Kisah Adhyaksa di Surabaya Berternak Murai Batu Jawara Lintas Negara

Kisah Adhyaksa di Surabaya Berternak Murai Batu Jawara Lintas Negara

Praditya Fauzi Rahman - detikJatim
Senin, 13 Jul 2026 15:15 WIB
Jaksa Kejari Surabaya Arista Gandhi  saat menunjukkan koleksi dan siswa di Sekolah Burung Mastering kepada detikJatim di kawasan Tanggulangin Sidoarjo
FJaksa Kejari Surabaya Arista Gandhi saat menunjukkan koleksi dan siswa di Sekolah Burung Mastering kepada detikJatim di kawasan Sidoarjo/Foto: Praditya Fauzi Rahman/detikJatim
Surabaya -

Di balik kesibukannya sebagai staf Pidana Umum (Pidum) Kejaksaan Negeri Surabaya, Arista Gandhi memiliki aktivitas lain yang tak kalah menarik. Pria yang akrab disapa Mas Gandhi itu sukses mengembangkan penangkaran sekaligus sekolah mastering burung murai batu yang kini diminati penghobi dari berbagai daerah hingga mancanegara.

Rutinitasnya mengawal tahanan dan bertugas di lingkungan kejaksaan, berbanding terbalik dengan hobinya merawat burung berkicau. Namun, dari hobi tersebut, Gandhi justru membangun sebuah usaha yang terus berkembang dan menjadi sumber penghasilan tambahan.

Perjalanan Gandhi di dunia burung tidak berlangsung instan. Ketertarikannya bermula pada 2008 saat masih memelihara ikan hias. Setelah itu, ia beralih memelihara lovebird hingga akhirnya jatuh hati pada murai batu pada 2015.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lulusan ekonomi itu melihat hobi bukan sekadar pelepas penat dari rutinitas pekerjaan, tetapi juga peluang bisnis yang menjanjikan. Berbekal indukan murai berprestasi serta perhitungan bisnis yang matang, ia berhasil mengembangkan usaha penangkaran yang kini terus berkembang.

ADVERTISEMENT
Jaksa Kejari Surabaya Arista Gandhi  saat menunjukkan koleksi dan siswa di Sekolah Burung Mastering kepada detikJatim di kawasan Tanggulangin SidoarjoJaksa Kejari Surabaya Arista Gandhi sukses bisnis murai Foto: Praditya Fauzi Rahman/detikJatim

Saat ini Gandhi mengelola 16 kandang penangkaran yang tersebar di dua lokasi, yakni enam kandang di Sidoarjo, Jawa Timur, dan 10 kandang di Purwodadi, Jawa Tengah.

Untuk memaksimalkan produktivitas indukan berkualitas, ia menerapkan sistem ternak poligami. Satu pejantan dikawinkan dengan dua hingga tiga betina.

Menurut Gandhi, seluruh pejantan yang menjadi indukan merupakan burung-burung jawara yang telah menorehkan prestasi di berbagai lomba. Begitu pula indukan betinanya yang berasal dari trah juara.

Tak berhenti di penangkaran, sekitar setahun terakhir Gandhi juga mendirikan sekolah mastering murai batu. Sekolah tersebut diperuntukkan bagi anakan, murai remaja, hingga burung dewasa yang ingin meningkatkan kualitas kicauannya.

Berbeda dengan sekolah mastering pada umumnya, Gandhi mengaku tidak menggunakan audio digital sebagai media pembelajaran.

"Banyak pemain murai yang menggunakan mesin dan itu hasilnya tidak maksimal. Apabila menggunakan MP3 dan YouTube dibanding dengan metode saya menggunakan burung asli, saya jamin hasilnya jauh lebih maksimal dan sudah terbukti, saya tidak pernah seperti itu (menggunakan MP3/YouTube) untuk pemasteran," kata Gandhi saat ditemui detikJatim sembari menunjukkan guru vokal Kolibri Ninja, Minggu (12/7/2026).

Di sekolah tersebut, burung murai ditempatkan sesuai zonasi. Di bagian tengah terdapat deretan burung masteran yang bertugas menjadi "guru vokal".

Jenisnya pun beragam, mulai cucak cungkok, sogon, konin, kinoi, cendet, lovebird, perkici, parkit, serindit, jalak suren, cucak jenggot, kapas tembak, rambatan paruh merah hingga siri-siri.

"Total ada sekitar 60 ekor burung yang meramaikan sekolah saya ini," imbuh Gandhi.

Fasilitas Premium hingga Garansi Kematian

Agar usaha tersebut tetap berjalan tanpa mengganggu pekerjaannya sebagai aparatur penegak hukum, Gandhi mempercayakan operasional harian kepada tenaga perawat yang berpengalaman.

Sekolah mastering miliknya dilengkapi berbagai fasilitas, mulai CCTV selama 24 jam, standar kebersihan yang ketat, hingga pengaturan nutrisi dan kalsium secara rutin.

Salah satu metode yang diklaim menjadi pembeda adalah pemberian minyak ikan secara berkala untuk membantu merangsang perkembangan otak burung sehingga lebih cepat menyerap materi suara dari burung master.

Selain itu, pemilik burung juga memperoleh laporan perkembangan secara berkala sebanyak dua kali dalam sepekan.

Tak hanya itu, Gandhi menawarkan garansi yang jarang ditemui di sekolah mastering lain.

"Kalau ada pembeli memboyong anakan dari penangkaran saya dan langsung melanjutkan sekolah mastering selama masa tempuh 7 bulan, saya juga akan memberikan proteksi penuh. Apabila pada bulan ke-4 burung meninggal, saya akan menggantinya dengan anakan baru secara gratis, lengkap dengan kompensasi biaya SPP 4 bulan yang tidak hangus," terang Gandhi.

Untuk burung anakan, biaya sekolah dipatok Rp 400 ribu per bulan. Sementara murai remaja maupun dewasa dikenakan tarif Rp 500 ribu per bulan.

Burung anakan umumnya menjalani pendidikan selama enam hingga tujuh bulan, sedangkan burung remaja atau dewasa sekitar tiga hingga empat bulan.

Jaksa Kejari Surabaya Arista Gandhi  saat menunjukkan koleksi dan siswa di Sekolah Burung Mastering kepada detikJatim di kawasan Tanggulangin Sidoarjosiswa di Sekolah Burung Mastering kepada detikJatim di kawasan Tanggulangin Sidoarjo Foto: Praditya Fauzi Rahman/detikJatim

Lulus Setelah Juara Lomba

Menurut Gandhi, kelulusan siswa murai tidak hanya ditentukan dari lamanya mengikuti sekolah. Burung akan diuji melalui perlombaan resmi saat berusia sekitar delapan hingga sembilan bulan.

Jika mampu tampil baik, burung akan dinyatakan lulus dan memperoleh sertifikat.

Salah satu siswa milik pengacara asal Surabaya bernama Martin bahkan berhasil meraih juara pertama pada penampilan perdananya di kelas remaja saat baru berusia tujuh bulan.

"Baru-baru ini, ada yang berhasil menyabet juara 1 pada penampilan perdana di kelas remaja saat usianya menginjak 7 bulan, Mas. Tapi, statusnya belum resmi lulus," tutur Gandhi.

Reputasi penangkaran Gandhi membuat pasarnya terus meluas. Anakan murai usia satu bulan dibanderol mulai Rp 3 juta hingga Rp 7,5 juta.

Menurut Gandhi, konsumennya tidak hanya berasal dari Jawa Timur maupun luar pulau. Banyak pembeli berasal dari Indonesia yang bekerja atau berdomisili di luar negeri, seperti Taiwan, Jepang, Korea hingga Afrika.

Tak sedikit pelanggan yang langsung menyekolahkan burung hasil penangkarannya di sekolah mastering milik Gandhi. Karena tingginya permintaan, calon pembeli harus mengantre terlebih dahulu. Pada Juli 2026 saja, daftar tunggu telah mencapai lebih dari 20 orang.

Bagi Gandhi, usaha yang dibangunnya bukan semata mencari keuntungan. Ia ingin membuktikan bahwa hobi dapat menjadi sumber penghasilan yang halal tanpa harus menyalahgunakan jabatan sebagai aparatur negara.

"Ini semua berawal dari hobi dan kebetulan saya lulusan ekonomi, saya banyak melihat peluang di burung ini dan saya tidak ingin menyalahgunakan pekerjaan saya untuk mencari keuntungan dengan cara yang salah," ungkap dia.

Baginya, usaha penangkaran dan sekolah mastering murai menjadi cara untuk tetap produktif sekaligus menjaga integritas sebagai insan Adhyaksa. Dari hobi yang ditekuni secara serius, Gandhi tak hanya mencetak burung-burung berprestasi, tetapi juga membangun usaha yang kini menjangkau pasar lintas daerah hingga mancanegara.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "MAMA Lime Green Day Fest 2026, Ajak Hidup Sehat Bareng di Surabaya"
[Gambas:Video 20detik] (auh/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads