Nyeri Dada Menjalar ke Punggung Bisa Jadi Tanda Bahaya, Segera ke IGD!

Nyeri Dada Menjalar ke Punggung Bisa Jadi Tanda Bahaya, Segera ke IGD!

Hilda Meilisa Rinanda - detikJatim
Jumat, 17 Jul 2026 11:31 WIB
Ilustrasi emergency aorta
Ilustrasi emergency aorta/Foto: Istimewa
Surabaya -

Nyeri hebat yang muncul mendadak di dada hingga menjalar ke punggung, tidak selalu menandakan serangan jantung. Keluhan tersebut juga dapat menjadi gejala diseksi aorta, yakni robekan pada aorta atau pembuluh darah utama yang mengalirkan darah dari jantung ke seluruh tubuh.

Kondisi ini tergolong kegawatdaruratan medis karena dapat mengganggu aliran darah ke organ-organ vital, memicu perdarahan internal, hingga mengancam nyawa jika tidak segera ditangani di instalasi gawat darurat (IGD).

Dokter Spesialis Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular Konsultan dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Dicky Alligheri Sp.BTKV(K) menjelaskan, gejala diseksi aorta kerap menyerupai serangan jantung sehingga sering terlambat dikenali.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

"Kondisi gawat darurat diseksi aorta perlu mendapat penanganan segera, dilakukan pemeriksaan klinis, dan pencitraan untuk melihat kondisi pembuluh darah secara detail. Selanjutnya, tindakan akan disesuaikan dengan lokasi robekan dan kondisi pasien, mulai dari pengendalian tekanan darah secara ketat, bedah minimal invasif pada pembuluh darah (endovaskular), hingga operasi darurat," terang dr. Dicky.

Menurutnya, keterlambatan diagnosis maupun penanganan dapat meningkatkan risiko kematian. Karena itu, pasien yang mengalami gejala mengarah ke diseksi aorta harus segera dievaluasi oleh tim medis yang berpengalaman.

Senada, Dokter Spesialis Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular Konsultan Mayapada Hospital Surabaya, dr. Yan Efrata Sembiring, Sp.B, Sp.BTKV(K), mengatakan diseksi aorta umumnya ditandai nyeri yang sangat tajam seperti robekan pada dada.

"Diseksi aorta dapat menimbulkan nyeri tajam seperti robekan atau terbelah pada dada yang dapat menjalar ke punggung, perut, atau pinggang. Keluhan ini dapat disertai keringat dingin, sesak napas, pingsan, kelemahan satu sisi tubuh, gangguan bicara, hingga perbedaan denyut dan tekanan darah antara kedua lengan," jelas dr. Yan.

Selain mengenali gejalanya, masyarakat juga diimbau memahami faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko diseksi aorta.

"Diseksi aorta lebih berisiko terjadi pada orang dengan hipertensi, pembesaran aorta, kelainan jantung bawaan, penyakit jaringan tubuh, riwayat keluarga, cedera, atau usia lanjut. Namun, kondisi ini juga dapat terjadi tanpa faktor risiko yang jelas. Karena itu, pengendalian faktor risiko dan perubahan gaya hidup sangat penting untuk mencegah diseksi aorta," tambah dr. Yan.

Untuk menangani kasus kegawatdaruratan jantung, Mayapada Hospital menyediakan layanan Cardiac Emergency selama 24 jam dengan dukungan dokter spesialis, perawat, dokter anestesi siaga, serta fasilitas Cath Lab untuk membantu proses diagnosis dan tindakan secara cepat.

Selain itu, rumah sakit tersebut juga memiliki layanan Chest Pain Unit untuk pemeriksaan awal pasien dengan keluhan nyeri dada. Penanganan penyakit jantung dilakukan melalui Cardiovascular Center, yang mencakup layanan pencegahan, diagnosis, tindakan intervensi, bedah jantung, hingga rehabilitasi dengan dukungan tim multidisiplin dan teknologi medis.



(dpe/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads