan kewenangan Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo. Sementara penjelasan yang lebih rinci mengenai aspek kesehatan menjadi ranah Kementerian Kesehatan.
Pernyataan tersebut disampaikan Abdul Mu'ti saat menghadiri peringatan Hari Anak Nasional 2026 yang dirangkai dengan seminar Gerakan Bersama Muhammadiyah Bersama Aisyiyah Peduli Anak yang diselenggarakan Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur di Sidoarjo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penanganan secara teknis menjadi wewenang Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan setempat. Adapun penjelasan yang lebih rinci terkait aspek kesehatan menjadi ranah Kementerian Kesehatan," ujar Abdul Mu'ti usai menghadiri puncak Hari Anak Nasional 2026 dalam Gerakan Bersama Muhammadiyah Bersama Aisyiyah Peduli Anak, Sabtu (25/7/2026).
Ia menegaskan, pemerintah pusat mendorong agar penanganan dilakukan secara cepat, tepat, dan terpadu sehingga kondisi para siswa dapat segera dipastikan dan ditangani sesuai prosedur.
Selain menyinggung kasus di Sidoarjo, Abdul Mu'ti menyampaikan pentingnya menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak, baik di rumah, sekolah, masyarakat, maupun ruang digital.
Menurutnya, penggunaan gawai yang tidak terarah dapat memunculkan berbagai dampak negatif, mulai dari paparan konten yang tidak mendidik, risiko eksploitasi anak secara intelektual, menurunnya kemampuan konsentrasi, hingga munculnya perilaku asosial dan penyimpangan susila.
Karena itu, ia mengajak orang tua dan guru untuk menjadi pendengar sekaligus pendamping utama bagi anak, bukan hanya memberi aturan.
"Suara anak harus didengar agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan berkualitas," katanya.
Abdul Mu'ti juga mendorong penyediaan ruang aktualisasi yang lebih luas bagi anak melalui kegiatan intelektual, sosial, spiritual, aktivitas fisik, dan interaksi langsung dengan teman sebaya guna mengurangi ketergantungan terhadap layar gawai.
