Sejumlah mal ikonik di Surabaya yang dipagari besi setinggi 2,5 meter secara serentak sempat memunculkan spekulasi warganet tentang antisipasi unjuk rasa terkait krisis ekonomi. Salah satu mal yang dipagari itu adalah Pakuwon Mall atau PTC (Pakuwon Trade Center) yang berada di Wiyung, Surabaya. Begini penampakan pagar besi tinggi itu.
Pantauan detikJatim, pagar kokoh berwarna hijau itu dipasang mengelilingi Pakuwon Mall. Pagar yang terbuat dari besi itu memiliki ujung lancip menjulang ke atas dan beberapa potongan kecil menghadap depan.
Hingga Rabu (22/7/2026) siang, pemasangan pagar itu masih berlangsung. Bahkan beberapa jalan yang biasa dipakai untuk mobil keluar dari Mal menuju jalan raya juga akan ditutup pagar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal itu terlihat dari adanya beton cor yang berfungsi sebagai fondasi pagar itu. Tampak juga sejumlah kawat berduri dipasang di sejumlah titik, salah satunya di tembok pembatas bekas jalan yang digunakan untuk mobil keluar menuju jalan raya.
Jodi, salah satu driver ojek online yang biasa mangkal di sekitar Pakuwon Mall mengatakan sebelum dibangun pagar pintu keluar sebelah timur yang menuju bundaran Jalan Mayjend Jonosewojo biasanya dipakai mobil keluar dari mall. Selain itu, para driver ojol juga menggunakan pintu itu sebagai akes masuk untuk antar jemput makanan.
"Udah 2 bulan ini kayaknya mulai dipagar. Tapi masih terbuka sedikit hanya untuk pejalan kaki. Biasanya pegawai PTC atau ojol kayak saya," kata Jodi, Rabu (22/7/2026).
Jodi tidak mengetahui pasti mengapa pihak Pakuwon Mall memasang pagar tinggi mengelilingi area mal. Sebab, selama ini mal terbesar di Surabaya itu menurutnya memang didesain tanpa pagar.
Pembangunan pagar tinggi mengelilingi salah satu mal di Surabaya masih berlangsung. (Foto: Jemmi Purwodianto/detikJatim) |
"Saya udah mangkal di sini 3 tahunan, selama ini tidak ada pagar. Apa mungkin mulai ramai jalanannya ya jadi dipagar?" Katanya.
Pemasangan pagar itu sempat memicu spekulasi dari warganet. Mulai dari isu krisis ekonomi nasional hingga ketakutan akan potensi penjarahan massal dan kerusuhan masif di pusat kota. Pihak manajemen Pakuwon Group akhirnya angkat bicara demi meluruskan isu liar yang telanjur menggelinding di dunia maya tersebut.
Menanggapi kepanikan dan narasi liar yang berkembang, Direktur Marketing Pakuwon Group, Sutandi Purnomosidi, langsung menepis isu-isu horor tersebut. Sutandi membeberkan alasan logis dan teknis di balik pemagaran di setiap titik mal yang ternyata memiliki urgensi berbeda-beda.
Untuk kawasan Pakuwon Mall di Surabaya Barat, pembangunan pagar erat kaitannya dengan infrastruktur jalan baru di sekitar area tersebut. Keberadaan pembatas fisik dinilai penting untuk melindungi keselamatan para pejalan kaki dari arus kendaraan yang melintas.
"Awalnya mungkin yang di Pakuwon Mal, ya. Itu kan karena Radial Road baru saja dibangun. Jadi kami mengantisipasi terjadinya kecelakaan, terutama bagi pengunjung yang berjalan kaki ke mal," kata Sutandi saat dihubungi wartawan.
Sementara, untuk proyek pemagaran di Royal Plaza dan Pakuwon City Mall, Sutandi menjelaskan bahwa pembongkaran dilakukan karena fasilitas pagar lama dinilai sudah tidak layak dan berumur hampir sepuluh tahun.
Karena waktu pengerjaan yang berdekatan, manajemen memutuskan untuk memperbarui pagar-pagar itu secara bersamaan menggunakan material yang jauh lebih kokoh.
"Besinya sudah keropos. Jadi kami ganti dengan bahan pagar yang lebih kokoh. Karena waktu pemasangannya memang hampir berdekatan, ya kami rencanakan untuk bangun bersama. Termasuk yang di Pakuwon City Mall," pungkasnya.

