49 SD di Tulungagung Hanya Dapat Murid Kurang dari 3 Anak

49 SD di Tulungagung Hanya Dapat Murid Kurang dari 3 Anak

Adhar Muttaqin - detikJatim
Rabu, 15 Jul 2026 23:15 WIB
Kasi Kelembagaan Bidang SD Dinas Pendidikan Tulungagung, Rifka Zuyun Umadah
Kasi Kelembagaan Bidang SD Dinas Pendidikan Tulungagung, Rifka Zuyun Umadah. (Foto: Adhar Muttaqin/detikJatim)
Tulungagung -

Dinas Pendidikan (Diknas) Tulungagung mencatat 49 satuan pendidikan sekolah dasar (SD) kurang diminati siswa baru. Bahkan empat di antaranya sama sekali tidak mendapatkan siswa.

Kasi Kelembagaan Bidang SD Dinas Pendidikan Tulungagung, Rifka Zuyun Umadah mengatakan dari 634 lembaga pendidikan dasar, hanya 70 SD yang mampu memenuhi pagu.

"Ada 564 satuan pendidikan di bawah pagu normal atau 88,96 persen," kata Zuyun, Rabu (15/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya kondisi paling parah dialami oleh 49 lembaga karena mendapatkan siswa baru kurang dari tiga siswa. Puluhan sekolah tersebut secara sporadis tersebar hampir di seluruh kecamatan di Tulungagung.

"Untuk yang tidak mendapatkan siswa baru ada empat SD, yaitu SD Negeri 1 Tenggong Kecamatan Rejotangan, SD swasta Ndlodo Kecamatan Pucanglaban, SD Negeri 4 Besuki Kecamatan Besuki, dan SD Negeri 5 Bungur Kecamatan Karangrejo," lanjutnya.

ADVERTISEMENT

Menurutnya SDN 1 Tenggong telah dua tahun terakhir tidak mendapatkan siswa baru, sedangkan SD Dlodo memilih untuk menutup lembaganya karena minim peminat dan kondisi kesehatan kepala sekolah yang menurun.

"Kalau untuk SDN 4 Besuki dan SDN 5 Bungur baru tahun ini tidak dapat murid," jelasnya.

Dinas Pendidikan juga mencatat puluhan sekolah lain juga mengalami krisis siswa baru. Empat lembaga hanya mendapatkan masing-masing satu siswa, yaitu SD Negeri 3 Kalidawir, SDN 3 BabadanSDN 2 Sembon dan SDN 4 Punjul.

"Kemudian ada 12 SD yang hanya mendapatkan dua siswa, yaitu SD Negeri 2 PlandaanSD Negeri Pucung, SDN 2 Semanding, SDN 4 Pucanglaban, SDN 5 Pucanglaban, SD Negeri 4 Tanggunggunung, SDN 1 Ngunggahan, SDN 2 Sebalor, SDN 3 Talunkulon, SDN 4 Ngunggahan, SDN 3 Tanggulwelahan dan SDN 2 Tanjungsari," jelas Zuyun.

Sementara sekolah dasar negeri dan swasta yang mendapatkan 3 siswa sebanyak 29 lembaga. Satuan pendidikan tersebut tidak hanya berada di wilayah pinggiran. Namun, sebagian juga berada di wilayah perkotaan.

"Faktor demografi menjadi salah satu penyebab. Angka kelahiran menurun sehingga lulusan TK juga menurun. Dilihat dari jumlah lulusan SD juga turun dari sekitar 13 ribu, tahun ini menjadi 11 ribu siswa," ujarnya.

Persaingan antarsekolah juga memengaruhi pilihan masyarakat. Namun, Rifka menegaskan minimnya jumlah murid baru bukan berarti kualitas sekolah rendah ataupun kegagalan pelaksanaan SPMB.

"Ini bukan gagalnya SPMB. Pemerintah terus meningkatkan kualitas pendidikan melalui perbaikan sarana prasarana, pemberian papan interaktif digital, revitalisasi sekolah, hingga peningkatan kompetensi guru. Hanya saja masih ada persepsi masyarakat yang memilih sekolah tertentu," jelasnya.

Dindik Tulungagung akan mengevaluasi sekolah-sekolah yang tidak memperoleh siswa untuk mengetahui penyebab pasti dan menentukan langkah penanganan selanjutnya.

"Kalau untuk rencana merger masih belum ada, tapi kalau analisanya mengarah merger bisa jadi," imbuhnya.

Kata Zuyun untuk sekolah yang tidak mendapatkan siswa akan berpengaruh terhadap guru kelas pengampu karena tidak akan mendapatkan tunjangan sertifikasi pendidik.

"Kalau guru kelas ya minimal 1 siswa," jelasnya.



(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads